Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN NASIONALISME PADA AWAL KEBANGKITAN NASIONAL DALAM NOVEL BUMI MANUSIA DAN ANAK SEMUA BANGSA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Assahab, Achmal; Erawati, Meri; Junaidi, Juliandry Kurniawan
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 3 No. 2 (2023): Ruang Lingkup Pendidikan Sejarah dan Kesejarahan Indonesia
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jejak.v3i2.24874

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang "Gambaran Nasionalisme Pada Awal Kebangkitan Nasional Dalam Novel Bumi Manusia Dan Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer”. Untuk memudahkan penelitian ini maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimana gambaran terbentuknya Nasionalisme pada awal kebangkitan Nasional. (2)Bagaimana wujud Nasionalisme yang digambarkan dalam novel bumi manusia dan anak semua bangsa. Tujuan penelitian ini adalah (1)Mendeskripsikan Bagaimana gambaran terbentuknya Nasionalisme pada awal kebangkitan Nasional dalam novel bumi manusia dan anak semua bangsa Toer. (2) Mendeskripsikan Bagaimana wujud Nasionalisme yang digambarkan dalam novel bumi manusia dan anak semua bangsa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode sejarah terdiri dari empat tahap yaitu: Metode sejarah terdiri dari.empat tahap yaitu: (1)Heuristik. (2)Kritik Sumber. (3)Interpretasi. (4)Historiografi. Untuk keseluruhan, kedua novel Pramoedya Ananta Toer ini didominasi oleh Kolonialisme Belanda, perjuangan Minke dan Nyai Ontosoroh melawan diskriminasi terhadap pribumi pada awal abad ke 20. Meskipun didominasi oleh peristiwa sejarah, novel ini masih mempertahankan ciri khas suatu novel. Di beberapa bagian dalam novel ada hal yang sengaja ditambahkan dan sengaja dikurangi agar tidak membosankan pembaca. Fakta-fakta sejarah yang terdapat di dalam novel dengan ciri khas karya sastra dan di gabungkan dengan gaya fiksi pada novel.
Implementation of Social Forestry in Nagari Gunung Selasih, Dharmasraya Regency, West Sumatra Province Assahab, Achmal; Elvawati; Zulfa
International Journal of Educational Research Excellence Vol. 5 No. 1 (2026): January-June
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/ijere.v5i1.1812

Abstract

Indonesia’s social forestry policy aims to reconcile forest conservation with community welfare through legal access and community-based forest management. This article analyses the implementation of the Minister of Environment and Forestry Regulation (Permen LHK) No. 9/2021 on Social Forestry in Nagari Gunung Selasih, Dharmasraya District, West Sumatra. This study focuses on the roles of key actors, the implementation of social forestry schemes, their contributions to local livelihoods, and the main constraints faced. Using a qualitative descriptive design within a constructivist paradigm, data were collected through document analysis and in-depth interviews with government officials, social forestry group leaders, and community members, as well as non-participant observations of four Social Forestry Business Groups (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial): KUPS Kopi Sungai Lomak, KUPS Randang Paku Rangkito, KUPS Trigona Gunung Selasih, and KUPS Ekowisata Ngalau Sungai Suko. The findings show that the Forest Management Unit (KPHP) acts as a facilitator, regulator, and technical advisor, whereas KUPS operationalize livelihood diversification through non-timber forest products and environmental services. Social forestry generates supplementary income, strengthens local institutions, and reinforces cultural values but is constrained by limited capacity, capital, infrastructure, and latent conflicts. This article argues that sustained multi-actor collaboration is essential for transforming legal access into durable socio-ecological benefits.