Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERNIKAHAN USIA DINI DALAM PERSPEKTIF HADIS: TELAAH KONTEMPORER MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI Az Zahra, Annisa; Ansori, Ibnu Hajar; Samsudin, Abu
Canonia Religia Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/cr.v2i1.1817

Abstract

Early marriage is a significant issue in social and health studies, often having profound effects on individuals and communities. This article addresses early marriage by focusing on the interpretation of Hadith concerning the marriage of the Prophet Muhammad (SAW) to Aisha (RA) and its relevance in a modern context. Employing a qualitative approach and literature review methodology, the study gathers data from Hadith exploration and literature analysis to provide contextual and applicative understanding. The findings underscore the importance of aligning Hadith interpretations with contemporary social conditions and the need for effective strategies to address the psychological, reproductive health, and social impacts of early marriage. Despite the historical Islamic context of early marriage having different foundations, its psychological, reproductive health, and social implications require in-depth consideration. Psychologically, early marriage often leads to stress and emotional disturbances due to adolescent mental immaturity. Reproductively, risks of complications rise due to physical and hormonal immaturity, including bleeding, miscarriage, or other health issues. Socially, the potential for high divorce rates and family instability may disrupt social and emotional well-being. The study concludes that adapting Hadith interpretations to current social contexts and implementing effective approaches to address early marriage issues is essential.
PEMOTONGAN/PERLUKAAN GENITAL PEREMPUAN: PRAKTIK DISKRIMINASI GENDER MELALUI TRADISI Az Zahra, Annisa; Indriani, Diah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.30415

Abstract

Pemotongan/Perlukaan Genitalia Perempuan (P2GP) atau dapat disebut sebagai sunat perempuan merupakan tindakan penghilangan sebagian atau keseluruhan dari bagian luar organ kelamin perempuan tanpa dilandasi adanya tujuan klinis. Hingga tahun 2024, terdapat setidaknya 13,4 juta anak perempuan Indonesia yang telah disunat. Provinsi Gorontalo merupakan provinsi tertinggi yang melakukan praktik tersebut di Indonesia dengan persentase 83,37% (Rofiq et al., 2019). Praktik tersebut sangat bertentangan dengan gagasan  Tahapan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) pada tujuan 5 yang berkaitan dengan isu gender. Tujuan penelitian adalah meninjau diskriminasi berbasis gender melalui tradisi pada praktik pelukaan/pemotongan genitalia perempuan atau sunat perempuan berdasarkan beberapa penelitian referensi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji 6 artikel yang terdiri atas 5 artikel nasional dan 1 artikel internasional. Hasil kajian literatur adalah praktik sunat perempuan masih kerap dilakukan pada beberapa kalangan masyarakat dengan alasan tradisi dan agama serta dipengaruhi konstruksi budaya patriarki. Dalam praktiknya, sunat perempuan dibedakan menjadi tindakan sungguhan dan simbolis. Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa bentuk diskriminasi gender yang melatarbelakangi terjadinya praktik sunat perempuan seperti pemberian stereotipe, subordinasi, hingga kekerasan seksual. Terlebih, adanya misoginis internal semakin melanggengkan hal ini untuk terus terjadi hingga dinormalisasi. Dengan begitu, penguasaan tubuh dalam praktik sunat perempuan menjadikan perempuan tidak memiliki otonom atas tubuh mereka sendiri.