Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Inhibitor Transient Receptor Potential Vanilloid Type 1: Penggunaan Topikal pada Berbagai Dermatosis Muhammad, Parikesit; Paramitha Wibawa, Larisa; Keumala Budianti, Windy; Legiawati, Lili; Menaldi, Sri Linuwih; Rosdiana, Dewi Selvina
Jurnal MedScientiae Vol. 3 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/JMedScientiae.v3i2.3179

Abstract

Transient receptor potential vanilloid type 1 (TRPV1) plays an important role in the pathophysiology of pruritus and pain. TRPV1 inhibitors can reduce the sensation of itching and pain by blocking nociceptive signals from peripheral nerve fibers to the central nervous system. Topical TRPV1 inhibitors is also thought to improve skin barrier function. Therefore, TRPV1 inhibitors are considered as potential therapy in various dermatoses. Topical TRPV1 inhibitors that are currently being studied are asivatrep for atopic dermatitis and trans-4-tert-butylcyclohexanol for various dermatoses associated with sensitive skin. Further studies with better quality and longer duration are needed to assess the efficacy and safety profile of TRPV1 inhibitors.
DERMATOMIOSITIS KLASIK DENGAN ANTI-Mi-2 ANTIBODY POSITIF: SEBUAH LAPORAN KASUS JARANG DENGAN PROGNOSIS BAIK: Laurensia, Riani; Meisyah Fitri, Eyleny; Keumala Budianti, Windy; Rihatmadja, Rahadi; Novianto, Endi; Pranathania, Andravina
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.513

Abstract

Pendahuluan: Dermatomiositis (DM) merupakan penyakit jaringan ikat langka yang ditandai manifestasi kulit khas, kelemahan otot progresif, serta keterlibatan organ multisistem. Pemeriksaan myositis-specific autoantibodies (MSA) berhubungan dengan fenotip klinis dan prognosis. Kasus: Laki-laki 36 tahun didiagnosis DM klasik dengan lesi khas berupa Gottron sign, Gottron papules, v-neck sign, shawl sign, holster sign, serta kelemahan otot progresif bilateral. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan enzim lactate dehydrogenase (LDH), alanine aminotransferase (ALT), aspartate transferase (AST), C-reactive protein (CRP), ANA IF dengan titer >1:1000 pola homogen, creatinine kinase (CK), CKMB, serta troponin I. Panel MSA didapatkan hasil positif terhadap anti-Mi-2a dan anti-Mi-2b. Pemeriksaan elektromiografi (EMG) sesuai dengan immune-mediated myopathy. Pemeriksaan histopatologis didapatkan akantosis tidak teratur, ortokeratosis, basal vacuolar alteration, keratin plug, pigment incontinence, kolagen papila dermis homogen, sebukan perivaskular ringan, deposisi musin sesuai dengan gambaran DM. Lesi kulit perbaikan dan tidak ada lesi baru, namun kelemahan pada tangan, tungkai atas, dan tungkai bawah masih dirasakan sama dengan pemberian terapi metilprednisolon 32 mg setara prednison 0,5 mg/kgBB dan metotreksat 10 mg/minggu selama 2 minggu. Diskusi: Patogenesis penyakit DM sangat kompleks dipengaruhi oleh genetik, lingkungan, dan gangguan sistem imun dengan peran autoantibodi, adanya inflamasi jaringan, kerusakan sel parenkim, dan vaskulopati. Pemeriksaan MSA membantu penegakan diagnosis DM atipikal, mengidentifikasi manifestasi keganasan, pilihan tata laksana, dan memengaruhi prognosis. Anti-Mi-2 antibody positif berhubungan dengan angka kejadian penyakit paru interstisial dan keganasan lebih rendah, serta respon terapi dan luaran klinis yang lebih baik. Simpulan: Pemeriksaan MSA dengan hasil anti-Mi-2 antibody positif pada DM dapat digunakan sebagai penanda diagnostik dan prognostik yang baik.