Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Makna Kedai Kopi Sebagai Ruang Publik Di Kalangan Remaja Sandra Olifia; Solten Rajagukguk; Astri Ananda
Ikon --Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 27 No 3 (2022): Vol. 27 No.3 Desember 2022 IKON
Publisher : Program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman, para penikmat kopi tidak dapat memungkiri dengan adanya pertumbuhan kedai kopi yang mengalami perubahan terhadap fungsinya. Makna kedai kopi yang terbentuk memberikan perkembangan yang cukup signifikan dari konsep yang diberikan meliputi suasana, fasilitas, fungsi tempat, serta aktivitas yang dilakukan oleh para pengunjung. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna kedai kopi sebagai ruang publik bagi kalangan remaja di Character Coffee. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruksi realitas sosial, dimana realitas merupakan kumpulan individu yang bersosialisasi serta sebagai aktivitas untuk mendapat pemahaman, makna, norma, aturan melalui komunikasi yang mendalam. Landasan konseptual dalam penelitian ini meliputi ruang publik, Coffee Shop, dan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan sifat penelitian deskriptif dan metode penelitian studi kasus. Pengumpulan data penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan model triangulasi sumber. Penelitian ini dilakukan di Character Coffee Rempoa. Hasil dari penelitian ini adalah makna kedai kopi sebagai ruang publik bagi kalangan remaja memunculkan terciptanya aktivitas yang dibangun dari kalangan remaja dan mempengaruhi perubahan fungsi dari kedai kopi.
Analisis Resepsi Khalayak Pada Aplikasi Peduli Lindungi Di Masa Pandemi COVID 19 Dittya Ayu; Solten Rajagukguk
Jurnal Netnografi Komunikasi Vol. 1 No. 1 (2022): JNK Terakreditasi Nasional Peringkat SINTA 5 berdasarkan SK KemdiktiSaintek RI
Publisher : Communication Science Department - Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Satya Negara Indonesia (USNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.537 KB) | DOI: 10.59408/netnografi.v1i1.6

Abstract

Peduli Lindungi application is a policy issued by the Government that must be owned by all Indonesian people. This study uses Stuart Hall's reception analysis theory which focuses on individual acceptance and response to media messages. This study uses a qualitative method using a constructivist paradigm and is descriptive. Data collection was carried out using in-depth interviews with a number of seven informants who are audiences who use and know the Care Protect Application and have different backgrounds. After analyzing the results of the research, it can be concluded that the reception of the informants towards the Care to Protect Application is in the Negotiation position. Where many of the informants gave a generally positive view, but there were some suggestions, to develop Peduli Lindungi Applications.
FENOMENA FOMO COFFEE SHOP SEBAGAI GAYA HIDUP DI KALANGAN REMAJA PENGUNJUNG KURASU COFFEE Auria, Tifani Rizki; Dwijayanti, Risqi Inayah; Marta, Rustono Farady; Rajagukguk, Solten; Saliman, Timotius
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 14 No 1 (2025): Jurnal Ilmu Komunikasi (JKMS)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v14i1.7598

Abstract

AbstrakFenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin marak di kalangan remaja, terutama dalam budaya nongkrong di coffee shop. Penelitian ini menganalisis bagaimana Kurasu Coffee Jakarta Selatan menjadi bagian dari gaya hidup remaja yang dipengaruhi FOMO. Berpijak pada pendekatan kualitatif deskriptif dan fenomenologi Edmund Husserl, penelitian ini menggali makna sosial coffee shop sebagai simbol status, produktivitas, dan tren media sosial. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tujuh informan yang aktif di media sosial dan budaya nongkrong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FOMO mendorong remaja mengikuti tren coffee shop demi eksistensi sosial. Coffee shop dimaknai bukan hanya sebagai tempat bersantai, tetapi juga sebagai media ekspresi diri melalui fashion, konten media sosial, dan interaksi. Dari sudut pandang teori interaksi simbolik, coffee shop menjadi ruang pembentukan makna dan identitas sosial, serta mendorong pola konsumsi konsumtif dan hedonis di kalangan remaja. Kata Kunci: : FOMO; Coffee shop; Gaya Hidup; Interaksi Simbolik; Fenomenologi. AbstractThe phenomenon of Fear of Missing Out (FOMO) is increasingly prevalent among teenagers, especially in the culture of hanging out at coffee shops. This study analyzes how Kurasu Coffee in South Jakarta becomes part of a youth lifestyle influenced by FOMO. Using a descriptive qualitative approach and Edmund Husserl’s phenomenology, this research explores the social meanings teenagers assign to coffee shops as symbols of status, productivity, and social media trends. Data was collected through observation and in-depth interviews with seven informants active on social media and in coffee shop culture. The findings reveal that FOMO drives teenagers to follow coffee shop trends to maintain social existence. Coffee shops are seen not only as places to relax but also as spaces for self-expression through fashion, social media content, and interaction. From the perspective of symbolic interactionism, coffee shops serve as arenas where social meaning and identity are shaped, while also encouraging consumptive and hedonistic behavior among youth.Keywords: FOMO; Coffee shop; Lifestyle; Symbolic Interaction; Phenomenology.