Pravidjayanto, Mochammad Rafi
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Breaking Barriers: Women's Political Mobilization in Rural Village Head Elections Pravidjayanto, Mochammad Rafi
International Journal of Law Dynamics Review Vol. 2 No. 1 (2024): May
Publisher : Nursyam Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62039/ijldr.v2i1.31

Abstract

This article describes the victory of female village head candidates in village head elections as a rare occurrence, mainly due to the lack of access for women to leadership positions due to a solid patriarchal culture. However, after being elected, women proved to have the competence to lead, showing that women can become leaders at the village level. Cultural shifts, especially in Javanese culture, have allowed women to be involved in the public sphere, including in organizations such as the the Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Dasawisma, and others. This paper uses a qualitative approach and case studies to examine the phenomenon. Data were obtained through observation, dialogue, and in-depth interviews. The results show that women can gather and mobilize political power from multiple sources to influence voters and dominate the dynamics of village democracy. Habitus of leadership, symbolic dominance, hegemony of social institutions, and kinship became the main instruments utilized by female village head candidates. They draw on leadership experience in social solid and kinship institutions to win village head elections.
Kualifikasi Novum Pasca Putusan Mahkamah Kontitusional Nomor 34/PUU-XI/2013 dalam Mengakomodir Hak Konstitusional Terpidana Pada Peninjauan Kembali Pravidjayanto, Mochammad Rafi; Candra, Marlie
QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan Vol 8 No 1 (2024)
Publisher : FASYA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/qj.v8i1.8169

Abstract

Tulisan ini berangkat dari pertentangan norma antara Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XI/2013 yang menyatakan bahwa KUHAP Pasal 268 Ayat 3 tentang pengajuan Peninjauan Kembali lebih dari satu kali dinyatakan konstitusional bersyarat apabila terdapat Novum yang ditemukan berdasarkan penemuan hukum yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Selanjutnya, berdasarkan KUHAP Pasal 263 Ayat 2 huruf a menyebutkan bahwa permintaan peninjauan kembali dilakukan apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat. Namun yang menjadi problematik adalah belum diaturnya standar kualifikasi Novum pada peninjauan kembali. Fakta menunjukan bahwa dari tahun 2017 hingga 2021. Presentasi permohonan Peninjauan Kembali yang dikabulkan konsisten berada di bawah angka 20% (dua puluh persen). Obyek penulisan ini terkait dengan perumusan standar kualifikasi Novum pada upaya hukum peninjauan kembali dalam peradilan pidana. Penelitian ini merupakan penelitian normatif yuridis dengan menggunakan pendekatan konseptual dan perundang-undangan, serta didukung dengan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlu diatur secara normatif yuridis mengenai standar kualifikasi Novum pada peninjauan kembali dalam hukum acara pidana. Dengan demikian perlu dirumuskan secara komprehensif mengenai standar kualifikasi Novum agar menjadi rujukan terpidana untuk mengajukan peninjauan kembali demi memenuhi hak konstitusional terpidana. Sehingga menjadi penting mengadopsi mekanisme audit forensik kepada berbagai jenis Novum dalam persidangan Peninjauan Kembali agar memenuhi keadilan dan kepastian hukum.
Pertanggungjawaban Komando dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia Pravidjayanto, Mochammad Rafi; Alfatoni, Muhammad Aqil; Fajrin, Muslihah Yunita
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v4i1.2388

