Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

MEDICAL WASTE MANAGEMENT AND MINIMIZATION EFFORTS AT PUBLIC HOSPITAL. CASE STUDY: PUBLIC HOSPITAL IN EAST JAKARTA, INDONESIA Wulandari, Puri; Kusnoputranto, Haryoto
Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2015): Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.12 KB) | DOI: 10.12928/kesmas.v9i2.2127

Abstract

Medical waste is classified as hazardous waste and toxic materials. Equipped with various health facilities and visited by 1,267 people/day and occupancy rate is 68 percent in 2011, Public Hospital in East Jakarta generates a large number of medical wastes. Although medical waste generated less than domestic waste but potentially major cause of occupational accidents and illnesses transmission if not managed properly. This research aims to know how the hospital minimize and process the medical waste. Research methodology used in this research is qualitative approach from the aspect of the characteristics, effort minimization and management of medical waste. This research also used quantitative method by calculating the medical waste based on the occupancy rate and the service given. The results showed that the generation of medical waste as much as 0.9 pounds/ patient.days with 64 percent occupancy rate, while based on the type of service that is at most of the operating room of 0.67 pounds/ patient.days. Medical waste minimization efforts that have been done of segregation, housekeeping, preventive maintenance, clean technology, substitution of materials, and management of chemical and pharmaceutical, whereas only limited efforts to use waste reuse. The conclusion of this research was the minimization efforts do not do recycling and recovery, whereas the management of medical waste is not eligible especially separation, transport, storage, and management of ash from incineration of medical waste.
KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS DARI PENGOLAHAN AIR LIMBAH UNTUK MEMASAK Rahmani, Pradnya; Hartono, Djoko M; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.427 KB) | DOI: 10.14710/jil.11.2.132-140

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji kelayakan teknis dan lingkungan dari pemanfaatan BiogasInstalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PD PAL JAYA. IPAL PD PAL JAYA dapatmenghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak bagiwarga sekitar. Warga yang dimaksud pada penelitian ini adalah warga RT 014/ RW 006Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi. Kajian kelayakan teknis melihat kecukupanpotensi biogas untuk memenuhi kebutuhan biogas warga sekitar. Kajian lingkunganmelihat signifikansi pengurangan konsumsi LPG dan minyak tanah. Hasil dari keempatkajian mendapatkan hasil yang positif sehingga pemanfaatan biogas dari IPAL PD PALJAYA layak secara teknis dab lingkungan.Kata Kunci: Bahan Bakar Memasak yang berkelanjutan, Biogas dari Limbah Domestik,Pemanfaatan Biogas, Pengolahan Air Limbah
Evaluasi Kinerja Operasi Sistem Anaerobik Tipe Fixed Bed untuk Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu menjadi Biogas di Kota Probolinggo Prasetyadi, Prasetyadi; Wardani, Laras Andria; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.98 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v19i1.2624

Abstract

Setiap proses pembuatan tahu secara umum menghasilkan limbah yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat yang dihasilkan dari industri tahu dapat digunakan sebagai pakan ternak atau dijual sebagai bahan baku industri lain, sedangkan limbah cair biasanya langsung dibuang sehingga menyebabkan masalah lingkungan. Pada dasarnya limbah cair industri tahu dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Pada penelitian ini limbah cair industri tahu diolah menjadi biogas dengan menggunakan reaktor anaerobik tipe Fixed Bed. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengatur variabel operasi reaktor tersebut agar berkinerja optimal dalam mendegradasi bahan organikyang terkandung dalam limbah cair industri tahu. Metode penelitian yang dilakukan terbagi menjadi dua tahapan yaitu proses inokulasi dan proses adaptasi limbah cair industri tahu. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah terbangunnya reaktor anaerobik tipe Fixed Bed dengqan kapasitas 43 m. Kemampuan kinerja maksimal reaktor berada pada hari ke-39 dengan pengisian umpan limbah sebanyak 7.700 liter/hari, waktu tinggal 4,5 hari, sedangkan volume produksi biogas maksimum yang dihasilkan dari pengolahan limbah cair tahu ini adalah 35.158 Liter/hari, rata-rata nilai metana adalah 65%, effisiensi COD yang diperoleh dari pengolahan limbah cair industri tahu ini adalah 87,7%, nilai rata-rata pH effluent adalah 6,5, dan 1 g COD dapat menghasilkan 0,51liter gas metana
MODEL SOSIAL SPASIAL DAMPAK KEBISINGAN LINGKUNGAN DI SEKITAR BANDARA: STUDI KASUS BANDARA HALIM PERDANAKUSUMA, JAKARTA Agrayanto, Bagus Ferry; Kusnoputranto, Haryoto; Utomo, Suyud Warno
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 22, No 1 (2020)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2020.22-1.1146

