Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Efektivitas ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan Cabe Jawa (Piper retrofractum) sebagai Insektisida Alami Hama Kutu Putih (Paracoccus marginatus) pada Tanaman Singkong (Manihot esculenta) Aswan, Mohammad Syaifudin; Nurmasari, Fitri
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 3 No. 1 (2024): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v3i1.1745

Abstract

Tanaman singkong (Manihot esculenta) merupakan salah satu tanaman penting bagi masyarakat di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Salah satu masalah utama yang sering dihadapi oleh petani singkong adalah serangan hama kutu putih (Paracoccus marginatus). Serangan hama kutu putih dapat mengurangi kemampuan tanaman untuk tumbuh dan menghasilkan cadangan makanan, yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan angka produksi tanaman singkong. Penggunaan insektisida kimia telah lama dilakukan sebagai langkah penanggulangan dampak hama kutu putih. Namun penggunaan insektisida kimia dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, perlu ditemukan pembasmi hama yang minim dampak, salah satunya adalah dengan penggunaan insektisida alami. Banyak ragam dan jenis tanaman yang dapat dijadikan insektisida alami, antara lain cabe jawa (Piper retrofractum), dan jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan jahe merah dan cabe Jawa sebagai alternatif insektisida alami dalam mengendalikan hama kutu putih pada tanaman singkong. Hasil pengamatan dan analisis data menunjukkan bahwa Insektisida Alami dengan kandungan ekstrak Buah Cabe Jawa dengan Konsentrasi 15% menyebabkan kematian imago P. marginatus terbesar dan memiliki rata-rata Kecepatan Kematian tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Efektivitas Variasi dan Interval Waktu Pemberian Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frustescens) Aswan, Mohammad Syaifudin; Nurmasari, Fitri
JURNAL BIOSENSE Vol 6 No 02 (2023): Edisi Desember 2023
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/biosense.v6i02.3309

Abstract

Abstrak. Cabe merupakan komoditas penting dan digunakan secara luas di seluruh wilayah Indonesia. Ketersediaan dan kualitas cabe sangat dipengaruhi oleh performa pertumbuhan cabe selama masa tanam. Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman cabe adalah penggunaan pupuk yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan konsentrasi pupuk organik cair yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabe rawit. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial 4x3. Faktor pertama pada rancangan ini adalah jenis pupuk yaitu P1 : Urin kambing, P2 : Urin Sapi, P3 : NASA, P4 : Biofarm dengan 3 interval waktu aplikasi sebagai faktor kedua yaitu T1 : 6 hari sekali, T2 : 12 hari sekali, dan T3 : 18 hari sekali. Tiap perlakuan diulang 5 kali, sehingga didapatkan 60 unit data eksperimental. Pengamatan dan pengambilan data dilakukan pada tiga parameter yaitu tinggi tanaman, jumlah buah per tanaman, dan berat buah per tanaman. Data yang didapatkan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) serta diuji lanjut dengan menggunakan Duncan’s Multiple Range Test taraf 5%. Hasil pengamatan dan analisa data menunjukkan bahwa pupuk urin kambing menunjukkan hasil tertinggi diikuti oleh pupuk NASA, dengan interval pemberian pupuk 6 hari sekali. Kata kunci: Cabai rawit, pupuk organik cair, interval waktu pemberian pupuk Abstract. Cayenne pepper is an important commodity and widely used in Indonesia. Cayenne pepper supply and quality is greatly affected by the growth performance during planting time. The right fertilizer is one of the most important factors for the growth of Cayenne pepper. This research is conducted to determine the right variant and dose of liquid fertilizer to improve Cayenne pepper growth and productivity. The methods used in this study was Randomized Complete Design with a 4 x 3 factorial pattern and 3 replication each, so there were 36 experimental design units. The first factor of this research design is liquid fertilizer types, which consist of P1 : Goat urine, P2 : Cow urin, P3 : NASA, P4 : Biofarm with 3 different interval of fertilizer application as the second factorial matters. Parameters observed in this study are plan heights, fruit’s numbers, and fruit’s weight for each plant. Data obtained in this study were statistically analyzed using F (ANOVA) test and Duncan Multiple Range Test for further test. The result showed that goat urine has the highest effect on the tested plant followed by NASA liquid fertilizer at 6 days interval of fertilizer application.
Efektivitas pemanfaatan Zinnia elegans dalam pengendalian hama hayati dengan teknik refugia pada tanaman cabe rawit (Capsicum frustescens) di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi Aswan, Mohammad Syaifudin; Nurmasari, Fitri
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 1 No. 2 (2022): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v1i2.692

