Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SOSIALISASI RENCANA PENGEMBANGAN DESA WISATA KAMPUNG TERAPUNG UNTUK MENINGKATKAN PARIWISATA DAN PEREKONOMIAN PRODUKTIF DI DESA LOKBAINTAN LUAR Dyah Sri Wulandari; Dedek Yahya Darmadi; Saidatun Nisa; Angga Irawan
Jurnal Pengabdian Eksplorasi Humaniora Vol. 1 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian Eksplorasi Humaniora
Publisher : Program Studi Administrasi Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ekshum.v1i1.6

Abstract

ABSTRAK: Lok Baintan  adalah salah satu desa di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Desa ini terkenal dengan Pasar Terapung Lok Baintan. Mata pencaharian yang berada di Desa Lok Baintan sebagian besar yaitu seperti pedagang dan petani. Perdagangan merupakan mayoritas pencaharian penduduk khususnya di pasar terapung Lok Baintan. Barang yang di jual di pasar terapung ini berbagai macam seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan lain-lain yang di petik dari hasil pertanian yang kemudian dijual di pasar terapung Lok Baintan luar. Hasil dari yang diperjual belikan di pasar terapung Lok Baintan didapatkan langsung sebagian besarnya dari bertani masyarakat setempat. Masalah yang didapatkan adalah masyarakat mengeluh bahwa menurunnya jumlah kunjungan wisatawan dipasar terapung Lok Baintan Luar hal ini disebabkan sebagian pedagang maupun penjual telah berpindah tempat ke pasar terapung di daerah lain sehingga perlunya pengembangan desa demi mengembalikan minat wisatawan untuk datang kembali ke Desa Lok Baintan Luar, melalui program ini penulis memberikan beberapa solusi yaitu dengan memberikan pengetahuan mengenai Desa Wisata dan cara mengembangkan Kawasan Desa dengan mewujudkan terciptanya Desa Wisata Kampung Terapung, dengan harapan inovasi yang dilakukan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Kata kunci : Pasar Terapung, Desa Wisata, Kampung Terapung, Pertumbuhan Ekonomi     ABSTRACT: Lok Baintan is a village in Sungai Tabuk District, Banjar Regency, South Kalimantan Province, Indonesia. This village is famous for the Lok Baintan Floating Market. Most of the livelihoods in Lok Baintan Village are traders and farmers. Trade is the majority of the population's livelihood, especially in the Lok Baintan floating market. Goods that are sold in this floating market are various kinds such as fruits, vegetables and others which are picked from agricultural products which are then sold in the outer Lok Baintan floating market. Most of the results that are traded at the Lok Baintan floating market are obtained directly from the farming of the local community. The problem found is that people complain that the decrease in the number of tourist visits to the Lok Baintan Luar floating market is due to the fact that some traders and sellers have moved to floating markets in other areas so that the need for village development is to restore tourist interest in coming back to Lokbaintan Luar Village, through the program In this article, the author provides several solutions, namely by providing knowledge about Tourism Villages and how to develop Village Areas by realizing the creation of a Floating Village Tourism Village, with the hope that the innovations carried out can increase the economic growth of the community Keywords: Floating Market, Tourism Village, Floating Village, Economic Growth
GAMBARAN KEJADIAN MALOKLUSI BERDASARKAN KEBIASAAN BURUK PADA PELAJAR SMA DI WILAYAH NON-PERKOTAAN BANJARMASIN Saidatun Nisa; Diana Wibowo; Riky Hamdani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Isnur Hatta
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17741

Abstract

ABSTRACT Background: Malocclusion is an abnormality in the growth and development of teeth that can be influenced by bad oral habits, such as mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, and bruxism. This condition is often not recognized by the individual, but can have a significant impact on oral function and aesthetics. Purpose: This study aims to describe the incidence of malocclusion based on the type of bad oral habits among high school students in non-urban Banjarmasin. Methods: This study is a descriptive study with a quantitative approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 175 students selected using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires and oral clinical examinations, then analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. Results: The results showed that the most common bad habit found was mouth breathing (24%), and the majority of those affected were females, while bruxism was most common in males (12.00%). The most common type of malocclusion found was protrusive (25.91%), with the highest prevalence in females. There is a tendency that certain types of bad habits can lead to certain types of malocclusion. Conclusion: Malocclusions based on bad habits are still common in non-urban areas of Banjarmasin, so there is a need for increased education regarding bad habits that can cause malocclusion. Keywords: bad habits, malocclusion, students ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi merupakan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan buruk pada rongga mulut, seperti mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, dan bruxism. Kondisi ini sering tidak disadari oleh individu, namun dapat berdampak signifikan terhadap fungsi maupun estetika oral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian maloklusi berdasarkan jenis kebiasaan buruk pada rongga mulut di kalangan pelajar SMA/sederajat di wilayah non-perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 175 pelajar yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan klinis rongga mulut, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kebiasaan buruk yang paling banyak ditemukan adalah mouth breathing (24%) dan mayoritas yang mengalami adalah perempuan, sementara bruxism paling banyak dialami oleh laki- laki (12,00%). Jenis maloklusi yang paling sering ditemukan adalah protrusif (25,91%), dengan prevalensi tertinggi pada perempuan. Terdapat kecenderungan bahwa jenis kebiasaan buruk tertentu dapat menyebabkan jenis maloklusi tertentu. Kesimpulan: Kejadian maloklusi berdasarkan kebiasan buruk masih banyak ditemukan di wilayah non- perkotaan Banjarmasin, sehingga perlu adanya peningkatan edukasi mengenai kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kejadian maloklusi.Kata kunci: kebiasaan buruk, maloklusi, pelajar