Abstract

Komersialisasi Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma (HLP) sejak tahun 2014 menyebabkan eksternalitas negatif yang tidak terhindarkan yaitu paparan kebisingan pesawat terbang. Kebisingan pesawat terbang akan berdampak terhadap menurunnya kualitas kesehatan. Dalam rangka pengendalian kebisingan pesawat terbang diperlukan model sosial-spasial dampak kebisingan pesawat terbang. Permodelan sosial-spasial yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan lingkungan, dan menentukan batas kawasan kebisingan Bandara HLP berbasis indeks WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) pada radius 300 ─ 600 m. Ruang lingkup tambahan dari permodelan sosial-spasial yaitu kategorisasi risiko kebisingan lingkungan, dan sosial ekonomi berbasis perhitungan mean hipotetik dari masyarakat yang tinggal tepat di jalur LTO (Landing Take-Off) pesawat terbang. Hasil permodelan menunjukkan tingkat kebisingan lingkungan di permukiman masyarakat sekitar Bandara HLP (67.01 ─ 70.19 dBA) tidak memenuhi baku tingkat kebisingan untuk kawasan permukiman sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 yaitu 55 dB(A). Secara spasial, hasil permodelan menunjukkan batas aman kebisingan pesawat terbang Bandara HLP terletak pada jarak 600 m dari ujung runway 06 HLP, sehingga dapat diperuntukkan sebagai kawasan permukiman ideal di sekitar Bandara HLP (WECPNL=73,80). Hasil permodelan batas kawasan kebisingan Bandara HLP selanjutnya digunakan untuk menganalisis kesesuaiannya dengan rencana tata ruang. Hasil kategorisasi menunjukkan aspek persepsi risiko mayoritas responden mulai dari kebisingan lingkungan sampai dengan sosial ekonomi termasuk kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa terdapat pertukaran yang dapat ditoleransi dengan risiko bertempat tinggal di sekitar Bandara HLP. Berdasarkan uji korelasi statistik Kendall’s Tau-b diketahui waktu domisili dan tingkat pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap persepsi risiko kebisingan lingkungan. 
TENORM radiation protection patterns for the sustainable health of workers Primanti, Afthina; Kusnoputranto, Haryoto; Purwana, Rachmadhi; Gozan, Misri
Public Health of Indonesia Vol. 9 No. 3 (2023): July - September
Publisher : YCAB Publisher & IAKMI SULTRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v9i3.704

