Kondisi saat ini menunjukkan bahwa minat baca siswa, terutama di tingkat sekolah dasar, masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan banyak anak lebih memilih mengakses konten media sosial dan hiburan digital ketimbang membaca buku, serta terjadi penurunan dalam kunjungan ke perpustakaan. Rendahnya minat baca ini berdampak negatif pada perkembangan kognitif, prestasi akademik, serta kemampuan mereka dalam memahami informasi kompleks di masa depan. Padahal, minat baca yang tinggi terbukti memiliki hubungan erat dengan hasil belajar yang baik. Minat baca dapat diartikan sebagai kecenderungan yang kuat disertai rasa senang dan keinginan untuk membaca, yang berperan penting dalam meningkatkan kemampuan menulis, berbicara, serta membentuk karakter siswa. Berbagai faktor memengaruhi minat baca, baik dari aspek internal seperti motivasi, kebiasaan, dan kesehatan, maupun dari aspek eksternal seperti kualitas fasilitas perpustakaan, bahan bacaan, dukungan guru, peran orang tua yang minim, dan dampak teknologi. Upaya untuk meningkatkan minat baca dapat dilakukan melalui metode praktis di sekolah, antara lain dengan mengoptimalkan perpustakaan, memilih bahan bacaan yang menarik, membiasakan membaca, melaksanakan program literasi, menyelenggarakan lomba, serta memanfaatkan literasi digital. Pengembangan minat baca harus dilakukan secara berkelanjutan, melibatkan kolaborasi antara orang tua, guru, dan pustakawan, serta menyediakan akses yang memadai terhadap bahan bacaan dan lingkungan membaca yang nyaman, sehingga dapat terlahir generasi yang gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang luas.