Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN STRATEGI PENGEMBANGAN DESAIN RUANG KREATIF SEBAGAI WADAH INTERAKSI DAN EKSPRESI BERBASIS PARIWISATA BUDAYA UNTUK KEBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENINGKATKAN EKONOMI KREATIF DI YOGYAKARTA Martino Dwi Nugroho, Martino Dwi Nugroho; Mahdi Nurcahyo; Hartoto Indra Suwahyunto; Prasojo, Bintang
Jurnal Jarlit Vol. 19 No. 1 (2023): Peningkatan Ekonomi Kreatif Berbasis Pariwisata Budaya untuk Keberdayaan Masya
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70154/jid.v19i1.63

Abstract

Pelestarian budaya di Kota Yogyakarta perlu dilakukan dengan menyediakan ruang publik. Fungsi ruang publik tersebut adalah untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan kreatif dalam merawat nilai-nilai tradisi. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan ruang kreatif di Kota Yogyakarta khususnya di Ruang Terbuka Hijau Publik dan Daerah Aliran Sungai (DAS) ditinjau dari komponen pariwisata budaya. Serta membuat parameter desain yang bisa diterapkan pada ruang kreatif di Kota Yogyakarta sehingga mencapai desain yang memiliki nilai-nilai lokalitas dan mendukung perkembangan ekonomi kreatif. penelitian ini menggunakan metode Design thinking, metode kualitatif dan kuantitatif serta metode SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengembangan ruang publik kreatif berbasis pariwisata budaya dapat ditelisik dari aspek daya tarik wisata dengan menghadirkan potensi ekonomi kreatif yang unggul dan berkualitas. Ini menjadi faktor kunci yang dapat menentukan motivasi wisatawan untuk berwisata sekaligus menjadi alasan fundamental dari pertimbangan mengapa seseorang memilih satu destinasi tertentu. Daya tarik wisata juga sangat menentukan tingkat kepuasan dan loyalitas wisatawan yang akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat terhadap keberlanjutan destinasi wisata. Beberapa hal yang perlu diperhatian dalam pengelolaan pariwisata berbasis budaya yang akan diterapkan di DAS dan Perkampungan antara lain: 1) Identitas lokal, 2) Penerapam Eko Budaya, 3) perlunya pendampingan dalam pengelolaan lembaga, 4) perlunya penyediaan infrastruktur, 5) tersedianya aksesibilitas yang memadai, 6) Melibatkan warga dalam pengelolaan wisata dengan model kelola pariwisata berbasis masyarakat Community Based Tourism (CBT).
Perancangan Ruang Publik Budaya di Bantaran (Daerah Aliran Sungai) Kampung Wisata Dewa Bronto Kota Yogyakarta Suwahyunto, Hartoto Indra; Nurcahyo, Mahdi
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 13, No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v13i1.15117

Abstract

Yogyakarta selain sebagai kota pendidikan juga dikenal sebagai kota budaya, diperkuat dengan adanya keraton sebagai pusat budaya, hal tersebut menambah kental nuansa budaya yang ada. Setiap produk budaya memiliki keunikan yang berbeda-beda tiap kota di Indonesia. Keunikan inilah yang kemudian menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan destinasi prioritas wisata budaya. Salah satu strategi aplikatif dalam pengelolaan wisata ini adalah merancang fasilitas budaya yang ada, dengan mewadahi aktivitas budaya tersebut dalam zona-zona kegiatan yang terencana, melalui perancangan ruang publik untuk mengakomodasi aktivitas budaya yang ada. Kampung Wisata Dewa Bronto dengan bantaran sungai Code-nya mempunyai potensi revitalisasi sungai untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan di kota Yogyakarta. Harapannya konsekuensi logis dari potensi ini, maka akan dapat menggerakan roda ekonomi di kawasan kampung Dewa Bronto, sehingga masyarakat di sekitarnya akan menjadi lebih sejahtera. Riset ini menggunakan metode proses desain Kilmer yang dapat membuat prototype berupa visualisasi model desain. TKT (Tingkat Kesiapan Teknologi) adalah nomor empat dimana luaran penelitian ini berupa prototype digital rendering desain ruang publik budaya di bantaran DAS (Daerah Aliran Sungai) Kampung Wisata Dewa Bronto Yogyakarta. Hasil dari riset ini juga dapat dijadikan model untuk pengembangan ruang publik berbasis wisata budaya yang ada di pinggiran kota.