Abstract

Background: Coal production in Indonesia continues to increase to meet national energy needs and export demand. Solid waste from the coal combustion process is estimated to increase significantly. One of the hazardous mining wastes is TENORM, but some TENORM is classified as production goods with economic value. The problem in this research is that the volume of waste containing TENORM is quite large, and the disposal, use, and recycling of TENORM has the potential to cause contamination for workers at the steam power plant and the surrounding environment. Objective: The purpose of this research is to obtain a design model for the protection of the environment and workers against TENORM radioactive waste from coal ash through an analysis of the social and economic perceptions of steam power plant workers regarding TENORM radiation and the effectiveness of TENORM radiation protection education to workers. Methods: A mixed method with a quantitative approach was applied. Data were gathered through field observation utilizing a questionnaire instrument that asked workers working at Steam Power Plant Units 1 – 7 a series of written questions. Results: Prior to Counseling, most Suralaya Steam Power Plant workers had shallow social and economic perceptions of TENORM radiation, with 88 percent unaware of its effects. The majority also paid between 100,000 and 500,000 IDR monthly in medical expenses. All respondents agreed that TENORM radiation safety counseling for Suralaya Steam Power Plant workers was utterly compelling, with acceptance of TENORM and WTP estimates following Counseling being the most important aspect. Conclusion: There was a significant relationship between the WTP variable after Counseling and the variables acceptance of TENORM protection (0.730), TENORM knowledge (0.627) before and after Counseling (after Counseling), and acceptance of TENORM protection (0.648), according to the pattern of protection for the SEM model.
Analisis Kualitas dan Kuantitas Air Bersih di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Azni, Isnatami Nurul; Hasibuan, Hayati Sari; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.28-36

Abstract

Latar belakang: Pulau kecil memiliki kerentanan air bersih karena ukuran, topografi, keterbatasan sumber air, pertumbuhan penduduk dan dampak krisis iklim. Pulau Kelapa merupakan bagian dari Kepulauan Seribu yang memiliki karakteristik pulau kecil saat ini mengalami peningkatan jumlah penduduk ditambah dengan penetapan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional mengakibatkan kebutuhan air bersih semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan kondisi kualitas dan kuantitas pada rumah tangga untuk menjamin kualitas dan ketersediaan air di Pulau Kelapa.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Uji laboratorium kualitas air dilakukan dengan sampel air yang berasal dari air perpipaan, air isi ulang, air sumur dan air air hujan dengan menggunakan standar baku mutu air bersih berdasarkan Permenkes 2 Tahun 2023. Sampel rumah tangga sebanyak 240 Kepala Keluarga diwawancara menggunakan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan gambaran pemenuhan air domestik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penggunaan air sumur mendominasi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan hygiene sanitasi. Sebanyak 51% responden menggunakan 120 liter/orang/hari air bersih untuk kebutuhan domestik; aksesibilitas responden ke sumber air (jarak< 500 meter dan waktu pengumpulan air < 30 menit) tercukupi oleh 81% dan 60% responden secara berurutan, sebanyak 76% sumber air yang digunakan oleh responden terasa payau; rata-rata biaya pemenuhan air bersih sebesar 10,76% dari total pendapatan rumah tangga. Secara kualitas, sumber air bersih yang berasal dari air perpipaan dan air isi ulang memenuhi syarat kesehatan secara fisik dan kimia namun tidak memenuhi syarat kesehatan pada parameter total koliform. Sumber air bersih yang berasal dari air sumur memenuhi syarat kesehatan secara kimia namun tidak memenuhi syarat pada parameter TDS, total koliform, dan bakteri Eschericia coli. Sedangkan sumber air hujan tidak memenuhi syarat pada parameter total koliform dan bakteri Eschericia coli.Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan masyarakat Pulau Kelapa mengeluarkan biaya yang tinggi untuk mendapatkan akses air bersih namun secara kualitasnya belum memenuhi persyaratan kesehatan khususnya pada parameter total koliform. ABSTRACTTitle: Clean Water Quality and Quantity Analysis in Kelapa Island, Seribu IslandsBackground: Small islands are vulnerable to clean water due to its size, topography, limited water resources, population growth and the impact of the climate crisis. Kelapa Island is part of Seribu Islands which has the characteristics of a small island. Increasing number of population,combined with its designation as a National Tourism Strategic Area, clean water demand is increasing. This research aims to describe clean water quality and quantity in residents to ensure the quality and availability of air on Kelapa Island.Method: This research used descriptive quantitative methods. Water quality laboratory tests were carried out with water samples originating from piped water, refill water, well water and rainwater using clean water quality standards based on Minister of Health Regulation 2/2023. A household sample of 240 heads of families was interviewed using a structured questionnaire to represent domestic water supply.Result: The research results showed that the use of well water dominates  to fulfill the need for clean water for hygiene and sanitation. As many as 51% of respondents use 120 liters/person/day of clean water for domestic needs; Respondents' accessibility to water sources (distance < 500 meters and water collection time < 30 minutes) was sufficient for 81% and 60% of respondents respectively, 76% of the water sources used by respondents felt brackish; the average cost of providing clean water is 10.76% of total household income. In terms of quality, clean water sources originating from piped water and refill water meet physical and chemical health requirements but do not meet health requirements for total coliform parameters. Clean water sources that come from well water meet chemical health requirements but do not meet the requirements for TDS parameters, total coliforms and Escherichia coli bacteria. Meanwhile, rainwater sources do not meet the requirements for the total parameters of coliforms and Escherichia coli bacteria.Conclusion: Based on the research results, it was found that the residents of Kelapa Island  had to pay high cost to get access to clean water, but the quality does not meet health requirements, especially in terms of microbiological parameters. 
Subjective Health Complaints in Women Famers Exposed to Pesticides in Agricultural Area Purba, Imelda Gernauli; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 1 (2025): January 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.1.104-112

