Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EVALUASI KETEPATAN PERENCANAAN DAN PENGADAAN CODEIN DI APOTEK X KOTA MATARAM PERIODE SEPTEMBER 2023 Dian Safitri, Afifa; Hasina, Raisya; Amira
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.337

Abstract

Codein merupakan narkotik golongan III yang banyak diresepkan untuk pengobatan beberapa penyakit di Nusa Tenggara Barat seperti ISPA, batuk dan nyeri otot. Peningkatan pelayanan resep codein mengharuskan apotek untuk memperhatikan tahapan perencanaan dan pengadaan dengan tepat untuk menjamin ketersediaan codein sehingga dapat memberikan pemenuhan kebutuhan peresepan pasien. Evaluasi ketepatan perencanaan dan pengadaan berkaitan dengan efisiensi pengelolaan codein di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan perencanaan dan pengadaan codein kekuatan sediaan 10 mg, 15 mg dan 20 mg pada periode September 2023 di Apotek X. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Pengumpulan data menggunakan metode retrospektif dengan teknik total sampling. Data primer berupa kartu stok codein periode September-Oktober 2023 dan resep codein periode September 2023 dan data sekunder berupa hasil wawancara informan apotek X. Analisis data menggunakan rumus persentase ketepatan perencanaan dan pengadaan pada tiap-tiap kekuatan sediaan codein berdasarkan standar efisiensi perencanaan dan pengadaan obat. Hasil penelitian ini diperoleh ketepatan tahap perencanaan codein 10 mg sebesar 2000% dan codein 20 mg 272,7%. Ketepatan tahap pengadaan codein 10 mg dan 20 mg masing-masing sebesar 100%. Adapun codein 15 mg tidak dilakukan perencanaan dan pengadaan karena jumlahnya di atas nilai buffer stock. Kesimpulan penelitian yaitu nilai ketepatan tahap perencanaan dan pengadaan codein di apotek X pada periode September 2023 tidak memenuhi standar ketepatan perencanaan dan pengadaan. Penyebab terjadinya ketidaktepatan pada tahap perencanaan dan pengadaan codein di apotek X ini karena kekosongan stok dari distributor, pola peresepan dan pola penyakit yang berubah-ubah.
Socialization of the Utilization of Pegagan as an Innovation of Functional Food Ingredients in Improving Public Health in Bengkaung Village Dian Safitri, Afifa; Nona Rusdianti Pratami, Baiq; Mas’ud Rahmatullah, Lalu; Rahma Putri, Rahma Putri; Julia Amanda, Raina; Rachmalia Izzatul Mukhlishah, Neneng
Jurnal Wicara Vol 3 No 3 (2025): Jurnal Wicara Desa
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/wicara.v3i3.6797

Abstract

Pegagan merupakan salah satu tanaman liar yang memiliki potensi cukup baik sebagai tanaman obat herbal karena memiliki khasiat yang tinggi bagi kesehatan. Manfaat kesehatan dari pegagan diantaranya sebagai penyembuh luka, demam, batuk, sakit kepala dan menjaga kesehatan kulit. Akan tetapi, pemanfaatan pegagan masih terbatas di kalangan masyarakat. Inovasi olahan pegagan sebagai makanan dapat menjadi alternatif dalam pemanfaatan pegagan, salah satunya berupa keripik pegagan. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk melakukan kegiatan penyuluhan kepada ibu-ibu PKK Desa Bengkaung, Lombok Barat, mengenai pemanfaatan pegagan sebagai inovasi bahan pangan fungsional dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Metode kegiatan pengabdian yang digunakan adalah dengan penyampaian materi secara langsung menggunakan media PowerPoint dan leaflet. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat melalui penyampaian materi yang interaktif, diskusi yang menarik, dan pembagian leaflet informatif, kader PKK memperoleh pemahaman tentang khasiat pegagan untuk kesehatan serta berbagai inovasi olahan pangan, seperti keripik, puding, dan urap pegagan. Selain itu, kader PKK sangat antusias mencoba produk olahan keripik pegagan. Hal ini menunjukkan bahwa olahan keripik pegagan dapat menjadi salah satu produk olahan pangan yang dapat diterima oleh masyarakat untuk dimanfaatkan menjadi menjadi produk pangan fungsional. Kegiatan ini telah berhasil meningkatkan pemahaman para kader mengenai pemanfaatan pegagan untuk meningkatkan kesehatan melalui berbagai inovasi olahan pangan fungsional dari pegagan yang salah satunya berupa keripik pegagan.
Socialization of the Utilization of Pegagan as an Innovation of Functional Food Ingredients in Improving Public Health in Bengkaung Village Rahma Putri, Rahma Putri; Dian Safitri, Afifa; Nona Rusdianti Pratami, Baiq; Mas’ud Rahmatullah, Lalu; Rahma Putri, Latifa; Julia Amanda, Raina; Rachmalia Izzatul Mukhlishah, Neneng
Jurnal Wicara Vol 3 No 3 (2025): Jurnal Wicara Desa
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/wicara.v3i3.6797