Abstract

Cabe atau cabai rawit adalah salah satu tanaman komoditas dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi di daerah Sidowangi, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Tanaman cabe rawit di Desa Sidowangi dibudidayakan di lahan persawahan dengan produktivitas baik dan pola pertanaman yang teratur berkala. Potensi dan nilai ekonomi cabe rawit yang relatif tinggi menyebabkan cabe rawit menjadi komoditas unggulan di kawasan Kecamatan Wongsorejo, selain jagung dan semangka. Pada kondisi ideal, produktivitas tanaman cabe stabil sepanjang tahun disertai dengan harga yang relatif stabil, meskipun terjadi fluktuasi di bulan-bulan tertentu. Namun keberadaan dan serangan hama pengganggu tanaman berpotensi menyebabkan penurunan produksi yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas persediaan serta kualitas cabe rawit di pasaran. Penanganan hama dengan menggunakan insektisida perlahan sudah mulai dikurangi mengingat efek yang ditimbulkan dari penggunaan insektisida dalam jangka panjang. Karena itu dibutuhkan adanya metode dan teknik penanganan hama yang lebih eco friendly, murah dan mudah diaplikasikan di level petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan tanaman Zinnia elegans sebagai pengendalian hayati dengan teknik refugia pada tanaman cabe rawit. Hasil pengamatan dan analisis data menunjukkan adanya tingkat keanekaragaman serangga yang signifikan pada pertanaman cabe dengan refugia dan pertanaman cabe tanpa refugia.
Efektivitas ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan Cabe Jawa (Piper retrofractum) sebagai Insektisida Alami Hama Kutu Putih (Paracoccus marginatus) pada Tanaman Singkong (Manihot esculenta) Aswan, Mohammad Syaifudin; Nurmasari, Fitri
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 3 No. 1 (2024): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v3i1.1745

Abstract

Tanaman singkong (Manihot esculenta) merupakan salah satu tanaman penting bagi masyarakat di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Salah satu masalah utama yang sering dihadapi oleh petani singkong adalah serangan hama kutu putih (Paracoccus marginatus). Serangan hama kutu putih dapat mengurangi kemampuan tanaman untuk tumbuh dan menghasilkan cadangan makanan, yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan angka produksi tanaman singkong. Penggunaan insektisida kimia telah lama dilakukan sebagai langkah penanggulangan dampak hama kutu putih. Namun penggunaan insektisida kimia dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, perlu ditemukan pembasmi hama yang minim dampak, salah satunya adalah dengan penggunaan insektisida alami. Banyak ragam dan jenis tanaman yang dapat dijadikan insektisida alami, antara lain cabe jawa (Piper retrofractum), dan jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan jahe merah dan cabe Jawa sebagai alternatif insektisida alami dalam mengendalikan hama kutu putih pada tanaman singkong. Hasil pengamatan dan analisis data menunjukkan bahwa Insektisida Alami dengan kandungan ekstrak Buah Cabe Jawa dengan Konsentrasi 15% menyebabkan kematian imago P. marginatus terbesar dan memiliki rata-rata Kecepatan Kematian tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Pengaruh Pemberian Jamu Tradisional Herbal Terhadap Kesuburan Mencit (Mus musculus) Betina Latifatul Khoiriyah, Siti; Zuhro, Fatimatuz; Aswan, Mohammad Syaifudin
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol 5 No 1 (2026): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infertilitas merupakan masalah kesehatan reproduksi yang semakin meningkat, baik di negara maju maupun berkembang. Penggunaan terapi alternatif berbasis herbal menjadi pilihan yang menjanjikan karena bersifat alami dan minim efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamu tradisional herbal terhadap kesuburan mencit (Mus musculus) betina melalui parameter jumlah embrio yang menempel di uterus. Penelitian menggunakan metode eskperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dan lima kelompok perlakuan : kontrol negatif,kontrol positif (Letrozole),serta tiga kelompok dengan dosis jamu 100 mg ,200 mg ,300 mg /kgbb. Pemberian dilakukan secara oral selama 14 hari dan pengamatan dilakukan pada hari ke-6 kebuntingan. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa pemberian jamu tradisional herbal belum berpengaruh secara signifikan antar perlakuan (p = 0,738). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemberian jamu tradisional herbal tidak dapat meningkatkan kesuburan mencit betina secara signifikan.