Abstract

Pesticides are chemicals that are increasingly used particularly in agriculture to control plant pests. While pesticides offers benefits they also cause adverse effects on humans, especially if not handled properly. Women in agricultural areas exposed to pesticides are at risk of developing health problems related to pesticide exposure, which are often related to their involvement in agricultural activities such as spraying, mixing pesticides, washing spraying equipment and clothing. The research aims to analyse the risk factors for subjective health complaints due to pesticide exposure in female farmers. The observational study employed a cross-sectional approach. The study population comprised female farmers exposed to pesticides residing in Sekayu District, Musi Banyuasin South Sumatra, Indonesia. A sample size of 136 was obtained through Cluster Sampling. Primary data were collected through interviews and observations using questionnaires and checklists. Data were analysed using the Chi-Square Test. The results indicated that female farmers reported a range of subjective health complaints including fatigue, anxiety, headache, blurred vision, nausea, decreased appetite, muscle weakness, and muscle spasms. Several variables were associated with subjective health complaints including age (p=0.05), working period (p=0.002), number of types of pesticides (p=0.000), and storage method of pesticides (p=0.021). Female farmers should limit their exposure to pesticides through reducing the length of contact with pesticides, avoiding the mixing of different types of pesticides, and storing pesticides according to the storage instructions. 
EVALUATION OF MERCURY (HG) CONCENTRATION IN CILEMAHABANG RIVER, BEKASI REGENCY Sembiring, Eva Kasih; Fitria, Laila; Kusnoputranto, Haryoto; Kario, Asrit Jessica
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43419

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi konsentrasi merkuri dalam air sungai Cilemahabang, Kabupaten Bekasi yang diduga telah mengalami pencemaran. Pengambilan sampel dilakukan di tiga titik berbeda, yaitu hulu, tengah, dan hilir sungai. Sampel dianalisis dengan menggunakan metode ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) untuk mengukur konsentrasi merkuri (Hg). Data yang diperoleh dibandingkan dengan nilai batas aman air sungai yang berlaku menurut PP No. 22 Tahun 2021. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium PT Bumi Ventila Indonesia. Waktu penelitian mulai dari survei pendahuluan, pengambilan sampel, uji laboratorium dan analisis data dilakukan pada bulan Oktober 2024 hingga Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri (Hg) pada air sungai Cilemahabang dengan rata-rata 0,003100 mg/l telah melebihi nilai batas aman yang ditetapkan pada PP No. 22 Tahun 2021 sebesar 0,001 mg/l dengan konsentrasi merkuri (Hg) semakin meningkat pada bagian tengah dan hilir sungai. Penelitian ini menemukan pencemaran merkuri yang signifikan pada bagian tengah dan hilir sungai, sehingga perlu adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap implementasi kebijakan dan peraturan yang ada dalam mengurangi potensi pencemaran air sungai dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penilaian risiko kesehatan lingkungan untuk merancang strategi mitigasi yang efektif.
Korelasi Polusi Udara dengan Insiden Pneumonia Balita di DKI Jakarta pada Tahun 2017-2020 Munggaran, Gilang Anugerah; Kusnoputranto, Haryoto; Ariyanto, Januar
Jurnal Promotif Preventif Vol 7 No 1 (2024): Februari 2024: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v7i1.1071

