Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hak asuh anak pasca perceraian dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia Rahman, Babur; Paripati Qomaria , Nanik
AL-MUQARANAH Vol 2 No 1 (2024): Vol 2 No 1 Februari 2024
Publisher : Prodi Perbandingan Madzab Fakultas Syari'ah Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/jpmh.v2i1.341

Abstract

This article discusses child custody rights after divorce from the perspective of Islamic law and civil law. The provisions regarding child custody are contained in Law no. 1 of 1974, stated in article 54 paragraph (2) "That parents are obliged to look after their children until they marry or can stand on their own". In the system that has prevailed in many communities, the responsibility for caring for children is more suited to a woman. Because this is because most women with a "feminine" temperament tend to care, as if this care is natural for a woman. And based on a hadith from the Prophet sallallaahu'Alaihi wa Sallam, he said: "You have the right to take care of him as long as you have not remarried." (HR. Abu Dawud). This hadith shows that a woman (mother) has the most right to care for her child when her husband divorces her. However, the right to hadhalah does not always fall to the mother, the husband also has the right to have the same rights as the mother, if the conditions for determining the mother do not meet the criteria for providing for the child's interests, such as being apostate, having no noble character, being crazy, and so on. Because when it comes to raising children, the first thing that must be considered is the interests of the child and having the ability and ability to provide a sense of security to children who are victims of divorce.
Keharmonisan Islam Moderat Terhadap Fanatisme Politika Di Desa Bermi Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo Rahman, Babur; AriWidianto, Ari Widianto; MuhammadAli, Muhammad Ali; Moh.RojilFadlillah, Moh.Rojil Fadlillah; AhmadAndriPrayoga, Ahmad Andri Prayoga; AhmadHusenZaini, Ahmad Husen Zaini; AbdulFatah, Abdul Fatah; ferryOktavian, Ferry Oktavian
Najah: Journal of Research and Community Service Vol. 2 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Kalam Nusantara Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Bremi adalah salah satu desa yang mayoritas penduduknya beragama islam yang beraliran Nahdlatul Ulama, dengan melestarikan adat istiadat yang ada mampu menjadikan hubungan antar masyarakat sangatlah harmonis dan saling melengkapi. Dilihat dari pemiluh yang terjadi kemarin pada tanggal 14 Februari 2024 masyarakat Bremi lebih menjaga ketentraman dan keharmonisan antar sesama walaupun memiliki perbedaan dalam pemilihan tersebut . Dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang islam moderat mampu meningkatkan keharmonisan masyarakat di Desa Bremi. Pendampingan kami terhadap islam moderat di desa Bremi ini dengan melihat adanya perbedaan yang membuat kami ingin mengedukasi representasi islam moderat dalam fanatisme politika dikarenakan kami menemukan kelebihan di Desa Bremi, yakni dalam satu Aliran atau satu ormas Nahdlatul Ulama’ memiliki perbeda pilihan namun masih menjaga ketentraman, keharmonisan antar sesama. Dalam pendampingan ini kami memiliki suatu program seminar ke-NU’an bersama masyarakat sekaligus pengedukasian terkait islam moderat. Dengan adanya cara mengedukasi masyarakat Desa Bremi Selatan terkait islam moderat kami berharap masyakatat desa bermi dan dalam satu Ormas Nahdlatu Ulama’ lebih toleransi antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya meskipun berbeda dalam menentukan pilihannya. Kami sangat berharap ketika menjelang terjadinya pemilu di tahun mendatang mampu menjadikan satu Ormas Nahdlatul Ulama’ dan yang lainnya saling menjaga tolerangsi dan kerarmonisannya yang telah menjadi program kami sebelumnya.
Kedudukan Ahli Waris Pengganti dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Perdata di Indonesia Rahman, Babur; Quthny, Abu Yazid Adnan; Firdausiyah, Vita
QIYAS: JURNAL HUKUM ISLAM DAN PERADILAN Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qys.v10i1.7742

Abstract

Abstract: This study discusses the position of substitute heirs from the perspective of Islamic law and civil law in Indonesia. In inheritance practices, situations often occur where direct heirs have died before the testator, so that problems arise regarding who inherits the inheritance. Islamic law recognizes the concept of hijab and the division of inheritance strictly based on lineage, but does not explicitly regulate substitute heirs. On the contrary, the Civil Code (KUHPerdata) and the Compilation of Islamic Law (KHI) provide space for grandchildren as substitute heirs, especially if their parents who should be heirs have died first. Through a normative-comparative approach, this study reveals that there are differences in principle between classical Islamic law and positive law in Indonesia regarding the existence of substitute heirs. KHI as a codification of Islamic law in Indonesia tries to accommodate the principle of social justice by adopting the concept of substitute heirs, although it is not entirely in accordance with classical fiqh. This study recommends the need for harmonization between Islamic legal norms and the provisions of national laws and regulations in order to ensure legal certainty and justice in the distribution of inheritance.Keywords: Substitute heir, Islamic law, civil law, KHI, inheritanceAbstrak: Penelitian ini membahas kedudukan ahli waris pengganti dalam perspektif hukum Islam dan hukum perdata di Indonesia. Dalam praktik pewarisan, sering kali terjadi situasi di mana ahli waris langsung telah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris, sehingga muncul permasalahan mengenai siapa yang mewarisi harta peninggalan. Hukum Islam mengenal konsep hijab dan pembagian warisan secara tegas berdasarkan garis nasab, namun tidak secara eksplisit mengatur ahli waris penggantinya. Sebaliknya, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan ruang bagi cucu sebagai ahli waris pengganti, terutama jika orang tua mereka yang seharusnya menjadi ahli waris telah meninggal dunia lebih dahulu. Melalui pendekatan normatif-komparatif, penelitian ini mengungkap bahwa terdapat perbedaan prinsip antara hukum Islam klasik dengan hukum positif di Indonesia terkait keberadaan ahli waris pengganti. KHI sebagai kodifikasi hukum Islam di Indonesia mencoba mengakomodasi prinsip keadilan sosial dengan mengadopsi konsep ahli waris pengganti, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan fiqh klasik. Kajian ini merekomendasikan perlunya harmonisasi antara norma-norma hukum Islam dan ketentuan peraturan perundang-undangan nasional guna menjamin kepastian hukum dan keadilan dalam pembagian warisan.Kata kunci: Ahli waris pengganti, hukum Islam, hukum perdata, KHI, pewarisan