Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Merokok dengan Kejadian Kanker Laring di RSPAD Gatot Soebroto Tahun 2019-2022 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Nabiilah Ayu Anisah; Rahmi, Hastuti; Arifandi, Firman; Evans, Gunterus; Aryenti
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 5 (2024): Januari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i5.4081

Abstract

Pendahuluan : Kanker laring menempati urutan kedua setelah kanker rongga mulut pada keganasan kepala dan leher di seluruh dunia. Kanker laring lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dan lebih sering terjadi seiring bertambahnya usia. Hal tersebut berkaitan dengan durasi perilaku merokok. Asap rokok mengandung bahan kimia dan kasinogen, karsinogen yang paling berbahaya adalah nitrosamin, hidrokarbon polisiklik aromatik, dan amina aromatik yang berpotensi merusak DNA. Dalam Islam merokok dianggap sebagai perilaku yang tidak dainjurkan karena dapat menyebabkan kerusakan dan membahayan kesehatan. Metodologi : Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif secara analitik observasional dengan pendekatan Cross sectional. Didapatkan 34 sampel yang diambil dengan menggunakan metode purposive sampling dengan teknik total population sampling. Jenis data pada penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien kanker laring di Departemen THT-KL RSPAD Gatot Soebroto pada tahun 2019 – 2022, selanjutnya data dinalisis secara univariat dan bivariat. Hasil : Penderita kanker laring di RSPAD Gatot Soebroto didominasi oleh responden berjenis kelamin laki-laki (88.2%) dan berusia 61-70 tahun(41.2%). Stadium kanker laring yang paling banyak ditemukan adalah stadium IV (61,8%), sebagian besarnya memiliki riwayat merokok (64,7%), dan tidak ditemukan faktor risiko lain selain merokok. Analisis bivariat mengenai hubungan antara merokok dengan kanker laring berdasarkan hasil uji chi-square dengan mengambil nilai Fisher’s exact didapatkan p value sebesar 0,025 (p<0,05). Kesimpulan : Dari penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan antara merokok dengan kejadian kanker laring dan juga merokok bertentangan dengan maqashid syariah yang berarti lalai dalam memelihara jiwa, keturunan, dan harta. Kata Kunci : Kanker laring, karsinoma laring, merokok Introduction : Laryngeal cancer ranks second after oral cavity cancer in head and neck malignancies worldwide. The risk of laryngeal cancer is greater in men than women and with age. This is related to the duration of smoking behavior. Cigarette smoke contains contains chemicals and casinogens, the most dangerous carcinogens are nitrosamines, polycyclic aromatic hydrocarbons and aromatic amines that have the potential to damage DNA. In Islam, smoking is considered a behavior that is not recommended because it can cause damage and endanger health. Methodology : This research is a quantitative analytical observational with a cross-sectional approach. There were 34 samples taken using the purposive sampling method with total population sampling technique. The type of data in this study uses secondary data in the form of medical records of laryngeal cancer patients at the ENT-KL Department of Gatot Subroto Army Central Hospital (RSPAD) in 2019 - 2022, then the data was analyzed univariately and bivariately. Results : Patients with laryngeal cancer at Gatot Soebroto Army Hospital (RSPAD) were dominated by male respondents (88.2%) and aged 61-70 years (41.2%). The most common stage of laryngeal cancer is stage IV (61.8%), most of them have a history of smoking (64.7%), and no other risk factors other than smoking were found. Bivariate analysis of the relationship between smoking and laryngeal cancer based on the results of the chi-square test by taking Fisher's exact value obtained a p value of 0.025 (p <0.05). Conclusion : From this study it was found that there is a relationship between smoking with the incidence of laryngeal cancer and also smoking is contrary to the maqashid of Sharia which means neglecting one's life, offspring and property. Keyword : Laryngeal cancer, laryngeal carcinoma, smoking behavior
Gambaran Perbandingan Paparan Air Conditioner Terhadap Gejala Rhinitis Alergi Pada Ruang Skill Lab Dibandigkan Dengan Ruang Kelas Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2022 Marison, Cathlya Hayati; Wardhana, Arroyan; Rahmi, Hastuti; Arsyad, Muhammad
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.4803

