p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Litera Sintesis
Nazilah, Halimah Milladunka
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Sintesis

Polemik Gitasav-netizen pada wacana childfree di media sosial: Analisis wacana kritis Sara Mills Salamah, Salamah; Nazilah, Halimah Milladunka; Setiawati, Eti
Sintesis Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v17i2.6914

Abstract

Salah satu isu kontroversial yang digaungkan aliran feminisme radikal dan liberal adalah isu childfree yang di Indonesia dipopulerkan oleh influencer Gita Savitri (Gitasav). Penelitian ini bertujuan mengkaji polemik wacana childfree dalam perdebatan di media sosial dengan mengidentifikasi bagaimana penempatan perempuan sebagai subjek-objek serta posisi pembaca dalam menerima wacana childfree di ruang publik. Melalui penelitian kualitatif deskriptif, digunakan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data, dan model analisis wacana kritis Sara Mills sebagai metode analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gitasav sebagai subjek membawa ideologi feminisme yang menghendaki adanya childfree. Gitasav sebagai objek oleh kubu pro didukung karena tubuh wanita adalah haknya dan tidak semua orang tua layak memiliki anak, sedangkan Gitasav sebagai objek oleh kubu kontra ditentang ideologinya karena terlalu bebas, terkesan menuduh dan memojokkan, serta disampaikan dalam tuturan yang tidak santun. Dengan kata lain, terdapat pertentangan ideologi antara ideologi feminisme yang menghendaki adanya childfree dengan budaya Indonesia yang pronatalis. Pembaca dalam wacana Gitasav dan kubu pro ditempatkan sebagai pihak yang mendukung adanya childfree melalui alasan dalam sudut pandangan feminis, sedangkan pembaca dalan pihak kontra diposisikan sebagai pihak yang menentang Gitsasav maupun ideologinya karena adanya ketidaksesuaian budaya. Namun, terdapat juga pihak netral yang menempatkan pembaca sebagai pihak yang mengkritisi sekaligus mendukung kedua ideologi.