Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Konsumsi Protein Hewani Anak Usia 4-6 Tahun terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT) pada TK Al-Muhajirin Bekasi dalam Pandangan Islam rein, virjinea hawani; Asiah, Nur; Arifandi, Firman
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 7 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i7.4161

Abstract

Malnutrisi atau gizi buruk merujuk pada kekurangan atau kelebihan asupan nutrisi, ketidakseimbangan nutrisi esensial, atau gangguan dalam pemanfaatan nutrisi. Ditandai oleh ketidaksesuaian berat dan tinggi badan anak dengan umur tertentu, diukur dengan indeks BB/U yang kurang dari -3 sesuai standar deviasi WHO, sedangkan pada anak yang mengalami obesitas, standar deviasi lebih dari +1. Anak yang mengonsumsi protein hewani berkualitas memiliki risiko yang lebih rendah mengalami masalah gizi, seperti stunting. Protein yang berasal dari hewan memiliki keunggulan dibandingkan dengan protein nabati. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengetahui apakah terdapat hubungan konsumsi protein hewani pada anak usia 4-6 tahun di TK Al-Muhajirin. Metode penelitian yang diterapkan adalah analisis cross-sectional. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan total sampling yang disederhanakan melalui rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui penggunaan kuesioner food recall, dan data indeks mass tubuh. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji fisher exact dengan nilai signifikansi p<0,05. Dari hasil penelitian ini, ditemukan sampel sebanyak 32 individu dengan hasil kategori IMT/U normal 13 orang dengan persentasi 40.6%. Kategori kurang sebanyak 8 orang dengan persentasi 25%, sedangkan kategori lebih sebanyak 11 orang dengan presentasi 34.4%. Berdasarkan uji fisher exact, diperoleh nilai p sebesar 0,344. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang bermakna antara konsumsi protein hewani dengan indeks mass tubuh anak usia 4-6 tahun pada TK Al-Muhajirin.
Pediatric Submandibular Abscess: Diagnostic Challenges and Comprehensive Management – A Literature Review Rein, Virjinea Hawani; Wardhana, Arroyan; Rahmi, Hastuti
Medical and Health Journal Vol 5 No 2 (2026): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mhj.2026.5.2.18252

Abstract

Submandibular abscess in children is a rare deep neck space infection but can be fatal if diagnosis and management are delayed. Most cases (70–85%) originate from odontogenic infections of the mandibular molars, with Staphylococcus aureus and Streptococcus viridans as the predominant pathogens. This article reviews the etiology, early diagnosis, and management of pediatric submandibular abscesses based on recent literature (2020–2025) from Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect. Anatomical and immunological differences in children lead to faster infection spread with nonspecific early symptoms; therefore, careful clinical examination and the use of CT scans or ultrasonography are crucial for early diagnosis. Management includes airway stabilization, culture-based broad-spectrum antibiotics, and timely surgical drainage. Multidisciplinary collaboration among dentists, ENT specialists, and pediatric anesthesiologists is essential to reduce morbidity and mortality. Prospective studies are needed to evaluate the effectiveness of minimally invasive approaches and current antibiotic resistance patterns in children. Early diagnosis, rational therapy, and interdisciplinary cooperation remain the key factors in achieving successful outcomes in pediatric submandibular abscess management.