p-Index From 2021 - 2026
0.817
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Cipta
Ihwanny, Rista
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Visualisasi Emosi Karakter Melalui Perancangan Sinematografi Pada Film Animasi Child Star (2024) Sunjoto, Gabriel Amelia; Ihwanny, Rista
Cipta Vol 4, No 1 (2025): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/cipta.v4i1.4386

Abstract

Kerusuhan Mei 1998 di Indonesia merupakan salah satu peristiwa paling tragis yang meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Trauma yang dialami oleh para orang tua kemudian memengaruhi pola pengasuhan mereka, yang pada akhirnya menimbulkan konflik dalam keluarga. Penelitian ini membahas bagaimana emosi karakter divisualisasikan melalui sinematografi dalam pembuatan storyboard film Child Star. Penelitian ini menggunakan teori sinematografi, storyboard, dan lima tahap kedukaan (five stages of grief). Dengan metode kualitatif, peneliti melakukan observasi langsung terhadap sutradara Child Star untuk memperoleh data perancangan. Hasil penelitian ini berupa analisis panel storyboard dari setiap adegan yang merepresentasikan emosi pada tiap pengambilan gambar. Temuan menunjukkan bahwa elemen sinematografi seperti ritme penyuntingan (pacing), sudut pengambilan gambar (angle), dan jenis lensa merupakan aspek yang paling signifikan dalam memvisualisasikan emosi karakter, terutama dalam menggambarkan setiap tahap dari lima tahap kedukaan.
Perancangan poster sebagai artwork pada film pendek One Day, God Tell Us Our Love Story Herlyanto, Levinthius; Ihwanny, Rista
Cipta Vol 2, No 3 (2024): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/cipta.v2i3.2710

Abstract

Jauh sebelum hadirnya media sosial, poster sudah menjadi alat efektif untuk mempromosikan sesuatu. Tidak hanya berfungsi sebagai media promosi, poster juga dapat menjadi artwork. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perancangan poster sebagai artwork pada film pendek One Day, God Tell Us Our Love Story. Film yang berdurasi 8.45 menit ini diproduksi tahun 2021, bercerita tentang perjalanan cinta sepasang kekasih yang akan melakukan pernikahan. Referensi visual yang digunakan sebagai dasar perancangan poster adalah poster-poster film karya sutradara Wes Anderson dan poster-poster alternatif dari desainer-desainer independen yang dapat ditemukan di platform Pinterest. Film One Day, God Tell Us Our Love Story dirancang menggunakan gaya visual dan komposisi dari film-film karya sutradara Wes Anderson, yang bergaya minimalis, simetris, dan bermain dengan komposisi warna. Poster film tersebut pun dirancang menggunakan gaya visual dan komposisi yang sama. Poster ini menggunakan gaya ilustrasi flat design, yaitu gaya ilustrasi yang berfokus pada elemen-elemen geometris dan penyederhanaan bentuk. Visual utama dalam poster mengadaptasi set dalam film, yaitu dua kubus, yang dapat dimaknai sebagai identitas personal sepasang kekasih yang menjadi karakter utama. Poster film ini tersedia dalam bentuk digital dengan rasio 1:1 (square).
Perancangan Film Pendek Animasi AAA Walk Cycle Menggunakan Prinsip Dasar Animasi Adiwijaya, Ahmad Arief; Ihwanny, Rista
Cipta Vol 2, No 1 (2023): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/cipta.v2i1.2017

Abstract

Dalam perancangan sebuah film animasi, penerapan prinsip dasar animasi merupakan tahapan penting untuk membantu memperkuat kualitas visual film. Duabelas prinsip dasar animasi diperkenalkan oleh dua animator Disney, Ollie Johnston dan Frank Thomas, untuk membuat film animasi terlihat lebih realistis. Film AAA Walk Cycle adalah film animasi pendek yang dirancang menggunakan prinsip dasar animasi. Film ini memperlihatkan seorang tokoh melakukan walk cycle (siklus berjalan kaki) secara berulang (loop). Perancangan film ini dilakukan dalam beberapa tahapan, antara lain proses penggambaran keypose, inbetween, dan penambahan gerakan penunjang menggunakan beberapa perangkat lunak seperti Adobe Photoshop dan After Effects. Terlepas dari terbatasnya jenis gerakan yang ditampilkan, penerapan beberapa prinsip dasar animasi menjadi poin penting dalam perancangan animasi walk cycle yang dibutuhkan dalam film. Lebih lanjut, penerapan prinsip dasar animasi dapat memperkuat kualitas visual film AAA Walk Cycle.
Penggunaan Warna sebagai Representasi Kekuasaan Kolonial dalam Perancangan Film Animasi Lost In Gold Achmadi, Crisansyah; Ihwanny, Rista
Cipta Vol 2, No 1 (2023): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/cipta.v2i1.1974

Abstract

Lost in Gold merupakan film animasi pendek yang mengangkat isu kekuasaan kolonial dalam konteks eksploitasi sumber daya, kelas sosial, dan juga perburuan liar. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana isu kekuasaan kolonial tersebut dapat diwujudkan melalui penggunaan warna. Teori warna digunakan untuk membantu melakukan pemilihan kombinasi warna yang tepat. Teori warna yang dipakai meliputi teori warna analogous, tetradic, monochromatic, dan juga pengaturan value. Selain teori warna, penulis juga menggunakan teori psikologi warna untuk menjelaskan makna dari setiap warna yang digunakan. Warna-warna yang digunakan untuk menerapkan isu kekuasaan kolonial tersebut adalah warna merah, kuning, biru, dan hijau. Warna merah digunakan untuk warna mantel yang digunakan oleh karakter utama. Warna kuning digunakan untuk warna rambut dan juga kancing sebagai aksen dari mantel yang dipakai oleh karakter utama. Warna biru digunakan sebagai warna pada langit, laut, dan latar belakang hutan dari kejauhan. Warna hijau digunakan untuk warna hutan beserta dengan pepohonan, dedaunan, dan semak-semak. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menggunakan pemilihan warna dan juga kombinasi warna yang sesuai, isu kekuasaan kolonial bisa diterapkan ke dalam film animasi Lost in Gold.