Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SALTWATER FISH CONSUMPTION AND THE RISK OF STROKE IN COASTAL POPULATION Haq, Abiyyu Didar; Harahap, Herpan Syafii; Wahyudi, Safat; Susilawati, Ni Nyoman Ayu
MNJ (Malang Neurology Journal) Vol. 10 No. 1 (2024): January
Publisher : PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Cabang Malang) - Indonesian Neurological Association Branch of Malang cooperated with Neurology Residency Program, Faculty of Medicine Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mnj.2024.010.01.13

Abstract

Indonesia, consisting of tens of thousands of islands, has a rather long coastline with relatively high percentage of it is population that lives in the coastal area. High consumption of saltwater fish in the coastal population is an inevitability. Several studies have observed a relation between saltwater fish consumption and the risk of stroke with contradicting results, protective effect on one side and harmful on the other. The protective effect is mainly mediated by the poly-unsaturated fatty acid (PUFA) content of the saltwater fish while the harmful effect is mediated by the sodium content. PUFA exerts its protective effect through it is antioxidant effect on the endothelial wall, anti-inflammatory effect and the activation of anti-apoptotic pathways in the state of ischemic stroke while sodium increases the risk of hypertension which is the main predisposing factor for stroke and induces anatomical remodeling of the endothelial wall as well as functional abnormalities. Several public health interventions have been carried out to mitigate the harmful effect of the sodium content of saltwater fish yet there hasn’t been a specific intervention for coastal population.
Patofisiologi Ensefalitis pada Rabies Wahyudi, Safat; Landapa, Raditya Rachman
Lombok Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2024): Lombok Medical Journal Volume 3 Nomor 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/lmj.v3i2.4527

Abstract

Rabies, disebabkan oleh Rabies Lyssavirus, virus neurotropik yang menargetkan neuron dan menyebar sepanjang sel saraf, menghasilkan disfungsi neuronal. Virus ini menunjukkan neurotropisme dan neuro-invasivitas yang kuat, menyebabkan manifestasi neurologis yang parah. Penularan penyakit ini biasanya melalui gigitan hewan yang terinfeksi, memungkinkan virus masuk ke dalam tubuh dan bereplikasi sebelum mencapai otak atau medula spinalis. Rabies muncul dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu ensefalitik dan paralitik, dengan rabies ensefalitik lebih umum dan ditandai dengan gejala klasik seperti hidrofobia dan aerofobia. Tanda-tanda awal dapat mencakup kesemutan pada anggota tubuh tanpa gangguan kognitif. Pemahaman terhadap patofisiologi serta interaksi antara virus Rabies dan host, antara lain mekanisme masuknya virus, replikasi, dan penyebaran dalam sistem saraf sangat penting untuk menjelaskan tentang proses perjalanan penyakit, termasuk perubahan perilaku yang terjadi. Pencegahan rabies melibatkan vaksinasi yang tepat waktu setelah paparan, sementara pengobatan pasca-infeksi yang adekuat hingga saat ini masih menjadi tantangan.
Posterior Reversible Encephalopathy Syndrome: Patofisiologi, Manifestasi Klinis Dan Radiologis : Literature Review Wahyudi, Safat; Andiyani, Dinda Zahra; Fitriantoro, Santo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i1.20830

Abstract

Artikel ini bertujuan meninjau patofisiologi, manifestasi klinis, dan temuan radiologis Posterior Reversible Encephalopathy Syndrome (PRES) berdasarkan 43 artikel yang dipublikasikan dalam 15 tahun terakhir. PRES memiliki istilah lain yaitu reversible posterior leukoencephalopathy syndrome (RPLS), reversible posterior cerebral edema syndrome, posterior leukoencephalopathy syndrome, hyperperfusion encephalopathy, dan brain capillary leak syndrome. Hampir dalam dua dekade terakhir kasus PRES mulai banyak dideskripsikan pada serial kasus. PRES dikenali karena gejala klinisnya reversibel dan berdasarkan temuan brain imaging. Patofisiologi pada PRES belum sepenuhnya diketahui, namun disfungsi endotel berperan penting pada kelainan ini. Diagnosa PRES sebaiknya dipertimbangkan pada pada pasien dengan gejala neurologis akut dengan riwayat gagal ginjal, pasien dengan fluktuasi tekanan darah, riwayat penggunaan obat sitotoksik, kelainan autoimun, atau eklamsia. Temuan radiografis yang khas adalah edema vasogenik subkorteks bilateral yang membaik dalam hitungan hari atau minggu. Pada kebanyakan kasus, PRES menunjukkan perbaikan klinis dan radiologis spontan. Pada gejala yang ringan, mungkin hanya terjadi satu gejala seperti nyeri kepala atau kejang, dan pada radiologis menunjukkan area edema vasogenik atau bahkan normal. Pada kasus yang berat, PRES dapat menyebabkan morbiditas bahkan mortalitas, seperti perdarahan akut atau edema fossa posterior masif yang dapat menyebabkan hidrosefalus obstruksi atau kompresi batang otak. PRES merupakan sindrom yang underdiagnosed karena kurangnya kesadaran tenaga medis terhadap sindrom ini. Dengan meningkatnya ketersediaan dan kualitas imaging, kesadaran PRES oleh tenaga medis mulai meningkat.