Abstract

Rhinitis alergi adalah inflamasi mukosa hidung akibat reaksi terhadap alergen, dengan gejala seperti hidung tersumbat, hidung berair, dan hidung gatal. Penggunaan air conditioner (AC) dapat memengaruhi kualitas udara dalam ruangan dan memicu gejala ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan gejala rhinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2022 yang terpapar AC di ruang skill lab dan ruang kelas. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 73 mahasiswa, dipilih melalui simple random sampling, menjadi responden dengan kriteria inklusi kesediaan mengisi kuesioner dan memiliki gejala rhinitis akibat paparan AC. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, setelah uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan frekuensi gejala rhinitis, seperti hidung tersumbat, hidung berair, dan hidung gatal, di ruang skill lab dan ruang kelas. Namun, hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik (p = 0,811). Sebagian besar responden mengalami gejala dalam waktu kurang dari 30 menit setelah memasuki ruangan ber-AC. Selain itu, mayoritas responden (70,8%) tidak memiliki alergi terhadap udara dingin, mengindikasikan faktor lain seperti durasi paparan dan kualitas udara mungkin turut memengaruhi gejala. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paparan AC di kedua ruang tidak secara signifikan memengaruhi perbedaan gejala rhinitis alergi pada mahasiswa. Hasil ini menekankan pentingnya pengelolaan lingkungan ber-AC untuk meminimalkan risiko alergi dan memberikan dasar bagi penelitian lebih lanjut tentang kualitas udara dalam ruangan serta strategi mitigasi risiko kesehatan.
Advanced Nasopharyngeal Carcinoma with Intracranial Extension and Bilateral Cervical Lymphadenopathy: A Case Report Anisah, Nabiilah Ayu; Rahmawati, Indah; Rahmi, Hastuti
Medical and Health Journal Vol 5 No 2 (2026): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mhj.2026.5.2.18060

Abstract

Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is an epithelial malignancy that is often found in Southeast Asia and is ranked sixth as the most common cancer in Indonesia. This disease is often diagnosed at an advanced stage due to nonspecific initial symptoms. Case Description: A 72-year-old man presented with chronic epistaxis, bilateral nasal obstruction, tinnitus, and bilateral neck node enlargement. Nasoendoscopy revealed a mass obscuring the fossa of Rosenmüller, while a contrast-enhanced CT scan revealed an infiltrative lesion in the nasopharynx extending to the skull base and intracranially with multiple cervical lymphadenopathy. Histopathology revealed nasopharyngeal nonkeratinizing squamous cell carcinoma, stage T4N3Mx. Management and Outcome: The patient was referred for concomitant chemoradiotherapy as standard therapy for advanced stage, with planned follow-up at an oncology center. Discussion: This case highlights the association between smoking and salted fish consumption with the occurrence of NPC and the challenges of early diagnosis due to symptoms resembling chronic rhinitis. Conclusion: Recognizing recurrent epistaxis and painless neck node enlargement is crucial for early detection of NPC. A multidisciplinary approach and integrated chemoradiotherapy play a significant role in improving patient prognosis.
Pediatric Submandibular Abscess: Diagnostic Challenges and Comprehensive Management – A Literature Review Rein, Virjinea Hawani; Wardhana, Arroyan; Rahmi, Hastuti
Medical and Health Journal Vol 5 No 2 (2026): February
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mhj.2026.5.2.18252

Abstract

Submandibular abscess in children is a rare deep neck space infection but can be fatal if diagnosis and management are delayed. Most cases (70–85%) originate from odontogenic infections of the mandibular molars, with Staphylococcus aureus and Streptococcus viridans as the predominant pathogens. This article reviews the etiology, early diagnosis, and management of pediatric submandibular abscesses based on recent literature (2020–2025) from Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect. Anatomical and immunological differences in children lead to faster infection spread with nonspecific early symptoms; therefore, careful clinical examination and the use of CT scans or ultrasonography are crucial for early diagnosis. Management includes airway stabilization, culture-based broad-spectrum antibiotics, and timely surgical drainage. Multidisciplinary collaboration among dentists, ENT specialists, and pediatric anesthesiologists is essential to reduce morbidity and mortality. Prospective studies are needed to evaluate the effectiveness of minimally invasive approaches and current antibiotic resistance patterns in children. Early diagnosis, rational therapy, and interdisciplinary cooperation remain the key factors in achieving successful outcomes in pediatric submandibular abscess management.