Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISIS DAMPAK KEBISINGAN TERHADAP KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA KARYAWAN PADA INDUSTRI PEMINTALAN BENANG Ridhwan Nur Qinthara Jatnika; Melati Ferianita Fachrul; Margareta Maria Sintorini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/semnas.v0i0.3513

Abstract

PT. X adalah pabrik pemintalan benang yang bersekala besar dengan kapasitas produksi sebesar 105.000 ton pertahun. Mengingat industri ini memiliki risiko terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja karyawan maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan, melakukan analisis risiko paparan kebisingan terhadap kesehatan pekerja dari aktivitas produksi di perusahaan dan mengetahui besar risiko relatif seorang karyawan yang berada di lingkungan kerja yang terpapar kebisingan dengan rumus pendekatan Epidemiologis yaitu odds ratio. Pengukuran tingkat kebisingan menggunakan alat Sound Lever Meter pada 11 titik pengukuran. Hasil penelitian dengan intensitas kebisingan tertinggi selama 2 minggu adalah di titik 10 yang berlokasi di twisting area yaitu sebesar 89,5 dB(A). Hasil wawancara dengan 93 responden yang dirasakan pada pekerja apabila mendengar suara bising tersebut presentase tertinggi yaitu pada penyakit pusing 30%, cepat lelah 29%, darah tinggi 19,4%, tuli 15,1%, dan yang tidak merasakan apa-apa sebanyak 6,5%. Hal tersebut menunjukan bahwa banyak pekerja yang terkena penyakit pusing dikarenakan bising di industri. Perhitungan nilai Odds Ratio (O.R) untuk memperoleh  besarnya risiko pekerja yang terpapar bising dengan tingkat kebisingan tertinggi pada tiap titik. Nilai (O.R) pada penyakit pusing yaitu sebesar 3,93 kali lipat lebih besar risikonya dibandingkan pekerja yang berada di luar proses produksi.
ANALISIS KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (Studi Kasus Pertamina EP Field Jatibarang, 2005-2010) Margareta Maria Sintorini
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 5 No. 4 (2010)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1069.975 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v5i4.684

Abstract

Resiko keceakaan kerja tidak mungkin untuk dihilangkan sama sekali, beberapa jaenis resiko hanya dapat dikurangi. Permasalahan ini memerlukan skala prioritas. Penentuan skala rioritas penanganan resiko memerlukan penilaian terhadap tingkat resiko yang dimiliki oleh setiap kegiatan. Hasil penilaiaan tersebut akan menunjukan tingkat resiko dari tertinggi sampai yang terendah berdasarkan nilai resiko yang terukur. Metode penilaian resiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode Fine yang yang merupakan aplikasi dan penilaian secara semi-kuantitatif. Proses produksi secara umum yang dilaksanakan oleh PT Pertamina EP Field Jatibarang pada fasilitas produksi SPU-A Mundu ialah menampung fluida reservoir dari delapan sumur produksi minyak dan tiga sumur produksi gas setelah sebelumnya ditampung terlebih dahulu di SP-SP sekitarnya untuk dilakukan pengolahan terhadap berikutnya. Di lingkungan SPU-A Mundu terdapat 37 kegiatan yang mencakup kegiatan operasional perminyakan dan kegiatan infrastruktur sipil. Faktor-faktor resiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang teridentfikasi di lingkungan SPU- Mundu mencakup aspek fisik, kimia dan biologis. Penilaian resiko terhadap seluruh factor yang terkait dengn setiap kegiatan menjelaskan bahwa dengan system control resiko bahaya yang sudah ada dapat terdapat 20 egiatan yang berkatagori resiko tinggi, Sembilan kegiatan dengan resiko sedang, dan delapan kegiatan dengan resiko rendah. Berdasaran kondisi yang ditemui di lapangan saat ini maka prioritas utama pengendalian resiko dari selutuh kegiatan yang dilaksanakan oleh PT Pertamina EP Field Jatibarang pada fasilitas produksi SPU-A Mundu mencakup 20 kegiatan yang beresiko tinggi dan harus segera diterapkan kontrl resiko tambahan dan prioritas kedua adalah penanganan terhadap semblan kegiatan beresiko sedang. Prioritas terakhir adalah penanganan terhadap delapan kegiatan yang beresiko rendah.Key words: dust levels, health problems, the odds ratio
Hubungan Kadar Debu Lingkungan Kerja Unit Pengepakan Semen terhadap Kesehatan serta Upaya Pengendaliannya di PT Holcim, Bogor Margareta Maria Sintorini
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 5 No. 5 (2011)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.315 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v5i5.690

