Gusti, Hyang Kinasih
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perspektif Hukum Keluarga Islam tentang Dinamika Peran Orang Tua dalam Pemilihan Pasangan Pernikahan Menurut Adat Jawa dan Implikasinya terhadap Perlindungan Hak-Hak Anak Gusti, Hyang Kinasih
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 5 : Al Qalam (September 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i5.3917

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif Hukum Keluarga Islam mengenai dinamika peran orang tua dalam pemilihan pasangan pernikahan menurut adat Jawa, serta implikasinya terhadap perlindungan hak-hak anak. Pernikahan dalam Islam bukan hanya merupakan kontrak sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang melibatkan hak-hak individu, termasuk hak untuk memilih pasangan tanpa paksaan. Di sisi lain, adat Jawa memberikan peran signifikan kepada orang tua dalam menentukan pasangan hidup anak mereka, yang sering kali bertentangan dengan prinsip dasar kebebasan memilih dalam Islam. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Hukum Keluarga Islam memandang peran orang tua dalam konteks pernikahan, serta mengeksplorasi bagaimana adat Jawa mempengaruhi keputusan pemilihan pasangan. Penelitian ini juga menelaah dampak dari pengaruh orang tua ini terhadap perlindungan hak-hak anak, termasuk hak untuk memilih pasangan, hak atas pendidikan, dan kesejahteraan umum anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Data diperoleh melalui studi literatur, wawancara mendalam, dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketegangan antara norma agama dan adat dalam pemilihan pasangan pernikahan, yang dapat berdampak negatif terhadap hak-hak anak jika tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perlunya harmonisasi antara Hukum Keluarga Islam dan adat Jawa untuk memastikan perlindungan hak-hak anak terpenuhi. Rekomendasi diberikan untuk menciptakan kesadaran lebih besar tentang pentingnya hak memilih pasangan dalam Islam, serta mendorong dialog antara pemangku kepentingan untuk menemukan solusi yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan tradisi lokal secara harmonis.
The Childfree Phenomenon from the Perspective of Hadith in Islamic Family Law Purwaningsih, Titin; Gusti, Hyang Kinasih
El-Izdiwaj: Indonesian Journal of Civil and Islamic Family Law Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/c5q36a36

Abstract

The childfree phenomenon has increasingly become a subject of debate among young Muslims in Indonesia and raises normative questions within Islamic family law. This study aims to analyze the childfree phenomenon from the perspective of Hadith-based Islamic family law through both normative and empirical approaches. The research employs a qualitative field study design conducted in Baradatu District, Way Kanan Regency, in 2026. Data were collected through in-depth interviews with Generation Z participants and analyzed using thematic analysis. Normative analysis was conducted through hadith takhrij, sanad and matn examination, and the framework of maqāṣid al-sharī‘ah. The findings reveal that Generation Z’s perceptions of childfree fall into three main orientations: rational-economic considerations, reproductive autonomy, and normative-religious perspectives. Normatively, the hadith encouraging marriage to fertile women reflects a procreative orientation as an ideal value rather than a binding obligation. Meanwhile, the hadith concerning the practice of coitus interruptus (‘azl) indicates flexibility in birth regulation as long as it does not intend permanent termination of lineage. Within the maqāṣid al-sharī‘ah framework, the protection of lineage (ḥifẓ al-nasl) encompasses not only quantitative continuity but also qualitative sustainability. Therefore, the childfree phenomenon cannot be judged in a binary legal framework; instead, it requires a proportional analytical approach that balances normative texts and social realities to preserve the authority of hadith while maintaining its relevance in contemporary Muslim family life.