Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh astaxanthin dalam pakan buatan terhadap performa warna dan pertumbuhan ikan cupang (Betta splendens R.) Salsabila, Putri Nadya; Subandiyono, Subandiyono; Chilmawati, Diana; Andriani, Yuli
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 8, No 1 (2024): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v8i1.18308

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens R.) merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki corak dan pola warna yang unik dibandingkan ikan lain. Warna dalam ikan disebabkan oleh adanya faktor sel kromatofora yang terdapat pada bagian kulit dermis. Salah satu langkah untuk mendapatkan performa warna yang merata dengan memberikan penambahan sumber pigmen kedalam pakan yaitu dengan penambahan astaxanthin.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan menentukan kadar pengaruh astaxanthin terhadap warna ikan cupang. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Basah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang pada bulan Agustus–September 2022. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah menggunakan dosis Astaxanthin yaitu A (0%), B (2,5%), C (5%), dan D (7,5%). Pengukuran performa warna menggunakan software Adobe Photoshop CC dan dengan metode TCF (Toca Colour Finder) yang selanjutnya diberi angka skor. Ikan uji yang digunakan adalah ikan cupang jenis halfmoon yang memiliki warna tubuh orange kemerahan dengan warna yang seragam dengan memiliki ukuran bobot berkisar antara 1,23-2,20g/ekor. Ikan cupang dipelihara di akuarium dengan ukuran (20x15x15) cm3 dengan padat tebar 1 ekor per akuarium. Pemeliharaan ikan cupang dilakukan selama 40 hari dengan metode pemberian pakan at satiation.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan astaxanthin dalam pakan komersial memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap performa warna, Total Konsumsi Pakan (TKP), Rasio Konversi Pakan (FCR), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Protein Efisiensi Rasio (PER), dan Laju Pertumbuhan Relatif (RGR), namun tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap nilai kelulushidupan ikan cupang. Berdasarkan hasil tersebut didapatkan dosis terbaik penambahan astaxanthin yaitu pada dosis 7,5% yang menghasilkan nilai TCF sebesar 4,67, nilai hue sebesar 16,33°; dan pertumbuhan terbaik yaitu pada dosis 2,5% dengan nilai  TKP (0,69 g), FCR (1,20), EPP (83,59%), PER (2,38%), dan nilai RGR (0,91%/hari).Kata kunci: ikan cupang, astaxanthin, pakan buatan, performa warna, pertumbuhan
The Influence of Perception on Community Acceptance of Sharia Pawnbroking in Padang City Fahmi, Reza; Aswirna, Prima; Meirison; Salsabila, Putri Nadya
Journal of Islamic Economics Studies and Practices Vol. 4 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Institut Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54180/jiesp.2025.4.2.243-248

Abstract

This study aimed to analyze the influence of public perception on the acceptance of Sharia Pawnbroking (Gadai Syariah) services in Padang City, Indonesia. Utilizing a quantitative research design, the study employed a survey method on a sample of 128 respondents selected through purposive sampling. Data analysis involved descriptive statistics, the Kolmogorov-Smirnov normality test, Pearson correlation, and simple linear regression. The results indicated that while the majority of the community held a positive perception (70.31%) towards Sharia Pawnbroking, the actual level of service acceptance remained low, with 60.94% categorized as low acceptance. However, a strong, positive, and significant relationship was found between perception and acceptance (r ≈ 0.55–0.65; p < 0.05) , with perception significantly influencing acceptance (sig < 0.05). The finding suggests that positive perceptions, driven by religious alignment, are crucial, yet they are not sufficient to overcome practical barriers such as low financial literacy, limited access, high administrative costs, and persistent social stigma. Therefore, successful implementation requires an integrated strategy of intensive public education and substantial improvement in service accessibility and transparency.