Abstract

Polusi udara di Jakarta meningkat setiap tahun bahkan berkontribusi besar terhadap kejadian pneumonia balita. Kasus pneumonia balita di Jakarta 2018 mencapai 42.305 dengan cakupan penemuan 95,53% kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi pencemaran udara ambien dengan kejadian pneumonia balita pada tahun 2017 sampai 2020 di Jakarta. Metode penelitian ini menggunakan analisis time-trend ecologic study. Data Indeks Standar Pencemaran Udara dikumpulkan dengan cara menghitung rata-rata bulanan dan data pneumonia berdasarkan data bulanan insidens pneumonia balita. Hasil uji korelasi, PM10, O3 dan CO berhubungan signifikan (p= 0,000), (p= 0,033) dan (p= 0,000) dengan insidens pneumonia balita. Sementara SO2 dan NO2 tidak berhubungan dengan insidens pneumonia balita di Jakarta tahun 2017-2020 (p= 0,979) dan (p=0,674). Kesimpulannya PM10, O3 dan CO berhubungan dengan insidens pneumonia balita. Sementara SO2 dan NO2 tidak berhubungan dengan insidens pneumonia balita di Jakarta tahun 2017-2020. Temuan ini mendukung alasan bahwa membatasi konsentrasi PM10 dan CO lebih lanjut di Jakarta merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi insidens pneumonia balita.
Tuberkulosis Paru di Palembang, Sumatera Selatan Versitaria, Hery Unita; Kusnoputranto, Haryoto
Kesmas Vol. 5, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia tercatat memiliki 304.787 penderita tuberkulosis yang menempatkannya pada peringkat ketiga terbanyak di dunia. Penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor 1 dari golongan penyakit infeksi. Angka kepadatan hunian rumah di Kota Palembang 5,84 lebih tinggi daripada angka ideal kepadatan hunian rumah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara sumber penular serumah, faktor lingkungan dalam rumah, dan karakteristik individu terhadap kejadian tuberkulosis paru basil tahan asam (BTA) (+) di Kota Palembang. Penelitian yang menggunakan desain kasus kontrol ini membandingkan kelompok kasus (BTA(+)) dan kelompok kontrol (BTA (-)) yang dilakukan di 16 wilayah kerja puskesmas dari 36 puskesmas yang ada di Kota Palembang. Model akhir diketahui bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit tuberkulosis paru BTA (+) adalah variabel status gizi. Seseorang yang bermukim di rumah dengan hunian kamar memiliki tingkat kepadatan tinggi (< 4 meter/orang), jenis kelamin laki laki, dan status gizi yang buruk (indeks massa tubuh, IMT > 25,1 dan < 18,4) berisiko untuk menderita penyakit tuberkulosis paru BTA(+) 29 kali lebih besar dibanding orang yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut. Indonesia there were recorded 304.787 cases of tuberculosis that places at the third level in the world. Tuberculosis is the third level disease which caused of death after cardiovasculer and respiratori tract disease in all age groups and at the first level from all infectious disease. The residence density rate in Palembang is higher 5,84 times than ideal rate. The objective of this study is aimed to evaluate the relationship between the source of infection in house, the environment in the house, and the individual characteristic with the occurrence of lung tuberculosis BTA (+) in Palembang City. The design of this study is case control comparing case group of tuberculosis (BTA (+)) and case of control group of BTA. This study was conducted in 16 work areas of 36 health centers in Palembang. In multivariat model, it is known that the closest relationship with the occurrence of tuberculosis is nutritional status. A person who lives with high density of residence (< 4 meter/ man), male, and bad status of nutrition (body mass index, BMI > 25,1 and < 18,4) has higher risk for having tuberculosis 29 times than who has not the risk factor.