Pinatik, Hun Johanis Alfrits
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

From Religious Hybridity to Indigenous Religion: Perubahan Paradigma dan Praktik Ritual Penghayat di Minahasa, Sulawesi Utara Pinatik, Hun Johanis Alfrits
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 10, No 2 (2023): December
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v10i2.83166

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi perubahan paradigma dan praktik ritual agama hibrid menuju agama lokal yang terjadi karena peran agen perubahan sosial. Tulisan ini berfokus pada perubahan sosial dari dominasi Kekristenan menuju paradigma dan praktik ritual non-Kristen di Minahasa. Paradigma agama lokal merupakan dekonstruksi terhadap pendekatan agama dunia. Hal tersebut tidak dapat terlepas dari konteks modernitas yang membatasi dan mengkonstruksi dominasi terhadap agama lokal. Dalam mengkaji perubahan sosial akibat aspek modernitas, maka tulisan ini menggunakan teori social change dari Piotr Sztompka (2017) yang menawarkan perspektif modernitas dan agent of change. Selain itu, penelitian ini juga akan menggunakan perspektif Indigenous Religion Paradigm dari Samsul Maarif (2019) untuk menganalisis paradigma agama lokal Minahasa. Penelitian ini berbasis pada metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menganalisis kasus perubahan paradigma dan praktik ritual Minahasa. Berbasis pada pendekatan studi kasus, maka penelitian ini akan dianalisis menurut pola, konteks, dan setting yang terjadi di lapangan, khususnya peran Tona’as pada proses perubahan paradigma dan praktik ritual. Data-data pendukung juga diperoleh melalui studi pustaka dan studi dokumenter untuk menggambarkan dan menganalisis peristiwa kasus perubahan agama di Minahasa. Argumentasi utama dalam tulisan ini bahwa, paradigma dan praktik ritual Minahasa telah mengalami perubahan sosial melalui dekonstruksi paradigma agama dunia yang hibrid oleh agen religius (Tona’as), sehingga  mengkonstruksi kembali paradigma agama lokal yang berbasis lokalitas.
From Spatial Domination to Virtual Space Solidarity Tactics: Perjuangan Bersama Untuk Mengatasi Ketidakadilan Terhadap Penghayat Agama Lokal Minahasa Pinatik, Hun Johanis Alfrits; Izak Y. M. Lattu; Tony Tampake
Jurnal Studi Agama Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jsa.v8i1.22108

Abstract

Many studies have explored indigenous religious believers struggle against world religions domination. However, studies on the employment of virtual space to heighten indigenous believers' tactical solidarity from the Global South remain understudy. This paper explores indigenous religious followers' struggles through access to virtual space as a tactic of everyday solidarity against world religions spatial domination and the state politics of religion in North Sulawesi, Indonesia. It focuses on the efforts of Minahasa indigenous religious believers to advocate for their existence through virtual media collectively. Indigenous religious believers have experienced various forms of spatial domination, such as destroying ancestral sites and ritual places that they consider sacred to realize their beliefs. The single truth perspective has produced the domination of the world religions monotheistic paradigm and the state politics of religion. The single truth has resulted in hate speech, stigmatization, and physical destruction of indigenous religious sacred sites. Through click activism, indigenous religious believers employ virtual media to advocate Minahasa indigenous religions/beliefs. The concept of tactical media is used in this study to analyze how the tactics of indigenous religious believers collectively produce a discourse of resistance critique and discourse on the importance of their places of belief to the public. This study uses qualitative research: observation, in-depth interviews, and literature review to argue that indigenous religious believers have tactically used virtual media as a critical discourse of resistance to the spatial domination constructed by world religious relations and state religious policies.