Ma'soem, Aria Prasetya
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Pergerakan Leher Kandung Kemih, Ukuran Genital Hiatus, Titik Aa dan Ba pada POP-Q dengan Retensio Urin pada Pasien Pasca-Perbaikan Prolaps Organ Panggul Ma'soem, Aria Prasetya; Sasotya, R.M Sonny; Achmad, Eppy Darmadi; Armawan, Edwin; Sukarsa, Rizkar Arev; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.607

Abstract

Pendahuluan:Retensio urin pasca-operasi merupakan kejadian yang sering terjadi setelah operasi perbaikan prolaps organ panggul (POP), dengan angka kejadian berkisar antara 2,5 – 24%. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi pergerakan kandung kemih dan gangguan berkemih yaitu penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, dan rotasi uretra. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara profil leher kandung kemih, ukuran genital hiatus, dan titik Aa dan Ba pada POP-Q terhadap retensio urin pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan pendekatan rancangan potong lintang pada wanita yang menjalani operasi POP di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–November 2023.Hasil: Penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasi uretra, dan ukuran genital hiatus diukur dengan ultrasonografi. Titik Aa dan Ba diukur dengan skoring POP-Q, kemudian dilakukan pengukuran post-void residual volume. Ditemukan rata-rata usia pasien adalah 60±9 tahun. Sebagian besar subjek penelitian merupakan POP stadium III.Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan bermakna antara karakteristik subjek penelitian (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara parameter leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasional uretra, ukuran urogenital hiatus, skor POP-Q titik Aa dan Ba terhadap volume PVR (p>0,05). Titik Ba pada POP-Q berkorelasi signifikan terhadap volume PVR pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Analysis of Bladder Neck Movement Profile, Genital Hiatus Size, Points Aa and Ba on POP-Q with Urinary Retention in Post Pelvic Organ Prolapse Repair PatientsAbstract Introduction: Postoperative urinary retention is a common following surgical repair of pelvic organ prolapse (POP), with the incidence ranges between 2.5–24%. This study aimed to determine the relationship between bladder neck profile, genital hiatus, and Aa and Ba points in POP-Q on the incidence of urinary retention after repair of pelvic organ prolapse. Method: This analytical observational study was done with a cross-section design and included women underwent repair of pelvic organ prolapse at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung in June–November 2023. Results: Bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, and genital hiatus were measured by ultrasonography. Points Aa and Ba were measured using POP-Q scoring, then post-void residual volume was measured. The patients had a mean age of 60±9 years. Most of the subjects were stage III POP. Conclusion: There were no significant differences between bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, urogenital hiatus, POP-Q scores points Aa and Ba and PVR volume (p>0.05). Point Ba on POP-Q was significantly correlated with PVR volume after pelvic organ prolapse repair.Key words: pelvic organ prolapse, post-void residual volume, urinary retention, rectovesical angle, urogenital hiatus
Comparison of Quality of Life and Sexual Function between Pelvic Organ Prolapse Patients Using Pessary and Surgical Intervention Nurtanio, Setyawan; Sasotya, RM Sonny; Sukarsa, M. Rizkar Aref; Achmad, Eppy Darmadi; Rinaldi, Andi; Ma'soem, Aria Prasetya; Praharsini, Kania
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1035

Abstract

Objective: This study aims to compare the improvement in QoL (measured by PFDI-20) and sexual function (measured by FSFI) in POP patients (stage II-IV) treated with either surgical intervention or pessary insertion.Methods: The study employed a quasi-experimental pre–posttest design involving 60 patients with stage II–IV pelvic organ prolapse (POP), consisting of 30 patients in the surgical group and 30 patients in the pessary group, conducted at two tertiary referral hospitals in Bandung. Quality of life and sexual function were assessed using the Pelvic Floor Distress Inventory-20 (PFDI-20) and the Female Sexual Function Index (FSFI) before and three months after the intervention. Statistical analyses included paired t-tests to evaluate within-group changes before and after the intervention and independent t-tests to compare post-intervention outcomes between the two groups.Results: The results demonstrated that both the surgical group and the pessary group showed significant improvements in quality of life and sexual function (p<0.001). In the surgical group, the FSFI score increased from 16.46 ± 6.88 to 27.68 ± 3.17, surpassing the threshold for normal sexual function, while the PFDI-20 score decreased from 114.34 ± 57.44 to 14.93 ± 7.37. The pessary group also showed significant improvement, with the FSFI score increasing from 18.69 ± 4.76 to 24.80 ± 3.83 and the PFDI-20 score decreasing from 130.24 ± 48.80 to 36.98 ± 21.37. Post-intervention comparative analysis showed statistically better outcomes in the surgical group for both the FSFI score (p=0.002) and the PFDI-20 score (p<0.001).Conclusion: Both surgical and pessary interventions are effective in improving the quality of life and sexual function in women with pelvic organ prolapse. Surgical intervention, however, offers superior and lasting outcomes. Pessary usage remains an important non-surgical option for patients seeking conservative management. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan kualitas hidup dan fungsi seksual pada pasien POP stadium II–IV yang menjalani terapi bedah dan penggunaan pessarium.Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi-eksperimental dengan desain pre–posttest yang dilakukan pada 60 pasien POP stadium II–IV, terdiri atas 30 pasien kelompok bedah dan 30 pasien kelompok pessarium, di dua rumah sakit rujukan tersier di Bandung. Penilaian kualitas hidup dan fungsi seksual dilakukan menggunakan kuesioner Pelvic Floor Distress Inventory-20 (PFDI-20) dan Female Sexual Function Index (FSFI) sebelum dan tiga bulan setelah intervensi. Analisis statistik menggunakan uji t berpasangan untuk menilai perubahan sebelum dan sesudah intervensi pada tiap-tiap kelompok serta uji t tidak berpasangan untuk membandingkan luaran pascaintervensi antar kelompok.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan terapi bedah dan kelompok dengan pessarium menunjukkan peningkatan bermakna pada kualitas hidup dan fungsi seksual (p<0,001). Pada kelompok bedah, skor FSFI meningkat dari 16,46 ± 6,88 menjadi 27,68 ± 3,17, melewati ambang fungsi seksual normal, sedangkan skor PFDI-20 menurun dari 114,34 ± 57,44 menjadi 14,93 ± 7,37. Kelompok pessarium juga menunjukkan perbaikan yang bermakna, dengan peningkatan skor FSFI dari 18,69 ± 4,76 menjadi 24,80 ± 3,83 dan penurunan skor PFDI-20 dari 130,24 ± 48,80 menjadi 36,98 ± 21,37. Analisis perbandingan pascaintervensi menunjukkan hasil yang secara statistik lebih baik pada kelompok bedah baik untuk skor FSFI (p=0,002) maupun PFDI-20 (p<0,001).Kesimpulan:Terapi bedah dan penggunaan pessarium secara bermakna meningkatkan kualitas hidup dan fungsi seksual pada pasien prolaps organ panggul. Terapi bedah memberikan perbaikan yang lebih besar dan lebih menyeluruh, sedangkan penggunaan pessarium tetap merupakan pilihan nonbedah yang efektif dan aman pada pasien terpilih.