Fahmi Nuraziz Awaludin
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERKAWINAN BEDA AGAMA: TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF INDONESIA Fahmi Nuraziz Awaludin; Tajul Arifin
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v5i2.3929

Abstract

Perkawinan beda agama dalam hukum Islam kompleks. Al-Qur''an melarang pernikahan Muslim dengan musyrik, tetapi memperbolehkan dengan ahlulkitab. Ketidaksepakatan ini memunculkan pertanyaan tentang batasan ahlulkitab. Secara umum, larangan pernikahan antara wanita Muslim dengan pria non-Muslim telah disepakati ulama karena khawatir gangguan dalam rumah tangga. Hukum positif Indonesia juga cenderung membatasi perkawinan beda agama, mengutamakan identitas keagamaan dan keselarasan spiritual. Penelitian ini merupakan studi literatur, yang melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber seperti buku, tesis, jurnal, dan artikel yang relevan dengan topik yang dibahas. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu metode yang menghimpun data dan kemudian menyimpulkan hasilnya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, yang menurut Baghdham dan Taylor, merupakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif dalam bentuk tulisan atau lisan dari subjek yang diteliti.Diskusi tentang perkawinan lintas agama, khususnya dalam hukum Islam, menyoroti pernikahan pria Muslim dengan wanita musyrik, ahlulkitab, dan larangan wanita Muslim dengan pria non-Muslim. Islam melarang pernikahan dengan musyrik, memperbolehkan dengan ahlulkitab dengan syarat, dan melarang wanita Muslim menikah dengan non-Muslim, diatur dalam Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Larangan ini untuk menjaga keyakinan agama dan konsistensi hukum negara.Kesimpulannya, dalam diskusi tentang perkawinan lintas agama, terdapat ketegasan hukum Islam dan hukum positif dalam melarang pernikahan antara seorang Muslim dengan non-Muslim. Larangan ini didasarkan pada pertimbangan agama, keutuhan keyakinan, serta untuk mencegah potensi kemurtadan. Oleh karena itu, dalam praktiknya, perkawinan lintas agama tidak diperbolehkan dalam masyarakat Muslim.
Produk Perbankan Syariah: Analisis Akad Penghimpunan Dana, Pembiayaan, dan Penyelesaian Sengketa Murabahah dalam Praktik Perbankan di Indonesia Fahmi Nuraziz Awaludin; Rayhan Ade Dwiyana; Naufal H
Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry Vol 1 No 2 (2025): December: Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/tzytsn73

Abstract

This study examines Islamic banking products with a particular emphasis on the legal analysis of fund-raising contracts, murabahah financing, and dispute resolution mechanisms in Indonesian banking practice. A normative juridical approach is employed to assess the coherence between Sharia principles, positive law provisions, and the contractual implementation adopted by Islamic banks. The findings indicate that fund-raising contracts based on wadiah and mudharabah carry significant legal implications for customer protection and the certainty of contractual relationships. Murabahah financing, as the dominant product, continues to face juridical challenges, notably in relation to the fulfillment of sale-and-purchase elements, margin transparency, and the allocation of risk between banks and customers. Murabahah disputes are commonly triggered by default and imbalanced contractual clauses, necessitating dispute resolution mechanisms that are fair, effective, and consistent with Sharia principles. Resolution through non-litigation processes, Sharia arbitration, and litigation underscores the pivotal role of contract quality as the foundation of legal protection. This study affirms that strengthening the legal aspects of contracts and harmonizing regulations are essential prerequisites for the sustainability of Islamic banking. The findings are expected to contribute conceptually to the development of Islamic banking law and to the sustained enhancement of public trust within a framework of legal justice at the national level.
Penanaman Kelapa Sawit Sebagai Ancaman Ekologis dalam Perspektif Hukum Lingkungan Ade Lukman Firmansyah; Fahmi Nuraziz Awaludin; Dewi Mayang; Tansya Hadiansyah Ramdi; Yoga Ammar Arifin
Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry Vol 1 No 2 (2025): December: Custodia: Journal of Legal, Political, and Humanistic Inquiry
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/jcwx5398

Abstract

This study examines oil palm cultivation as an ecological threat from the perspective of environmental law, focusing on the paradoxical role of the state in regulating and promoting plantation expansion. Using a normative juridical approach with descriptive-analytical methods, the research analyzes statutory regulations, environmental law principles, and policy frameworks governing oil palm plantations and environmental protection. The findings indicate a structural contradiction between the state’s constitutional obligation to protect the environment and its economic policies that actively encourage oil palm expansion. Although environmental law instruments, including environmental permits and environmental impact assessments, are formally established to prevent ecological degradation, their implementation remains largely procedural and weakly enforced. This condition contributes to deforestation, biodiversity loss, water pollution, and social-ecological conflicts affecting local communities. The study reveals that the dominance of economic interests has positioned environmental protection as subordinate within development policy.