Munir, Muhammad Sirajul
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Fenomena Praktik Nikah Mut'ah di Kalangan Santri Sunni di Desa Jambesari Kabupaten Bondowoso Munir, Muhammad Sirajul; Ishaq, Ishaq; Junaidi, Ahmad
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 4 : Al Qalam (Juli 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i4.3593

Abstract

Hukum nikah mut’ah yang menjadi topik central perdebatan dikalangan para ulama ahlussunnah wal jamaah dengan ulama syiah sendiri telah terjadi berabad belas tahun lamanya. Sampai saat inipun kontroversi itu tetap hangat dan tidak pernah basi untuk dibahas. Terkait hal ini ulama Sunni berargumen jika nikah mut’ah tidak sah atau batal jika dilangsungkan, sementara ulama Syi’ah melegalkan jenis pernikahan mut’ah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologi yakni mendeskripsikan fenomena yang terjadi di lapangan yang didapatkan dari subyek peneliti kemudian dianalisis secara mendalam. Praktik nikah mut’ah di Desa Jambesari Kabupaten Bondowoso dilakukan oleh kalangan santri Sunni yang notabene bukan hanya melarang tetapi mengharamkan bahkan pelakunya dianggap melanggar agama, selain itu wanita dan anak hasil nikah mut’ah menjadi korban dalam hal ini. Berlandaskan hal tersebut fokus penelitian ini yakni: 1) Bagaimana praktik nikah mut’ah dikalangan santri sunni di Desa Jambesari Kabupaten Bondowoso? 2) Bagaimana bentuk penafsiran ulang kalangan santri sunni terhadap konsep nikah mut’ah di Desa Jambesari Kabupaten Bondowoso?. Hasil Penelitian ini yakni pertama Praktik nikah mut’ah di Desa Jambesari terindikasi terbawa pengaruh Kampung Arab yang terletak satu wilayah di Kabupaten Bondowoso. Santri sunni tersebut merupakan salah satu dan satu-satunya santri alumni Pondok Pesantren berfaham Sunni yang tidak diakui oleh Pondoknya. Kedua, Bentuk penafsiran salah satu santri Sunni yang terpapar Syiah di Desa Jambesari terkait nikah mut’ah yang ada di Desa Jambesari hanya sebatas penafsiran akal semata, tidak melihat pengaruhnya kepada perempuan. Kaidah Dharurat yang digunakan juga salah jika ditempatkan pada nikah mut’ah. Batasan darurat: menurut imam al Suyuti dan disebutkan dalam catatan pinggir kitab al Muqni', sesungguhnya darurat itu hanya yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kematian saja.
Betonan and Paroan: Local Wisdom in Traditional Bondowoso Agriculture as An Implementation of Islamic Economic Fiqh Ubaidillah, Ubaidillah; Munir, Muhammad Sirajul; SAM, Achmad Al-Muhajir; Hanip, Abdul
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Vol 9 No 1 (2025): AnCoMS, Oktober 2025
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/ancoms.v9i1.694

Abstract

Betonan and Paraon is a local wisdom practice that developed in the traditional agricultural system of the Bondowoso people. Both not only reflect patterns of cooperation and social solidarity, but also contain values ​​that align with the principles of Islamic economic jurisprudence, particularly regarding justice and mutual assistance (the plague), and proportional distribution of results. This research aims to explore the meaning, mechanisms, and relevance of the tradition betonan and paroan from the perspective of Islamic economic jurisprudence. By using a descriptive qualitative approach through literature studies and interviews, researchers found that the practice betonan which is based on cooperation and paroan which emphasizes fair distribution of profits, reflecting sharia principles such as muzara'ah And mukhabarah The implementation of this local wisdom not only strengthens the economic resilience of the Bondowoso farming community but also represents a concrete form of integration between cultural traditions and Islamic values. Thus, betonan and paroan can be seen as a sharia-based economic practice that grows from local cultural roots and is relevant to be developed in contemporary Islamic economic discourse.
Implementasi Maqāṣid Al-Sharīah dalam Tradisi Topeng Konah di Bondowoso Arifin, Mohammad Samsul; Munir, Muhammad Sirajul; Habibi, Erfan; Juhariyanto, Muhammad
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Vol 9 No 1 (2025): AnCoMS, Oktober 2025
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/ancoms.v9i1.720

Abstract

This qualitative study examines the implementation of maqāṣid al-sharī’ah within the Topeng Konah tradition of Bondowoso through a case study approach involving participant observation, in-depth interviews with 20 informants, and document analysis. The findings reveal that Topeng Konah serves as a sophisticated form of cultural resistance, utilizing performance symbols that integrate the principle of ḥifẓ al-bī'ah (environmental preservation) as a contemporary expansion of maqāṣid. The five primary characters—Bujang Ganong, Patih Pujangga, Prabu Kelono, Dewi Sekartaji, and Pujangga Anom—collectively reflect the implementation of ḍarūriyāt al-khams (the five essentials) in fostering social harmony within a pluralistic society. Thematic analysis identifies a three-stage value transformation: preservation, adaptation, and transformation, which converts local memories of tolerance into global messages. The study concludes that Topeng Konah is a manifestation of living maqāṣid, successfully creating a dialectic between universal Islamic values and local wisdom. This tradition offers an inclusive model of Islamic practice that remains highly relevant to the multicultural Indonesian context, demonstrating how traditional arts can facilitate the synthesis of religious law and cultural heritage.