Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LAPORAN KASUS: GANGGUAN DEPRESI MAYOR PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN Cahyadi, Daniel; Anastasia, Linda; Kokoh, Charlie; Addarian, Hafiz
Jurnal Pranata Biomedika Vol 3, No 1: Maret 2024
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/jpb.v3i1.11656

Abstract

Gangguan depresi adalah sebuah gangguan suasana perasaan (mood) yang seringkali kita temukan di sekeliling kita, terutama pada wanita dan di usia dewasa muda. Bukan juga hal yang jarang, depresi ditemukan pada mahasiswa. Depresi sendiri dapat menjadi berbahaya ketika menimbulkan pikiran atau ide bunuh diri, sehingga kemudian berkembang ke perilaku bunuh diri. Indonesia dengan budaya yang menyebutkan bahwa gangguan jiwa artinya lemah iman, atau stigma bahwa ke psikiater berarti seseorang itu “gila,” menyebabkan banyak anggota masyarakat yang masih merasa tabu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog dan psikiater.Kalangan profesional medis pun seringkali masih kurang memahami konsep dari gangguan jiwa, sehingga terkesan alergi dengan kasus-kasus gangguan jiwa sehingga perilaku yang muncul seringkali mendiskreditkan pasien yang datang ke klinik sehari-hari dengan keluhan gangguan jiwa. Akibatnya, banyak pasien yang seharusnya sudah bisa mendapatkan pertolongan lebih awal, namun akhirnya penyakit gangguan jiwanya berkembang menjadi kronis. Hal ini muncul dari ketidaktahuan para praktisi medis bahwa kebutuhan akan psikofarmaka, menjadi sesuatu yang cukup penting bagi proses pemulihan pasien. Stigma di kalangan profesional medis juga masih ada, bahwa obat-obatan psikofarmaka menimbulkan ketergantungan sehingga tidak baik bila dikonsumsi oleh pasien. Stigma ini dapat dihilangkan, dengan adanya pemahaman yang baik terkait jenis-jenis antidepresan yang tersedia saat ini, dan cara kerja antidepresan yang dapat meringankan bahkan menghilangkan gejala-gejala yang muncul pada gangguan depresi.
Measuring A Brain Comfort in Neuroarchitectural Research: A Structured Theoretical Study Arinta, Rizka; Bachtiar, Vania Angeline; Anastasia, Linda
Journal of Artificial Intelligence in Architecture Vol. 5 No. 1 (2026): Artificial Intelligence for Human-Centric Performance: Integrating Neuroarchite
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jarina.v5i1.11375

Abstract

Comfort is a central objective in architectural design, yet it varies across individuals. This study proposes an evidence-based framework for assessing comfort through a neuroarchitectural approach by analysing neurological parameters. A meta-analysis of Scopus-indexed literature identified 111 relevant keywords from an initial set of 1,298, derived from 2,561 unique keywords in peer-reviewed studies published over the past decade that employed neurological indicators in neuroarchitecture. The findings indicate that comfort is not solely subjective but can be examined through measurable biological and neurological markers. The literature is organised into three main parameters: environmental simulation and spatial comfort, neurological instrumentation and brain signal processing, and emotional perception and sensory experience. Thematic content analysis and bibliometric mapping were conducted using OpenRefine, VOSviewer, and Biblioshiny. The synthesis reveals clear correlations between neurological responses and architectural elements such as natural lighting, spatial configuration, material texture, and environmental control. These parameters reliably capture the neurophysiological mechanisms underlying comfort in built environments, with perceptual and emotional responses identified as particularly critical. Overall, meta-analysis establishes comfort as an objectively quantifiable phenomenon and provides a foundation for adaptive and inclusive architectural design that supports mental health, cognitive performance, and well-being. Future research directions include experimental studies integrating virtual reality and real-time biometric monitoring to further explore brain–environment interactions.