Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Interpretation of the Verses of Istighfar of the Believers: Study of Tafsir al-Maraghi Oktavia Dian Riski; Faridah Abduhu; Fajar Novitasari
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 2 No. 2 (2024): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v2i2.654

Abstract

Every believer who commits a sin, Allah always commands to say istighfar as a way to erase the sin. It is important to study from the perspective of the Qur'an how the interpretation of the verses of istighfar can help erase every sin if practiced. This article aims to discuss the verses of istighfar for believers in the perspective of Tafsir al-Maraghi. By using qualitative methods and descriptive analytical library research, this article examines the verses of istighfar by referring to the book Mu'jam al-A'lam which found seven verses that are in line with this discussion. The article concludes that al-Maraghi's interpretation of the verses of istighfar provides an understanding of the importance of always saying istighfar. Al-Maraghi explains the position of istighfar not only as a suggestion to erase sins, but also equal to repentance, istighfar is more important than asking for victory, the position of istighfar as a veil, the position of istighfar when the situation is difficult is the best time, the position of istighfar as a form of compassion and the position of istighfar as a way to be facilitated in hisab. Of course, the meaning of istighfar by al-Maraghi can be used as a guide for believers to always introspkesi themselves by saying istighfar to Allah SWT.
AKTUALISASI NILAI-NILAI IHSAN TERHADAP ORANGTUA DALAM TAFSIR FII ZHILAALIL QUR’AN Nirmala Dian Kartika; Muhammad Mukharom Ridho; Fajar Novitasari
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 7 No. 2 (2025): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol7.iss2.art13

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang aktualisasi nilai-nilai ihsan terhadap orangtua berdasarkan Tafsir Fii Zhilaalil Qur’an karya Sayyid Quthb. Ihsan, yang berarti berbuat baik secara maksimal dan ikhlas karena Allah, merupakan nilai penting dalam ajaran Islam yang juga sangat ditekankan dalam hubungan anak dan orangtua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan tafsir tematik untuk menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kewajiban berbakti kepada orangtua. Sumber utama dalam penelitian ini adalah tafsir Fii Zhilaalil Qur’an, dengan didukung sumber sekunder dari jurnal dan literatur ilmiah lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sayyid Quthb menafsirkan ayat-ayat ihsan terhadap orangtua secara kontekstual, menghubungkannya dengan realitas sosial dan moral masyarakat. Ihsan terhadap orangtua dapat diwujudkan melalui pendampingan emosional dan fisik di masa tua, perhatian terhadap kondisi sosial, spiritual, dan psikologis mereka, serta pembiasaan nilai-nilai hormat sejak dini melalui pendidikan keluarga. Penafsiran Sayyid Quthb menekankan bahwa nilai-nilai ihsan bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga etika sosial yang harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter.
ETIKA MALU DALAM AL-QUR’AN (STUDI TEMATIK AYAT-AYAT TENTANG SIFAT MALU DALAM TAFSIR AL-AZHAR Nabiilah Mujahidah; Muhammad Mukharom Ridho; Fajar Novitasari
At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2026): Ahwal Syakhsiyah, Pendidikan Agama Islam, Ekonomi Islam
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/tullab.vol8.iss1.art4

Abstract

Etika merupakan aspek fundamental dalam ajaran Islam yang mencakup berbagai nilai moral, salah satunya adalah sifat malu (ḥayā’). Sifat ini memiliki peran penting sebagai penjaga integritas moral dan spiritual seorang Muslim. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep sifat malu, serta mengevaluasi tafsir Buya Hamka terhadap ayat-ayat tersebut sebagaimana tercantum dalam Tafsir al-Azhar. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah tafsir tematik (maudhu’i) dengan metode kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengandung sejumlah nilai yang menekankan pentingnya rasa malu, baik dalam interaksi sosial, tata cara berpakaian, maupun dalam sikap seorang hamba terhadap Tuhannya. Buya Hamka, dalam tafsirnya, menekankan bahwa malu bukan semata-mata etika personal, melainkan mencerminkan dimensi sosial dan spiritual yang luas. Dengan memahami konsep etika malu dalam Al-Qur’an melalui perspektif Tafsir al-Azhar, diharapkan pembaca memperoleh pemahaman yang mendalam dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kontemporer yang cenderung mengabaikan nilai-nilai kesantunan dan adab.