Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Application of Virtual Reality (VR) in the Contemporary Dance Work “Sabitah Eternity” Dwi Prakasa, M Aqsal; Novalinda, Sherli; Sukri, Ali
Melayu Arts and Performance Journal Vol 7, No 1 (2024): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v7i1.4803

Abstract

 Penerapan Virtual Reality (Vr) dalam  Karya Tari Kontemporer “ Sabitah Eternity ”  SABITAH ETERNITY's work is a dance work that tries to be a bridge to connect education to the audience watching this work. The aim is to increase theaudience's sense of empathy and social towards those who are trying to adapt to an era that is often considered an issue that until now is still not very popular. is heavily questioned as a complicated social phenomenon, in this case the Talang Mamak tribe and its Bedukun Balai Terbang treatment rituals. The artist tries to convey how the Talang Mamak people and their healing rituals can go through various situations and conditions towards modern times and adapt in it. This is for the sake of the continuity of culture and community groups, as well asphase of change and response of the Bedukun Balai Terbang ritual performers. In this case the negotiating body of tribal society towards the present era. The use of expression and technology as a medium of communication means that we never know what everyone is feeling. The use of Virtual Reality technology is something new in a form of dance performance that conveys a lot of the content that the artist wants to convey. ABSTRAKKarya SABITAH ETERNITY salah satu karya tari yang mencoba menjadi jembatan penyambung edukasi terhadap audience yang menyaksikan pertunjukan karya ini, bertujuan agar dapat meningkatkan rasa empati dan sosial penonton terhadapmereka yang sedang mencoba beradaptasi dengan zaman yang sering dianggap sebagai isu yang sampai saat ini masih tidakterlalu gencar dipermasalahkan sebagai fenomena sosial yang rumit, dalam hal ini suku Talang Mamak dan ritualpengobatan Bedukun Balai Terbangnya. Pengkarya mencoba menyampaikan bagaimana masyarakat Talang Mamak dan ritual pengobatannya dapat melewati berbagai situasi dan kondisi menuju masa modern dan beradaptasi di dalamnya. Hal itu demi keberlangsungan budaya dan kelompok masyarakatnya, serta fase perubahan dan respon pelaku ritual BedukunBalai Terbang. Dalam hal ini negosiasi tubuh masyarakat suku terhadap era sekarang. Penggunaan ekspresi dan teknologisebagai media komunikasi, bahwa kita tidak pernah tau apa yang dirasakan setiap orang. Penggunaan teknologi Virtual Reality menjadi suatu hal baru dalam suatu bentuk pertunjukan tari yang banyak menyampaikan isi yang ingin disampaikan pengkarya. 
KARYA TARI “IDENTITAS YANG TERKIKIS” INTERPRETASI DARI AKTIVITAS PEREMPUAN DALAM PROSESI MAANTAAN TANDO DI KOTA PARIAMAN Maidarlita, Serla Putri; Loravianti, Susas Rita; Sukri, Ali; Metro, Wardi
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.395

Abstract

Karya tari “Identitas Yang Terkikis” terinspirasi dari fenomena sosial budaya yang ada di Dusun Ps. Hilalang, Desa Taluk, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman yaitu Tradisi Maantaan Tando. Tradisi Maantaan Tando merupakan sebuah tradisi pernikahan yang merajuk pada simbol atau tanda pengikat yang diberikan dari pihak keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki sebagai bentuk pertunangan resmi. Tradisi ini bertujuan untuk menjaga silahturahmi antara kedua belah pihak., tradisi ini juga mengandung nilai kebersamaan, kegembiraan, gotong-royong dan saling tolong-menolong. Dari fenomena tersebut, pengkarya menerjemahkannya ke dalam bentuk koreografi berkelompok yang ditampilkan di Auditorium Boestanul Arifin Adam Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Karya yang terbagi dalam tiga bagian ini ditampilkan oleh tujuh orang penari perempuan. Rias busana yang digunakan yaitu rias cantik panggung dan busana baju kurung kreasi berwarna crem dengan bawahan kain sarung pada bagian satu, baju kurung kreasi berwarna warni dengan celana longgar berwarna putih pada bagian dua. Metode yang digunakan dalam penggarapan karya ini adalah riset, rancangan konsep, alat perwujudan karya, kerja studio, dan konsep pertunjukan.
Penciptaan Karya Tari “Gara-Gara” Terinspirasi Dari Pandangan Masyarakat Terhadap Perilaku Sebagian Mahasiswa Dalam Pergaulan Gita Irawan, Esika; Sukri, Ali; Wahyuni, Wahida
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Gara-gara berangkat dari pandangan masyarakat terhadap perilaku mahasiswa di kampus Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Karya tari Gara-gara merupakan karya tari kontemporer ditarikan secara berpasangan dengan tipe abstrak dengan tema sosial. Dalam penggarapanya karya ini dikolaborasikan dengan teknik-teknik tari yang sudah dipelajari diperkuat dengan unsur unsur koreografi. Metode yang digunakan memakai teori dari Alma M. Hawkins yaitu observasi lapangan, eksplorasi, improvisasi, komposisi dan evaluasi. Selain dari ungkapan gerak dalam penyampaian isi karya diperkuat pula dengan menggunakan bubuk warna hitam sebagai simbol tentang pengaruh negatif dari mahasiswa yang dipandang buruk oleh masyarakat. Musik tari yang digunakan dibuat dari teknologi komputer untuk mendukung suasana garapan. Karya tari ini memberikan pesan tentang pentingnya memilih teman yang baik dalam pergaulan agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak baik yang keluar dari tatanan norma dalam masyarakat.
Garapan Tari “Akegh Cahayegh”: Representasi Budaya Ritual Pengobatan Tolak Bala Suku Talang Mamak, Desa Gedabu Suvina, Suvina; Martion, Martion; Sukri, Ali
Dance and Theatre Review Vol 3, No 2: November 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.275 KB) | DOI: 10.24821/dtr.v3i2.4421

Abstract

The Creation of "Akegh Cahayegh" Dance: The Culture Representation of Medicinal Ritual on Calamity Reversal of Talang Mamak Tribe, Gedabu Village. The Talang Mamak tribe is a group of people included in the KAT category (Remote Indigenous Community), which is another name for the Tribe of Anak Dalam. The Talang Mamak tribe belongs to the Proto Melayu group. The Talang Mamak tribe's life inspires this source of work in the neighborhood where the workmen live. The craftsmen were very interested in the Mahligai treatment (Tolak Bala), which was located in the inland tribal area of Talang Mamak, Gedabu village in Rakit Kulim sub-district—inspired to work on this culture to survive in today's life. The craftsmen certainly feel proud when this culture is preserved and displayed with new cultivation (innovation) without leaving the medicinal ritual's distinctive features. This work was worked on with the results of the interpretation and imagination of the writer. The values contained in this work are the values of loyalty, obedience, and togetherness. The implicit message conveyed is that the development and change of time is not a barrier for the inland tribe of Talang Mamak, Gedabu village to carry out rituals and preserves ceremony, namely the treatment of Mahligai Tolak Bala as a ritual of cleaning the village.Keywords: preserving culture; obeying; togetherness