Suyud Warno Utomo
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MODEL SOSIAL SPASIAL DAMPAK KEBISINGAN LINGKUNGAN DI SEKITAR BANDARA: STUDI KASUS BANDARA HALIM PERDANAKUSUMA, JAKARTA Bagus Ferry Agrayanto; Haryoto Kusnoputranto; Suyud Warno Utomo
Majalah Ilmiah Globe Vol. 22 No. 1 (2020): GLOBE VOL 22 NO 1 TAHUN 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komersialisasi Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma (HLP) sejak tahun 2014 menyebabkan eksternalitas negatif yang tidak terhindarkan yaitu paparan kebisingan pesawat terbang. Kebisingan pesawat terbang akan berdampak terhadap menurunnya kualitas kesehatan. Dalam rangka pengendalian kebisingan pesawat terbang diperlukan model sosial-spasial dampak kebisingan pesawat terbang. Permodelan sosial-spasial yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan lingkungan, dan menentukan batas kawasan kebisingan Bandara HLP berbasis indeks WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) pada radius 300 ─ 600 m. Ruang lingkup tambahan dari permodelan sosial-spasial yaitu kategorisasi risiko kebisingan lingkungan, dan sosial ekonomi berbasis perhitungan mean hipotetik dari masyarakat yang tinggal tepat di jalur LTO (Landing Take-Off) pesawat terbang. Hasil permodelan menunjukkan tingkat kebisingan lingkungan di permukiman masyarakat sekitar Bandara HLP (67.01 ─ 70.19 dBA) tidak memenuhi baku tingkat kebisingan untuk kawasan permukiman sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 yaitu 55 dB(A). Secara spasial, hasil permodelan menunjukkan batas aman kebisingan pesawat terbang Bandara HLP terletak pada jarak 600 m dari ujung runway 06 HLP, sehingga dapat diperuntukkan sebagai kawasan permukiman ideal di sekitar Bandara HLP (WECPNL=73,80). Hasil permodelan batas kawasan kebisingan Bandara HLP selanjutnya digunakan untuk menganalisis kesesuaiannya dengan rencana tata ruang. Hasil kategorisasi menunjukkan aspek persepsi risiko mayoritas responden mulai dari kebisingan lingkungan sampai dengan sosial ekonomi termasuk kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa terdapat pertukaran yang dapat ditoleransi dengan risiko bertempat tinggal di sekitar Bandara HLP. Berdasarkan uji korelasi statistik Kendall’s Tau-b diketahui waktu domisili dan tingkat pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap persepsi risiko kebisingan lingkungan.
Understanding Knowledge, Attitude, Behavior, and Dynamic Transmission of Dengue Haemorrhagic Fever in South Tangerang and Bekasi City Nurusysyarifah Aliyyah; Haryoto Kusnoputranto; Margareta Maria Sintorini; Suyud Warno Utomo; Okky Assetya Pratiwi; Epi Ria Kristina Sinaga
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN Vol. 18 No. 2 (2026): JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkl.v18i2.2026.112-122

Abstract

Introduction: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a viral infection prevalent in tropical and subtropical climates worldwide, primarily in urban and semi-urban areas. The World Health Organization has documented that Indonesia ranks among the nations with the highest incidence of DHF in Southeast Asia and is classified as one of the most dengue-endemic territories globally. Climate factors leading to an increase in the spread of the dengue epidemic, including the changing distribution of the responsible vectors to DHF. This study aims to encourages urban resident’s knowledge, attitudes, and behavior towards DHF prevention and to investigates the dynamic transmission of DHF affected by climate factors in South Tangerang and Bekasi City. Methods: A cross-sectional study design was used, along with a chi-square test, modeling, simulation, and intervention. Interviews with respondents include knowledge, attitudes, and community behavior. Climate factor measurements include rainfall, temperature, humidity, and CO2 level in the ambient environment. Results and Discussion: The results show that urban resident’s knowledge, attitudes, and behavior regarding the DHF prevention were in good categories. Climate variability patterns affect the dynamic transmission of DHF in South Tangerang and Bekasi City. Conclusion: The government and community need to play a vital role in increasing residents' knowledge, attitudes, and behavior regarding dengue fever through information media, and also implement proper preventive measures.