Abstract

Kesehatan karyawan dalam suatu perusahaan sangat penting karena berhubungan dengan kinerja perusahaan tersebut. Penelitian pada perusahaan ini untuk mengetahui kadar debu pada lingkungan kerja, mengetahui keluhan dan gangguan yang diderita pekerja, dan mengetahui peranan alat pengendali debu terhadap keluhan dan gangguan penyakit saluran pernapasan dan iritasi. Pengamatan dilakukan di bagian pembuatan kantong semen dan pengepakan semen. Metodologi yang dipakai adalah cross sectional dengan pengukuran kadar debu dan penelusuran kasus keluhan gangguan pernapasan pada pekerja. Kadar debu rata-rata PM10 pada ruang pengepakan semen 7752,78 µg/m3 dan pada ruang pembuatan kantong semen adalah 103,3 µg/m3. Hasil penelusuran keluhan gangguan pernapasan 75% responden pada unit pengepakan semen dan 35% pada pembuatan kantong mengalami gangguan saluran pernapasan dan iritasi. Pada bagian pengepakan resiko pekerja mengalami gangguan kesehatan adalah 4,9 kali lebih besar dibandingkan resiko pekerja yang ada di lokasi pembuatan kantong. Pada lokasi pengepakan rsiko pekerja mengalami gangguan saluran pernapasan 10 kali lebih besar disbanding dengan pekerja dibagian pembuatan kantong. Untuk gangguan iritasi mata dan kulit pada pekerja di pengepakan semen mempunyai resiko 14,5 kali lebih besar dibandingkan di bagian pembuatan kantong. Hasil analisis spirometer pada ruang pengepakan semen menunjukkan 5 pekerja yang diambil dari 5 pekerja dalam sampel dinyatakan restrictive, berarti telah terjadi pengecilan kapasitas total paru. Sedangkan pada ruang pembuatan kantong semen terdapat 3 pekerja yang diambil dari total 5 pekerja dinyatakan restrictive dan 2 dinyatakannormal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah resiko gangguan pernapasan dan iritasi pada pekerja di ruang dengan kadar debu tinggi lebih besar dibandingkan dengan yang bekerja di bagian kadar debu rendah. Karena itu tetapdisarankan semua pekerja menggunakan masker sebagai alat pelindung diri utama selain helm, sarung tangan dan sepatu kerja. Alat pengendali pencemaran udara yang ada sebaiknya dipelihara dan dibersihkan secara berkala sehingga kerusakan dapat diminimalisir dan alat dapat bekerja maksimal.Key words : kadar debu, gangguan kesehatan, odds ratio
ANALISIS RISIKO BAHAYA KIMIA PADA AREA STOCK FIT INDUSTRI SEPATU, PT PRATAMA ABADI INDUSTRI, TANGERANG, INDONESIA Margareta Maria Sintorini; Hadiyanto Putra
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 6 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.214 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v6i2.701

Abstract

Obyek penelitian ini adalah menentukan peluang terjadinya paparan dan faktor resiko terhadap kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan bahan kimia pada area stock fit process di tempat produksi bottom sepatu di industri sepatu Nike PT. Pratama Abadi Industri. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2011 sampai Desember 2011 dengan menggunakan Metode Fine. Dari 13 kegiatan terdapat 5 kegiatan yang berkategori “Lakukan perbaikan secepatnya dan kegiatan sebaiknya dihentikan sampai risiko dapat dikurangi” atau beresiko tinggi, dan 8 kegiatan berkategori “Risiko sebaiknya diminimalisir tanpa penundaan, tapi situasi bukan darurat” atau beresiko rendah. Risiko bahaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi dapat diminimalisir, baik konsekuensinya maupun kemungkinannya. Risiko K3 yang ada pada seluruh kegiatan yang berlangsung di area stock fit dapat diminimalisir secara optimum jika pengendalian terhadap faktor-faktor risiko bahaya dari setiap kegiatan dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Kata kunci : Paparan, Faktor Risiko, Metode Fine, Area Stock Fit
H2S EXPOSURE TO WORKERS IN COAL INDUSTRIES (CASE STUDY IN SURALAYA COAL YARD AND EAST KALIMANTAN COAL MINING) Margareta Maria Sintorini
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Volume 1, Number 1, October 2017
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.581 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v1i1.2404

Abstract

Aims: This study is aimed to identify the hazards and occupational risk factors of Hydrogen sulfide as one of the most dangerous gas exposures for employees coming from coal, oil and gas companies. Hydrogen sulfide is a toxic colourless gas with a characteristic odor, soluble in various liquids including water. This gas is irritant and asphyrant that can be absorbed through lung into blood. Its inhalation exerts hard damage of respiratory tract. Methodology and Result: The method used is the analysis of questionnaires with logistic regression statistics. The numbers of respondents are 170 people from the employment population who work in coal mining and Pertamina production units. Results obtained from workers' observations and H2S sampling suggest that the most dominant source of H2S exposure hazard comes from the skim tank and DAF areas. The variables associated with shortness of breath was age (P = 0.006). As many as 17.3% of workers did not apply proper work procedures, and 30.58% of workers had experienced work accidents. Conclusion, significance and impact study: H2S are not related to complaints of dizziness or shortness of breath of workers. Specific factors related to occupational safety are long-term exposure of work factors related to complaints of shortness of breath (OR = 2,061), and factors not using PPE associated with dizziness (OR = 3,484)
INDOOR AIR POLLUTION AND THE INCIDENCE OF ACUTE RESPIRATORY INFECTION IN TODDLERS IN LATUHALAT VILLAGE, AMBON CITY, INDONESIA Margareta Maria Sintorini; Gracia Victoria Souisa; Adriana Ritje Nendissa; Marc Ramon Julio Kesauliya
Journal of Synergy Landscape Vol. 4 No. 2 (2025): Vol. 4 No. 2 Februari 2025
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/tjsl.v4i2.22515