Abstract

Pegagan merupakan salah satu tanaman liar yang memiliki potensi cukup baik sebagai tanaman obat herbal karena memiliki khasiat yang tinggi bagi kesehatan. Manfaat kesehatan dari pegagan diantaranya sebagai penyembuh luka, demam, batuk, sakit kepala dan menjaga kesehatan kulit. Akan tetapi, pemanfaatan pegagan masih terbatas di kalangan masyarakat. Inovasi olahan pegagan sebagai makanan dapat menjadi alternatif dalam pemanfaatan pegagan, salah satunya berupa keripik pegagan. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk melakukan kegiatan penyuluhan kepada ibu-ibu PKK Desa Bengkaung, Lombok Barat, mengenai pemanfaatan pegagan sebagai inovasi bahan pangan fungsional dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Metode kegiatan pengabdian yang digunakan adalah dengan penyampaian materi secara langsung menggunakan media PowerPoint dan leaflet. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat melalui penyampaian materi yang interaktif, diskusi yang menarik, dan pembagian leaflet informatif, kader PKK memperoleh pemahaman tentang khasiat pegagan untuk kesehatan serta berbagai inovasi olahan pangan, seperti keripik, puding, dan urap pegagan. Selain itu, kader PKK sangat antusias mencoba produk olahan keripik pegagan. Hal ini menunjukkan bahwa olahan keripik pegagan dapat menjadi salah satu produk olahan pangan yang dapat diterima oleh masyarakat untuk dimanfaatkan menjadi menjadi produk pangan fungsional. Kegiatan ini telah berhasil meningkatkan pemahaman para kader mengenai pemanfaatan pegagan untuk meningkatkan kesehatan melalui berbagai inovasi olahan pangan fungsional dari pegagan yang salah satunya berupa keripik pegagan.
Peran Apoteker dalam Menegakkan Keadilan Sosial Melalui Pelayanan Kefarmasian Berbasis Nilai Pancasila Pramesthi Asmara Sayidina Sayhputri, Acyuta; Dian Safitri, Afifa; Fadilati, Nabila; Halim, Amran; Alfhina, Luluk
Journal of Social and Education Vol. 2 No. 2 (2026): Journal of Social and Education
Publisher : Lembaga Riset dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66909/lrp.salut.v2i2.207

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan komponen esensial dalam sistem pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis penyediaan obat, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, etis, dan humanistik. Keadilan sosial merupakan amanat sila kelima Pancasila yang menjadi landasan fundamental dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang merata dan berkeadilan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran apoteker dalam menegakkan keadilan sosial melalui pelayanan kefarmasian yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila. Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan sistematik review atau literatur review, yang menganalisis berbagai literatur ilmiah, kebijakan kesehatan, dan publikasi akademik relevan dari tahun 2015 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa apoteker memiliki peran strategis dalam menjamin akses terhadap obat dan informasi kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti masyarakat miskin, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman etis dalam praktik kefarmasian. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan, pelatihan berkelanjutan, serta sinergi antara apoteker, pemerintah, dan masyarakat penting untuk menciptakan pelayanan kefarmasian yang adil, inklusif, dan berkeadilan sosial