Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Metode Perbaikan Kerusakan Retak pada Ruas Jalan Kedungmundu – Metesih Ikhwanudin Ikhwanudin; Farida Yudaningrum
Jurnal Ilmiah Teknosains Vol 2, No 2/Nov (2016): JiTek
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.311 KB) | DOI: 10.26877/jitek.v2i2/Nov.1200

Abstract

Ruas jalan Kedungmundu-Metesih merupakan jalan Kolektorbersamaan dengan perkembangan kawasan dilingkungan kedungmundu, Metesih, Sendangmulyo kecamatan Tembalang, maka semakin berkembangan jumlah penduduk yang berada di kawasan tersebut sehingga pemakai jalan semakin tahun semakin bertambah dengan semakin bertambahnya kendaraan yang melewati ruas jalan Kedungmundu-metesih baik kendaraan kecil maupun kendaraan besar sehingga diperlukan perbaikian rutin yang pendanaanya melalui anggaran APBD sehingga dari segi pemanfaat akan merasa nyaman dan aman. Berdasar penelitian yang dilakukan bahwa kerusakan ruas Jalan Kedungmundu Metesih dikelompokkan dalam lima kategori yaitu  Retak (Cracking),distorsi (distorsion), Cacat permukaan (disintegration),Pengausan (polished aggregate) danKegemukan (bleeding of flushing) dengan metode perbaikannya menggunakan standart Bina Marga.
IDENTIFIKASI JENIS KERUSAKAN JALAN (Studi Kasus Ruas Jalan Kedungmundu-Meteseh) Farida Yudaningrum; Ikhwanudin Ikhwanudin
Teknika Vol 12, No 2 (2017): October
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.102 KB) | DOI: 10.26623/teknika.v12i2.638

Abstract

Jalan merupakan salah satu jenis prasarana transportasi darat yang memegang peranan penting bagi pengembangan suatu daerah. Ruas jalan Kedungmundu-Meteseh merupakan jalan Kolektor yang mempunyai frekwensi lalu lintas tinggi sebagai penghubung Semarang Selatan dengan Semarang Timur. Kerusakan-kerusakan yang terjadi tentu akan berpengaruh pada keamanan dan kenyamanan pemakai jalan. Kerusakan jalan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya air, perubahan suhu, cuaca, temperatur udara, material konstruksi perkerasan, kondisi tanah dasar yang tidak stabil, proses pemadatan di atas lapisan tanah dasar yang kurang baik dan tonase atau muatan kendaraankendaraan berat yang melebihi kapasitas serta volume kendaraan yang semakin meningkat. Jenis kerusakan yang mendominasi pada ruas jalan tersebut berupa bleeding sebesar 482 m² atau 39,18 % serta retak rambut dan retak kulit buaya sebesar 456 m 2 atau 37,07 % dari total kerusakan yang terjadi sepanjang ruas jalan tersebut. Bleeding dapat disebabkan pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal, pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prime coat atau tack coat sehingga permukaan menjadi licin. Pada temperatur tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda. Sedangkan kerusakan retak rambut dapat meresapkan air kedalam lapis permukaan. Retak rambut dapat berkembang menjadi retak kulit buaya. Retak kulit buaya dapat diresapi pula oleh air sehingga jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan terjadinya lubang–lubang kecil akibat terlepasnya butir-butir. Hal ini akan mengakibatkan sangat tidak nyamannya pengendara menggunakan jalan tersebut.
Pemetaan Genangan banjir di Wilayah Hilir Bendungan Randugunting dengan Model HEC-RAS 2 (Dua) Dimensi Risdiana Cholifatul Afifah; Farida Yudaningrum
Device Vol. 16 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FASTIKOM) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/device.v16i1.11091

Abstract

Bendungan Randugunting di Kabupaten Blora dibangun sebagai infrastruktur pengendali banjir, penyedia air baku, dan irigasi. Namun, pada beberapa kejadian banjir di hilir Sungai Banyuasin, wilayah Rembang, muncul persepsi bahwa operasional Bendungan Randugunting turut berkontribusi terhadap peningkatan debit banjir di daerah hilir. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan klarifikasi ilmiah terhadap dugaan pengaruh Bendungan Randugunting terhadap banjir di hilir Sungai Banyuasin Rembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kontribusi pelepasan air bendungan terhadap debit puncak banjir di Sungai Banyuasin. Metode yang digunakan meliputi analisis hidrologi dengan pemodelan menggunakan perangkat lunak Hydrologic Engineering Center–Hydrologic Modeling System (HEC-HMS), dan analisis hidrolika dengan bantuan model Hydrologic Engineering Center–River Analysis System (HEC-RAS) 2D untuk memodelkan genangan banjir. Hasil analisis pelepasan air Bendungan Randugunting, dapat disimpulkan bahwa waduk dapat menahan banjir di hulu, meredam sehingga rilis banjir cukup kecil dg kemampuan reduksi ±70% pada simulasi kala ulang 50th (outflow 63,4 m³/dt). Namun Kali Padas dengan luas Catchment area 2 (dua) kali luas DTA (Daerah Tangkapan Air) bendungan, menghasilkan pelepasan air sebesar 146 m3/dt. Melalui justifikasi teknis, banjir di daerah hilir waduk dipengaruhi oleh pelepasan air Kali Padas. Kondisi Kali Padas yang tanpa bangunan penahan banjir, diprediksi sebagai sumber limpasan terbesar penyebab banjir di pohlandak dan krikilan.
PEMETAAN AREA GENANGAN BANJIR SUNGAI BABON DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Ikhwanudin Ikhwanudin; Leny Putriani; Alfiah Maulina Kusumawati; Farida Yudaningrum
Journal of Economic, Business and Engineering (JEBE) Vol. 7 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Sains Al Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32500/jebe.v7i2.11026

Abstract

Sungai Babon adalah sungai yang melewati Kabupaten Semarang dan Kabupaten Demak. Sungai ini mengalami peluapan yang disebabkan debit sungai melewati batas normalnya. Sehingga dapat mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang terdampak. Dengan penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui debit rencana Sungai Babon, pemetaan area genangan banjir Sungai Babon dan luas area genangan banjir pada sekitar Sungai Babon. Dengan analisis HSS Nakayasu menggunakan kalibrasi di Sungai Babon didapatkan pemetaan dengan luasan area yang tergenang. Pemetaan area dengan luasan terbesar yang terdampak genangan banjir Sungai Babon dengan luasan kala ulang 2 tahun sebesar 9,042 km², kala ulang 5 tahun sebesar 9,859 km², kala ulang 10 tahun sebesar 10,702 km², kala ulang 25 tahun sebesar 11,312 km², kala ulang 50 tahun sebesar 11,691 dan kala ulang 100 tahun sebesar 13,73 km². Desa yang terdampak genangan banjir Sungai Babon meliputi Bandungrejo, Bangetayu Wetan, Banjardowo, Batursari, Bedono, Genuksari, Jamus, Jetaksari, Kalisari, Karangroto, Kudu, Ngemplak, Pedurungan Kidul, Pedurungan Lor, Penggaron Kidul, Penggaron Lor, Plamongansari, Purwosari, Sambungharjo, Sayung, Sriwulan, Terboyo Wetan, Tlogomulyo, Trimulyo, dan Wringinjajar.