Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Minuman Keras Sebagai Faktor Determinan Tindak Kejahatan Penganiayaan di Wilayah Jakarta Selatan Rosa Amalia Fatma; Triny Srihadiati
UNES Law Review Vol. 6 No. 4 (2024): UNES LAW REVIEW (Juni 2024)
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i4.1994

Abstract

Minuman keras adalah semua minuman yang mengandung alkohol (zat psikoaktif) bersifat adiktif yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, dan kognitif, serta bila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus dapat merugikan dan membahayakan jasmani, rohani maupun bagi kepentingan perilaku dan cara berpikir kejiwaan. Perilaku penggunaan minuman keras saat ini merupakan permasalahan yang cukup berkembang dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun, yang akibatnya dirasakan dalam bentuk kenakalan-kenakalan, perkelahian, perbuatan asusila, dan maraknya premanisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana analisis containment theory terhadap pengaruh minuman keras sebagai faktor determinan dari tindak kejahatan penganiayaan di wilayah Jakarta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan sumber data primer dan sekunder. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah containment theory atau teori penahanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara tindak kejahatan penganiayaan akibat pengaruh minuman keras dengan faktor inner containment dan outer containment. Bentuk pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan pihak penegak hukum yaitu dengan upaya preventif dan represif.
Analysis Of The Crime Of Premeditated Murder Using Cyanide Poison in the Perspective of Routine Activity Theory (Case Study in Sukabumi City) Triny Srihadiati; Abdur Rozak
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 4 No. 4 (2024): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities (May-June 2024)
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v4i4.368

Abstract

This research investigates the phenomenon of premeditated murder using cyanide poison in the context of the Routine Activity Theory perspective. The focus of this research is a case study of premeditated murder using poison committed in Sukabumi City. The research method used involved qualitative analysis of data from various sources, including police reports, forensic results, and interviews with relevant parties. The purpose of this study was to determine the compatibility between routine activity theory and premeditated murder, which in this study used cyanide poison. The results showed that the crime of premeditated murder using cyanide poison often involves a planning process that is integrated with the routine activities of the perpetrator and victim. Routine Activity Theory provides an in-depth understanding of how such crimes are planned, executed and ultimately executed. In the context of the case studied, the perpetrator provided magical money-multiplying services through rituals, capitalizing on the victim's belief in the supernatural without conducting prior research, which ultimately led to the victim's death from poisoning. The findings highlight the importance of understanding the factors that influence offenders' success in planning and executing crimes, and the implications for prevention and law enforcement efforts. This research also contributes to the theoretical understanding of the relationship between routine activities and premeditated crimes, as well as providing practical insights for law enforcement officials in dealing with similar cases in the future.
Tinjauan Kriminologi Kritis terhadap Dekriminalisasi Penyalahgunaan Narkotika Jenis Ganja untuk Kepentingan Medis Alfikri, Muhammad Rizkillah; Triny Srihadiati
Anomie Vol. 7 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Narkotika mempunyai manfaat dalam ilmu kesehatan yang biasa dimanfaatkan untuk pengobatan dan penelitian ilmiah, tetapi tidak dengan ganja karena tanaman ini dikategorikan menjadi golongan I yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika. Penelitian ini ingin menganalisis tentang dekriminalisasi penyalahgunaan ganja untuk kepentingan medis melalui pandangan aliran kriminologi kritis yaitu menggunakan Teori Konflik Richard Quinney. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Metode ini dipilih guna menemukan data instrumen yang relevan dengan topik yang diangkat, tentang pemanfaatan ganja medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ganja untuk medis masih belum terealisasikan, karena belum ada riset yang membuktikan kebermanfaatan ganja di Indonesia, sehingga penyalahgunaannya tetap diproses hukum. Reformulasi kebijakan harus dipertimbangkan sebagai pemenuhan hak setiap orang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Analisis teori menemukan beberapa faktor seperti politik, sosial, dan ekonomi yang sangat berpengaruh dalam mempertimbangkan pemanfaatan ganja medis
Minuman Keras Sebagai Faktor Determinan Tindak Kejahatan Penganiayaan di Wilayah Jakarta Selatan Rosa Amalia Fatma; Triny Srihadiati
UNES Law Review Vol. 6 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i4.1994

Abstract

Minuman keras adalah semua minuman yang mengandung alkohol (zat psikoaktif) bersifat adiktif yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, dan kognitif, serta bila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus dapat merugikan dan membahayakan jasmani, rohani maupun bagi kepentingan perilaku dan cara berpikir kejiwaan. Perilaku penggunaan minuman keras saat ini merupakan permasalahan yang cukup berkembang dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahun, yang akibatnya dirasakan dalam bentuk kenakalan-kenakalan, perkelahian, perbuatan asusila, dan maraknya premanisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana analisis containment theory terhadap pengaruh minuman keras sebagai faktor determinan dari tindak kejahatan penganiayaan di wilayah Jakarta Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan sumber data primer dan sekunder. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah containment theory atau teori penahanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara tindak kejahatan penganiayaan akibat pengaruh minuman keras dengan faktor inner containment dan outer containment. Bentuk pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan pihak penegak hukum yaitu dengan upaya preventif dan represif.
Space Transition Theory dalam Cyber Sexual Harrasment terhadap Konten Kreator Wanita di Platform TikTok Sherly Waruwu; Triny Srihadiati
Journal of Feminism and Gender Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Feminism and Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cyber-sexual harassment is a form of online gender-based violence (GBV). Currently, it is increasingly prevalent on social media platforms, one of which is TikTok. The emergence of comments that contain sexual elements, objectification of the body. Many words whose meaning is shifted towards a negative direction whose purpose is to harass. This phenomenon indicates a shift in deviant behavior from real space to cyberspace, which demands a new theoretical approach in understanding the motivation of the perpetrator. This study aims to analyze the behavior of cyber sexual harassment perpetrators against female content creators on TikTok using Space Transition Theory (Karuppannan Jaishankar, 2008). This research uses a qualitative method with several data collection techniques, one of which is conducting in-depth interviews with perpetrators who admit to having made sexualized comments to female creators on TikTok. The data were analyzed by matching the field findings against the seven postulates in Space Transition Theory. The results show that the postulates in the theory appear in the behavior of the perpetrator, ranging from the release of behavior that is held back in the real world, the use of anonymity to avoid consequences, to the influence of virtual social norms that tend to tolerate acts of harassment. This phenomenon also shows the dynamic interaction between the real and virtual worlds, both in terms of behavior and social values. Space Transition Theory is relevant to explain the tendency of perpetrators to commit sexual harassment on social media, especially on platforms such as TikTok. This theory is an important foundation in understanding gender-based cybercrime from the perspective of perpetrator behavior.