Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Maltodekstrin terhadap Karakteristik Fisikokimia Minuman Instan Buah Nangka (Artocarpus integra) Amelia, Dwi Cahyani; Dahlan, Sakinah Ahyani; Bait, Yoyanda; Nalole, Jihan Alqirah; Ali, Annastasya Amalia R.
Prosiding Seminar Nasional Mini Riset Mahasiswa Vol 2, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serbuk minuman instan merupakan produk olahan yang mudah dan membutuhkan waktu yang singkat dalam penyajiannya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memanfaatkan pangan hortikultura yakni buah nangka dalam pembuatan serbuk minuman instan, namun pembuatan minuman instan melewati proses pemgkristalan sehingga karakteristik akan menurun sehingga dilakukan penambahan maltodekstrin. Adapun metode penelitian yang dilakukan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yakni penambahan konsentrasi maltodekstrin 0%, 5%, 10% dan 15% dan diuji vitamin C, derajat keasaman (pH), Total Padatan Terlarut,  waktu larut dan organoleptik. Hasil yang didapatkan dari pengujian tersebut penambahan konsentrasi maltodekstrin 0% menghasilkan nilai vitamin C sebesar 2,54 mg/100, nilai ph sebesar 6,15, nilai total padatan terlarut 26,5obrix, waktu larut 02:07 menit, penerimaan rasa, aroma, warna dan tekstur berturut-turut adalah 4,00, 4,20, 4,73, dan 4,00, penambahan konsentrasi maltodekstrin 5% menghasilkan nilai vitamin C sebesar 5,13 mg/100 nilai ph sebesar 5,95, nilai total padatan terlarut 28obrix, waktu larut 01:08 menit, penerimaan rasa, aroma, warna dan tekstur berturut-turut adalah 4,07, 4,27, 4,87, dan 4,07, penambahan konsentrasi maltodekstrin 10% menghasilkan nilai vitamin C sebesar 3,52 mg/100, nilai ph sebesar 5,85, nilai total padatan terlarut 31,5obrix, waktu larut 00:45 detik, penerimaan rasa, aroma, warna dan tekstur berturut-turut adalah 4,13, 4,33, 5,13, dan 4,13 dan  penambahan konsentrasi maltodekstrin 15% menghasilkan nilai vitamin C sebesar 3,91 mg/100, nilai ph sebesar 5,7, nilai total padatan terlarut 34obrix, waktu larut 00:18 detik, penerimaan rasa, aroma, warna dan tekstur berturut-turut adalah 4,20, 4,40,  4,93 dan  4,27.
Pengaruh Penyimpanan pada Suhu Ruang dan Suhu Dingin terhadap Karakter Fisik Pisang Dahlan, Sakinah Ahyani; Saman, Widya Rahmawaty; Limonu, Marleni; Panggi, Husain; Amelia, Dwi Cahyani
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v9i1.1342

Abstract

Penyimpanan produk pertanian berupa pisang dapat dilakukan untuk mencegah penurunan kualitas sebelum pemasaran, mencegah pasokan berlebihan ke pasar, dan memperpanjang periode pemasaran komoditas pisang. Umumnya pisang mengalami kerusakan akibat pola respirasi yang terjadi pada setiap produk pangan khususnya komoditi hortikultura yang diakibatkan oleh pematangan sel terutama setelah komoditi tersebut dipanen. Penanganan pascapanen pada komoditi buah segar membutuhkan teknik yang baik mengingat buahan segar merupakan produk yang lebih sensitif dibandingkan produk lain, karena nilai kadar air yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu ruangan dan suhu dingin terhadap karakteristik fisik pisang Barangan, pisang Uli, pisang Kepok, dan pisang Goroho. Penelitian ini dianalisis dengan metode deskriptif menggunakan 4 jenis pisang yang berbeda selama penyimpanan 10 hari pada 2 suhu yang berbeda yaitu suhu dingin dan suhu ruangan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah karakteristik fisik seperti penampilan visual pisang pada suhu penyimpanan ruangan mengalami penurunan warna lebih cepat dibandingkan dengan penyimpanan pada suhu dingin. Hasil lainnya adalah penurunan berat pisang yang disimpan pada suhu ruangan diketahui lebih tinggi dibandingkan dengan pisang yang disimpan pada suhu dingin. Data mengenai diameter pisang menunjukkan bahwa yang disimpan pada suhu ruangan menurun lebih rendah dibandingkan pada suhu dingin. Perubahan rasa pisang yang disimpan pada suhu ruangan lebih cepat dibandingkan pada suhu dingin.