Abstract

Abstract: The ineffectiveness of legal norms in Article 42 paragraphs (1) and (2) of Law Number 26 of 2000, which contains the material of command accountability, has implications for the impunity of gross human rights violators committed by law enforcement officials. This paper aims to find out the principles, problems, and ideal concepts in command accountability, which will then be internationalised in the National Code of Law (KUHP) with the hope that in the future the a quo article can be effective in ensnaring perpetrators of gross human rights violations, through juridical-normative methods with a conceptual approach, and a statute approach. The results of this article are, first, the existence of inequality in subjective elements in Articles 598-599 of the National Criminal Code, which relates to gross human rights, and Article 42 of Law Number 26 of 2000. This has the potential to ensnare the legal subject of citizens who incidentally are not obligors, so that it is more effective to include the element of command accountability in the explanation of the word "everyone" in the National Criminal Code. Second, in the procedural law of human rights courts, there is a recommendation to use reverse proof strictly by focusing on proving the causal relationship between the involvement of military commanders or civilian superiors and their soldiers or subordinates. Standardisation of evidence is also needed so that cases of gross human rights violations can be resolved immediately.Keywords: Command Responsibility; National Criminal Code; Gross Humanitarian Violence. Abstrak: Ketidakefektifan norma hukum dalam Pasal 42 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 yang memuat materi pertanggungjawaban komando, berimplikasi pada impunitas pelanggar Hak Asasi Manusia berat (HAM berat) yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui prinsip, problematika, dan konsep ideal dalam pertanggungjawaban komando yang selanjutnya akan di internaslisasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Nasional (KUHP Nasional) dengan harapan kedepannya pasal a quo tersebut dapat efektif dalam menjerat pelaku pelanggaran HAM berat. Melalui metode yuridis-normatif dengan pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Adapun hasil tulisan ini yakni pertama, adanya ketimpangan dalam unsur subjektif dalam Pasal 598-599 KUHP Nasional yang mengatur terkait dengan tindak pidana yang berkaitan dengan HAM berat, dan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Hal tersebut memiliki potensi dalam menjerat subjek hukum warga negara yang notabene bukan pemangku kewajiban sehingga lebih efektifnya memasukkan unsur pertanggungjawaban komando pada penjelasan kata “setiap orang” dalam KUHP Nasional. Kedua, pada hukum acara pengadilan HAM terdapat rekomendasi menggunakan pembuktian terbalik secara ketat dengan berfokus pada pembuktian hubungan kausal antara keterlibatan komandan militer atau atasan sipil dengan prajurit atau bawahannya. Standarisasi alat bukti juga diperlukan agar kasus pelanggaran HAM berat di dapat segera terselesaikan.Kata Kunci: Pertanggungjawaban Komando; Kitab Undang-Undang Hukum Pidana; Pelanggaran Hak Asasi Manusia Berat.
REFORMASI PEMIDANAAN KORUPSI KORPORASI MELALUI KONSTRUKSI MODEL DEFFERED PROSECUTION AGREEMENT BERBASIS KEADILAN SOSIAL DI INDONESIA Pravidjayanto, Mochammad Rafi; Haq, Neha Hifa; Alfatoni, Muhammad Aqil
Jurnal Yuridis Vol 12 No 1 (2025): Jurnal Yuridis
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35586/jyur.v12i1.10751

Abstract

Corruption is the main factor in doing business in Indonesia. The subject of corporate law plays a major role in the rate of economic growth in Indonesia, thus causing a tendency for corruption crimes by corporations. Enforcement through penal channels imposed on corporations reaps problems, such as a decline in public trust which results in a decrease in corporate income which has implications for mass termination of employment. The purpose of this paper is to examine the opportunities and challenges of implementing the Deferred Prosecution Agreement (DPA) or suspension of prosecution in the enforcement of corporate crimes carried out with a non-penal approach based on John Rawls' social justice. This study uses a juridical-normative method with conceptual, legislative, and comparative approaches. The results of the paper show that the importance of the implementation of the DPA and its potential application lies in the prosecutor as the ruler of the case by applying the principle of opportunity. The challenges in its implementation are related to the differences in the state legal system that uses the DPA mechanism, the shift in the principle of enforcing corruption crimes as extra ordinary crimes from primum remedium to ultimum remedium. The recommendations offered include the urgency to establish a special law that regulates the DPA mechanism in Indonesia as a consequence of the civil law legal system, adding a mechanism if the corporation has good faith in submitting an agreement with the prosecutor through Self-Report and opportunities to improve corporate governance.