Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PUTUSAN TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP DIKAITKAN DENGAN PRINSIP EKOLOGI INTERGRAL DALAM DOKUMEN LAUDATO SI : STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 162/PID.B/2013/PN.MAB Siddarta, Reginald; Purba Kencana, Julio; Pan, Alpinus; Deva Hexanno, Sirilus Anantha
Gloria Justitia Vol 3 No 2 (2023): Gloria Justitia 3(2)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/gloriajustitia.v3i2.4971

Abstract

Fokus utama dalam penulisan ini adalah agar dapat memahami putusan hakim pengadilan negeri Muara Bungo tentang tindak pidana lingkungan hidup berdasarkan ketentuan hukum positif Indonesia dan prinsip ekologi integral dalam dokumen Laudato Si. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normative yaitu studi kepustakaan mengenai perundang-undangan dan dokumen laudato Si. Putusan Tindak Pidana Lingkungan Hidup di Muara Bungo No 162/PID.B /2013/PN.Mab ini mengkaji mengenai beberapa pelaku yang melakukan penambangan emas tanpa ijin. Penambangan yang dilakukan tanpa ijin dapat mempengaruhi aspek ekologi integral yaitu rusaknya lingkungan dan berkurangnya hasil tambang di masa yang akan datang. Penambangan tanpa ijin melanggar hukum yang berlaku di Indonesia dan dapat dikenakan sanksi pidana dan perdata. Selain itu Laudato Si sebagai pedoman dalam Gereja Katolik juga mengajarkan tentang pentingnya menerapkan prinsip lingkungan hidup.
Menjadi Diri Sendiri Di Dunia Yang Terkoneksi Ditinjau Dari Perspektif Kierkegaard Dan Krisis Subjektivitas Digital ., Dendri; B. Lena Meo, Yohanes Wilson; Rohit, Urbanus; Ignasius Koten, Santo; Deva Hexanno, Sirilus Anantha
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.272

Abstract

Di era digital yang ditandai oleh konektivitas konstan dan dominasi media sosial, individu, khususnya kaum muda, menghadapi krisis subjektivitas yang mendalam. Identitas sering kali dibentuk oleh tuntutan performatif digital, pencarian validasi eksternal, dan pelarian dari kecemasan eksistensial melalui estetika citra diri. Artikel ini mengkaji krisis tersebut melalui lensa filsafat Søren Kierkegaard, yang menekankan pentingnya subjektivitas otentik, keberanian menghadapi kecemasan, dan relasi personal dengan Yang Mutlak. Dunia digital dibaca sebagai perwujudan dari tahap estetis dalam pemikiran Kierkegaard, di mana individu cenderung menghindari tanggung jawab eksistensial dan terjebak dalam keputusasaan tersembunyi. Dengan menggali tahap-tahap eksistensial—estetis, etis, dan religius—artikel ini mengusulkan pendekatan reflektif terhadap penggunaan teknologi: bukan penolakan, melainkan transformasi. Filsafat Kierkegaard memberikan kerangka untuk membangun subjektivitas otentik di tengah distraksi digital, melalui kesadaran diri, pilihan etis, dan iman yang hidup. Akhirnya, menjadi diri sendiri di era digital memerlukan lebih dari sekadar manajemen citra; ia menuntut integritas batin, keberanian eksistensial, dan kesetiaan terhadap panggilan terdalam manusia.