Suprapti, Desak Ketut Devi
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ngelukat Mala : Metafora Tradisi Sapuh Leger Dalam Busana Bergaya Exotic Dramatic Suprapti, Desak Ketut Devi; Pebryani, Nyoman Dewi; Konte Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi sapuh leger adalah suatu ritual dengan menggunakan sarana pertunjukan wayang yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.Keunikan tradisi sapuh leger ini menjadikan inspirasi sebagai ide pemantik dalam menciptakan karya busana Ready to wear, Ready to wear deluxe, dan haute couture yang ditunjukan untuk mewujudkan busana bergaya exotic dramatic yang akan berkolaborasi dengan mitra Pertenunan Astiti. Tradisi sapuh leger diimplementasikan secara metafora dan kata kunci terpilih yaitu : Kekayonan, toya panglukatan, wayang, siklus kehidupan, dewa kala. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari delapan tahapan penciptaan "frangipani" meliputi: Desain brief, Research and sourcing, design development, sample, prototype, final collection, promoting, branding. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat memperkenalkan budaya lokal melalui desain fashion dan dapat menambah kepustakaan di bidang fashion dengan teori metafora tradisi sapuh leger yang diimplementasikan ke dalam busana bergaya exotic dramatic.
Cultural Transformation and Hibridity in The Evolution of Balinese Kebaya Design Suprapti, Desak Ketut Devi; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sari
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 14 No. 1 (2025): Gorga: Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v14i1.65699

Abstract

This study examines the evolution of Balinese kebaya design as a representation of cultural transformation and hybridity amidst modernization and globalization. Kebaya, a traditional blouse for Indonesian women, has shifted from everyday wear to formal wear. The development of technology and communication has driven significant changes in kebaya design, giving rise to contemporary kebaya that is more adaptive to an active and attractive modern lifestyle. However, modernization brings challenges in maintaining the traditional values of kebaya, raising concerns about the loss of cultural identity. The purpose of this study is to analyze the evolution of Balinese kebaya design based on the theory of cultural transformation and hybridity in an effort to preserve cultural heritage. The method used is descriptive qualitative, with data collection through literature studies, observations, and interviews. The results of the study indicate that the evolution of Balinese kebaya is a clear manifestation of cultural transformation. Cultural transformation can be seen from the shift in the function of kebaya from everyday wear to diverse fashion clothing, with modifications in shape, material, and style that are not bound by traditional rules, reflecting the shift in community values. Hybridity is reflected in the combination of new materials such as velvet, silk, and lace from global influences, as well as the combination of traditional techniques with modern technology. Contemporary kebaya, with its collar and sleeve variations, and the use of modern materials, shows local and global elements interacting, creating a new, dynamic, and relevant cultural expression. This hybridity is seen as an adaptive strategy to maintain the relevance of cultural heritage in the modern era, without losing its cultural roots. Further research is recommended to explore the economic impact of contemporary kebaya on local craftsmen and the fashion industry in Bali, as well as analyzing the perception of the younger generation towards the use of traditional versus contemporary kebaya.
Ngelukat Mala : Metafora Tradisi Sapuh Leger Dalam Busana Bergaya Exotic Dramatic Suprapti, Desak Ketut Devi; Pebryani, Nyoman Dewi; Konte Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2830

Abstract

Tradisi sapuh leger adalah suatu ritual dengan menggunakan sarana pertunjukan wayang yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.Keunikan tradisi sapuh leger ini menjadikan inspirasi sebagai ide pemantik dalam menciptakan karya busana Ready to wear, Ready to wear deluxe, dan haute couture yang ditunjukan untuk mewujudkan busana bergaya exotic dramatic yang akan berkolaborasi dengan mitra Pertenunan Astiti. Tradisi sapuh leger diimplementasikan secara metafora dan kata kunci terpilih yaitu : Kekayonan, toya panglukatan, wayang, siklus kehidupan, dewa kala. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari delapan tahapan penciptaan "frangipani" meliputi: Desain brief, Research and sourcing, design development, sample, prototype, final collection, promoting, branding. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat memperkenalkan budaya lokal melalui desain fashion dan dapat menambah kepustakaan di bidang fashion dengan teori metafora tradisi sapuh leger yang diimplementasikan ke dalam busana bergaya exotic dramatic.