Abstract

Acute Respiratory Infection (ARI) is a primary cause of disease burden in developing countries, ranking one among the top 10 in the Latuhalat Health Center Work Area. One of the contributing factors to its occurrence in toddlers, who spend most of their time at home, is indoor air pollution, particularly in rural areas. Therefore, this study aimed to investigate the potential correlation between indoor air pollution from cigarette smoke and the use of firewood. To achieve this, a cross-sectional design with quantitative analysis has been employed, surveying 91 respondents through a questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The results showed that there was a relationship between exposure to cigarettes and firewood smoke and the incidence of ARI among toddlers in the Latuhalat Health Center work area (p = 0.002). There is a significant relationship between exposure to cigarette smoke and firewood smoke with the incidence of ARI. The risk of toddlers getting ARI if exposed to cigarette smoke and firewood smoke is 6.2 times greater than toddlers who are not exposed to these smoke in the working area of ​​the Latuhalat Health Center.
Land Conservation For Sustainable Agriculture (Study Case In Duwet Village, Klaten, Central Java) Margareta Maria Sintorini; Gracia Souisa; Widyo Astono
Journal of Synergy Landscape Vol. 5 No. 1 (2025): Vol. 5 No. 1 August 2025
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/e9xx7h45

Abstract

A brief, clear and comprehensive summary of the contents of the article containing : The problems Perubahan sistem pertanian sejak 55 tahun yang lalu telah memaksa petani merubah pola system tanam. Gagal panen membuat banyak petani mengubah lahan pertanian menjadi lahan membuat batu bata, sehingga lapisan tanah subur menjadi rusak. The aim of the Research, Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan dan upaya pengendalian laju degradasi lahan untuk keberlanjutan lahan pertanian. Research methods Penelitian dilakukan pada April 2024 – Februari 2025 di Desa Duwet Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-observasional dengan disain studi cross sectional. Results and discussion, Hasil studi menunjukkan adanya degradasi lahan pertanian karena hilangnya tanah permukaan mencapai 90 m3/ha/th yang jauh lebih cepat dari laju pembentukan tanah yaitu 1 m3/ha/th. Penggalian tanah untuk pembuatan batubata telah menyebabkan lahan pertanian terisolasi dari tanah sekelilingnya sehingga tidak ada akses air. Petani yang menggunakan lahannya untuk pertanian dan produksi batu bata memperoleh pendapatan bersih sebesar Rp.22.015.000,-/ha/tahun, lebih besar Rp. 4.845.000,- dibandingkan dengan pendapatan sebagai petani yang menanam padi, yakni Rp. 17.170.000,-/tahun. Hasil analisis disimpulkan mayoritas perusakan lahan pertanian disebabkan oleh alasan ekonomi. Diperlukan biaya kompensasi kepada petani berupa subsidi sebesar Rp. 1.834.582,200/bulan/ha atau Rp. 458.644,700/bulan/KK, sebagai biaya untuk penyelamatan lingkungan dan mencegah degradasi lahan yang disebabkan  alih fungsi lahan.
Edukasi Pengelolaan Air Berbasis Kesehatan Lingkungan di Sekolah: Pengabdian Sheilla Megagupita Putri Marendra; Rositayanti Hadisoebroto; Ariani Dwi Astuti; Margareta Maria Sintorini; Wisely Yahya; Salsabila Azzahra Anjani Indradini; Kendrick Kevin Kabe; Noi Galuh Tjandra Kirana; Ina Rochma Retraubun
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.2235

Abstract

Pengelolaan air merupakan upaya sistematis dalam menjaga ketersediaan, kualitas, dan keberlanjutan sumber daya air agar dapat digunakan secara aman dan sehat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai pentingnya pengelolaan air yang sehat dan berkelanjutan dalam lingkungan asrama. Sasaran kegiatan adalah siswa tingkat MTs (setara SMP) dan MA (setara SMA) di Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido. Kegiatan dilakukan di masjid asrama dengan jumlah 150 siswa. Pendekatan edukatif yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif, demonstrasi uji kulaitas air sederhana, serta diskusi kelompok terkait sanitasi, konservasi air, dan potensi pencemaran air. Sampel air diambil dari limbah Pesantren, parameter yang diuji adalah pH, padatan terlarut (TDS), dan kekeruhan untuk mengetahui kualitas fisik air tanah secara langsung. Siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai sumber pencemar seperti limbah domestik dan kebiasaan buruk dalam penggunaan air, serta dikenalkan pada metode pengolahan air sederhana seperti teknologi wetland, pemanenan air hujan (PAH). Hasil kegiatan menunjukkan 99% siswa mengetahui pentingnya hidup bersih di Asrama, adanya peningkatan pemahaman peserta menjadi 90% mengenai teknologi PAH dan Wetland. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pembentukan budaya hidup bersih dan sehat berbasis partisipasi aktif di lingkungan pesantren