Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Penggunaan OAINS (Obat Antiinflamasi Nonsteroid) dengan Gejala Gastritis pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2018 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Nihlah Hilyati, Balqis; Lilian Batubara; Hasibuan, Faizal Drissa; Amir Mahmud
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i3.4266

Abstract

Gastritis merupakan penyakit ke-9 terbanyak pada Rawat Jalan di Rumah Sakit Jawa Barat pada Tahun 2014. OAINS merupakan salah satu obat yang banyak digunakan di Indonesia. Penggunaan OAINS memiliki banyak efek samping diantaranya dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk dihasilkan suatu temuan mengenai seberapa besar hubungan antara penggunaan OAINS terhadap kejadian gejala gastritis. Penelitian ini berjenis observasional analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah minimal sampel penelitian yang dibutuhkan adalah 80 orang dan ditetapkan dengan cara Accidental Sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (uji chi-square) menggunakan SPSS. Dari 96 responden, didapatkan 54 orang (56.3%) memiliki riwayat gejala gastritis, sementara 42 orang (43.8%) lainnya tidak. Dalam hal frekuensi penggunaan OAINS ditemukan sebanyak 22 orang (22.9%) tidak pernah, 67 orang (69.8%) kadang-kadang, dan 7 orang (7.3%) sering mengonsumsi OAINS. Berdasarkan hasil uji Chi Square didapatkan hubungan yang tidak bermakna (signifikan) antar 2 variabel yakni dengan nilai p = 0.088 (>0.05).Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara OAINS dengan gejala gastritis pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Angkatan 2018 dan menurut pandangan Islam, hukum mengonsumsi OAINS bagi orang yang memiliki riwayat gastritis adalah mubah ditinjau dari mafsadah dan mudharatnya.
The Use of Prophylaxic Antibiotics in Patients with Caesarean Section in the Inpatient Installation of Cibinong Regional General Hospital in the Period of January - December 2023 Saifana, Qanita; Lilian Batubara; Dharma Permana
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.912

Abstract

Background: Postoperative infections after cesarean section (CS) remain a major concern, increasing morbidity, hospitalization duration, and healthcare costs. Prophylactic antibiotics are an important preventive measure, but their effectiveness depends on appropriate type, dose, timing, and adherence to guidelines. This study evaluated prophylactic antibiotic use in CS patients at Cibinong Regional General Hospital (RSUD). Methods: A descriptive cross-sectional study analyzed medical records of 81 CS patients from January to December 2023. Data on antibiotic type, dose, timing, and clinical outcomes were assessed against hospital, POGI, and ASHP guidelines. Results: All patients received prophylactic antibiotics. Cefazolin was most commonly used (61.7%) and showed the highest effectiveness, with no infections among 50 patients. In contrast, ampicillin, gentamicin, and metronidazole were less effective, with infection rates of 26.7%, 100%, and 100%, respectively. Overall, 24.7% of patients developed postoperative infections. Discussion: Findings highlight cefazolin’s superiority, consistent with international guidelines recommending it as first-line prophylaxis for CS. Variations in antibiotic selection, dosing, and timing were linked to higher infection rates, emphasizing that protocol inconsistencies reduce effectiveness. Risk factors such as maternal age, obstetric history, and indication for CS may also influence outcomes. Conclusion: Prophylactic antibiotic use at Cibinong RSUD generally followed guidelines, with cefazolin proving most effective. However, inconsistent practices in dosage and timing contributed to a notable infection rate, underscoring the need for stricter adherence to standards.