Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Merawat Kemajemukan: Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Menjaga Keharmonisan Antar Agama di Negeri Maneoratu Lekatompessy, Rizky Rimona; Sopacua, Samel
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 2 No. 1 (2024): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (November 2024)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v2i1.13

Abstract

Indonesian society is a pluralistic society. Living in diversity is a beauty but plurality can also be a problem. This article discusses the context of caring for pluralism through religious diversity in the State of Maneoratu amidst the many crises of religious tolerance in Indonesia. There is a harmonious coexistence style that is lived between individuals and even groups of people in the country of Maneoratu. Meneoratu is a country located in Telutih District, Central Maluku Regency, where members of the community consist of religious diversity, namely Islam and Christianity. In carrying out their daily social activities, these two religions live side by side with great respect for one another. This paper uses a descriptive qualitative method by collecting several data sources and analyzing data systematically. The results of the study state that the Maneoratu country has an awareness to respect religious diversity. However, it cannot be denied that there will be challenges in maintaining this diversity which is certainly influenced by various factors. For this reason, CRE which is the basis of education for every Christian in its implementation in families, schools, and churches must be able to transfer the values ​​of a strong awareness of tolerance among people.   Contribution: This article contributes significantly to understanding how the community in Maneoratu maintains religious diversity and fosters harmony among different faiths. Additionally, it highlights the role of Christian Religious Education (CRE) in fostering awareness of tolerance and unity within a pluralistic society.   Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Hidup dalam kemajemukan adalah sebuah keindahan, namun kemajemukan juga dapat menjadi suatu tantangan. Artikel ini membahas konteks perawatan kemajemukan melalui keragaman agama di Negeri Maneoratu di tengah krisis toleransi beragama yang terjadi di Indonesia. Di Negeri Maneoratu, terdapat gaya hidup harmonis yang dijalani oleh individu dan kelompok masyarakat, dengan anggota masyarakat yang terdiri dari keragaman agama, yaitu agama Islam dan Kristen. Negeri Maneoratu terletak di Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah, di mana kedua agama ini hidup berdampingan dengan sangat saling menghargai dalam kehidupan sosial sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan berbagai sumber data dan menganalisis data secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Negeri Maneoratu memiliki kesadaran untuk saling menghargai dalam keragaman agama. Namun, tantangan dalam merawat keragaman tersebut tetap ada dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Kristen (PAK), yang menjadi dasar pendidikan bagi umat Kristen, harus diterapkan di keluarga, sekolah, dan gereja, serta mampu mentransfer nilai-nilai kesadaran toleransi yang kuat antar umat.   Kontribusi: Artikel ini memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana masyarakat di Negeri Maneoratu merawat keragaman agama dan menciptakan keharmonisan antar umat beragama. Selain itu, artikel ini juga menyoroti peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam membangun kesadaran toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
PERAN PEREMPUAN KEI DALAM KEGIATAN AKSI DAMAI TERHADAP KONFLIK ANTAR WARGA YARLER-BANDA ELI Tanjaya, Anggella Nely Vania; Sopacua, Samel
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.29279

Abstract

Toleransi penting untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Namun, konflik merupakan tantangan besar dalam kehidupan bersama yang memerlukan penyelesaian dari berbagai pihak, termasuk masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh, pada Februari 2022, perempuan dari Kei melakukan aksi damai untuk menyelesaikan konflik antara warga Yarler dan Banda Eli di Kota Tual. Konflik tersebut menyebabkan kerugian besar baik material maupun non-material, serta memicu ketakutan dan trauma di kalangan warga. Perempuan Kei memainkan peran penting dalam menyelesaikan konflik ini, menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi besar dalam menjaga keseimbangan sosial dan moral dalam masyarakat. Aksi damai perempuan Kei menggabungkan elemen-elemen budaya dan agama untuk mengajak warga untuk menghentikan permusuhan dan mewujudkan perdamaian. Isu feminisme dan semangat perempuan Kei untuk menyuarakan perdamaian dalam situasi konflik menjadi fokus penelitian yang menarik.
STRATEGI MEMBANGUN MODERASI BERAGAMA MELALUI PERAYAAN HARI BESAR KEAGAMAAN DI SMK NEGERI 2 KAIMANA Tiblola, Abigael A.; Sopacua, Samel; Rumahuru, Yance. Z.
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.29588

Abstract

Konflik tentang perbedaan agama masih saja hangat untuk dibicarakan karena itu penguatan moderasi beragama dapat dijadikan sebagai sarana untuk meminimalisir terjadinya konflik agama dan sifat fanatik sempit antara satu agama dengan agama yang lainnya. Sekolah adalah salah satu tempat bertemunya beberapa agama yang memungkinkan terjadinya pemahaman yang berbeda-beda tentang suatu agama. Strategi moderasi beragama sebagai pilihan untuk mengelola keragaman peserta didik sehingga hak untuk menikmati pendidikan secara bebas tanpa ada tekanan, diskriminasi dan kekerasan. Salah satu strategi membangun moderasi beragama dapat dilakukan melalui perayaan hari besar keagamaan di sekolah. Hal ini penting dilakukan sebagai kebijkan kepala sekolah untuk memutuskan sikap radikalisme dengan pendekatan edukatif dalam rangka mengimplementasikan kultur sekolah dengan kurikulum yang cintai damai sehingga siswa memiliki karakter yang terbuka terhadap agama lain, saling menghormati dan menerima perbedaan yang ada dalam lingkungan belajar mereka.
PERAN ORANG TUA DALAM MENGATASI ANAK PUTUS SEKOLAH DI FAKAL KABUPATEN BURU SELATAN Soselisa, Mila; Duha, Antoniat; Sopacua, Samel; Rumahuru, Yance Z.
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024 (Special Issue)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.31268

Abstract

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peran orang tua dalam mengatasi anak putus sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran orang tua dalam mengatasi anak putus sekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian sebanyak 6 orang yaitu 2 orang anak dan orang tuanya, 2 orang anak SMP beserta orang tuanya dan 2 orang anak SMA beserta orang tuanya, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua diantaranya sebagai pendidik, orang tua sudah melakukan perannya seperti (afektif, kognitif, dan psikomotorik) dengan baik, peran orang tua sebagai pengasuh anak, orang tua sudah melakukan perannya seperti (afektif, kognitif, dan psikomotorik) dengan baik, peran orang tua sebagai pengasuh anak, orang tua sudah melakukan perannya seperti (afektif, afektif psikomotorik) dengan baik, peran orang tua sebagai motivator, orang tua sudah melakukan perannya namun masih belum maksimal dalam memberikan motivasi seperti nasehat, teguran, pujian dan hadiah sebagai bentuk motivasi agar anak termotivasi untuk melanjutkan sekolah, orang tuanya memberikan dukungan moril dan motivasi namun tidak secara materi. Dan dalam from of providing facilitator, orang tua memberikan fasilitas belajar yang masih kurang memadai, artinya belum adanya penyediaan fasilitator yang dapat menunjang prestasi pendidikan anaknya, sehingga dari hasil penelitian orang tua belum maksimal dalam perannya sebagai fasilitator.