Dalam urusan kepentingan ekonomi, hubungan antara masyarakat dengan korporasi sering saling bertentangan. Salah satu contohnya konflik antara masyarakat Pangkalan Susu dengan korporasi pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di daerah mereka. Masyarakat menganggap pengoperasian PLTU telah menyebabkan kerusakan lingkungan, yang akibatnya berdampak buruk ke penghasilan dan kesehatan mereka. Penelitian dilakukan untuk menggali pengalaman masyarakat Pangkalan Susu dalam menghadapi dampak buruk pengoperasian PLTU tersebut. Sampling purposif digunakan untuk merekrut informan. Menggunakan pendekatan analisis fenomenologis interpretatif, dilakukan wawancara mendalam kepada tiga informan. Ditemukan bahwa ketidakhadiran negara dalam konflik ini membuat masyarakat makin terpuruk. Padahal Indonesia, sebagai negara kesejahteraan, perlu melindungi rakyatnya dari pengaruh buruk kapitalisme. Apalagi mayoritas masyarakat Pangkalan Susu bergantung pada alam: jika alam mereka rusak, maka penghasilan mereka juga hilang. Artikel ini ingin menjelaskan pentingnya kehadiran negara dalam konflik antara masyarakat vs. korporasi—terutama untuk melindungi masyarakat sebagai kelompok yang lebih lemah.