Chelsea, Edelyne
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Secondary Syphilis with Giant Condyloma Acuminatum in Pregnant Women: A Report from a Limited Resource Area Surya, Raymond; Chelsea, Edelyne; Manurung, Edward Sugito; Banunaek, Diana; Nilasari, Hanny; Saroyo, Yudianto Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.536

Abstract

Introduction: This report shows a case of secondary syphilis in pregnancy with Giant Condyloma Acuminatum (GCA) co-infection DD/condyloma lata which was resolved with alternative treatment of syphilis.Case illustration: A 21-year-old, primigravid woman came to obstetrics outpatient clinic in rural SoE Hospital, East Nusa Tenggara, with a complaint of mass enlargement around vulva (minor and major labia) since 2 months before. Based on Last Menstrual Period (LMP), she was in 34 + 6 weeks of gestation. There were coin lesions in the palms. On genital examination, there was protruded mass sized around 15 x 10 cm, erythematous, and it easily bled on the center part which was suspected to be GCA. Treponema Pallidum rapid (TP-rapid) test using AIM© syphilis rapid test revealed positive results. The patient was diagnosed with secondary syphilis in pregnancy mixed with GCA with dd/condyloma lata and administered Ceftriaxone 1 g intramuscularly once daily for 14 days. She delivered at 41-42 weeks of gestation and a baby girl with 1,980 grams of body weight according to symmetric Intrauterine Growth Restriction (IUGR) was born. No clinical signs of congenital syphilis found.Discussion: Vertical transmission which occurs in each stage of syphilis is related to the presence of spirochetes in the blood circulation. Infants born from syphilis pregnant women consist of 56% of jaundice, 14% of hearing impairment, 8% of renal disease, 8% of mental retardation, and 6% of IUGR or Small for Gestational Age (SGA).Conclusion: Secondary syphilis coinfection with GCA in pregnancy is a rare case report. Syphilis is a significant public health problem globally, especially in Indonesia.Sifilis Sekunder dengan Kondiloma Akuminata Besar pada Wanita Hamil: Sebuah Laporan dari Daerah dengan Keterbatasan Sumber DayaAbstrakPendahuluan: Kasus ini melaporkan sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/kondiloma lata yang beresolusi setelah pemberian tatalaksana alternatif sifilis.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita primigravida berusia 21 tahun datang ke poliklinik obstetrik di RSUD SoE, Nusa Tenggara Timur dengan pembesaran massa sekitar vulva (labia minor dan mayor) sejak 2 bulan sebelumnya. Berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), usia kehamilan 34 + 6 minggu. Terdapat lesi pada telapak tangan. Pada pemeriksaan genital, terdapat massa ukuran 15 x 10 cm, eritema, mudah berdarah pada bagian tengah dengan kecurigaan kondiloma akuminatum besar. Hasil tes rapid Treponema Pallidum menggunakan tes rapid sifilis (AIM©) menunjukkan hasil positif. Pasien didiagnosis mengidap sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/ kondiloma lata dan diberikan terapi seftriakson 1 gram intramuscular setiap hari selama 14 hari. Pasien melahirkan saat usia kehamilan 41-42 minggu dan lahir bayi 1.980 gram sesuai dengan Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) simetrik. Tidak ada tanda klinis sifilis kongenital yang ditemukan. Diskusi: Transmisi vertikal dapat terjadi pada setiap tahap sifilis berkaitan dengan keberadaan spiroseta di sirkulasi darah. Bayi lahir dari wanita hamil sifilis biasanya menunjukkan tanda 56% kuning, 14% gangguan pendengaran, 8% gangguan ginjal, 8% retardasi mental, dan 6% PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK).Kesimpulan: Sifilis sekunder koinfeksi kondiloma akuminatum besar merupakan kasus jarang. Sifilis masih menjadi perhatian kesehatan global, khususnya di Indonesia.Kata kunci: sifilis, koinfeksi, kondiloma akuminatum besar, pertumbuhan janin terhambat
Syphilis Elimination in Indonesia by 2030: Keeping in the Right Track Irawan, Yudo; Chelsea, Edelyne; Surya, Raymond
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 4 (2023): Anak
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i4.864

Abstract

Syphilis is still a global significant public health issue, including in Indonesia. World Health Organization estimated there were 7 million new syphilis infections in 2020 globally. Ministry of Health Republik Indonesia (RI) reported a total of 76,923 new cases in 2020. World Health Organization has set an ambitious target to reduce the incidence by 90% before 2030, in spite of slow global response. Syphilis elimination target in 2030 can be achieved through good cooperation between ministry of health and relevant institutions at central, provincial, and district/city levels; increasing and expanding public access to screening, diagnosis, and treatment; intensification sexually transmitted infection (STI) prevention such as health promotion, transmission prevention, surveillance, and case management; strengthening partnership and participation across sectors; increasing research and development regarding STI; and strengthening program management through monitoring, evaluation, and follow-up.   Sifilis masih menjadi masalah kesehatan publik dunia yang signifikan, termasuk di Indonesia. World Health Organization memperkirakan di dunia terdapat 7 juta kasus sifilis baru tahun 2020. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat 76.923 kasus baru di tahun 2020. WHO telah menargetkan pengurangan insiden sebanyak 90% sebelum tahun 2030, meskipun respons global masih terbilang lambat. Target eliminasi sifilis tahun 2030 dapat dicapai melalui kerja sama yang baik antara Kemenkes RI dan institusi yang relevan di tingkat pusat, provinsi, dan kota/kabupaten; meningkatkan dan memperluas akses publik ke skrining, diagnosis, dan tata laksana; intensifikasi pencegahan IMS melalui promosi kesehatan, pencegahan transmisi, surveilans, dan manajemen kasus; memperkuat kerja sama dan partisipasi lintas sektoral; meningkatkan penelitian dan perkembangan terkait IMS; serta memperkuat manajemen program melalui monitoring, evaluasi, dan follow up.