Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EVALUASI ARSITEKTUR JARINGAN KOMPUTER PEMERINTAH DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN SISTEM PEMERINTAH BERBASIS EKEKTRONIK (SPBE) Sa`di, Ahmad; Andriani, Ria; Ghozali, Bahrun
JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) Vol. 7 No. 1 (2023): JATI Vol. 7 No. 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/jati.v7i1.6136

Abstract

Penyelengggaraan jaringan komputer di pemerintah daerah belum memenuhi standar ketersediaan. Permasalahan yang sering dijumpai yaitu perluasan jaringan dilakukan asal terhubung, sehingga berkibat bencana. Ketika terjadi masalah pada jalur jaringan atau perangkat sehingga berdampak besar pada layanan atau aplikasi di jaringan, protokol yang mendukung redundansi juga tidak digunakan, dan beberapa gedung pemerintahan tidak terhubung ke jaringan. Kondisi tersebut belum mendukung terwujudnya Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Peneliti mengusulkan, Pemerintah yang memiliki wewenang menyediakan jaringan privat pemerintah menggunakan konsep connected, scalability, high availability, security, dan integrated. Metode yang digunakan yaitu pendekatan audit yaitu pre-audit, perform audit dan pasca-audit. Hasilnya yaitu berupa rekomendasi arsitektur jaringan intra pemerintah untuk mewujudkan sistem pemerintah berbasis elektronik yang mumpuni. Untuk menaikkan level ke skalability, dengan menggunakan pendekatan jaringan hierarki. Kuncinya yaitu dengan memperhatikan konsep desain jaringan, kualitas dan kapabilitas perangkat di layer edge, core, distribusi dan access. Pada level handal yaitu dengan mempertimbangkan layer fisik dan layer logis. Memastikan jalur redundant dan protokol yang digunakan harus mendukung failover. Protocol yang digunakan pada layer edge, core distribusi menggunakan protorokol mendukung failover. Di tingkatan selanjutnya yaitu terintegrasi. Jaringan dapat mendukung integrasi data di pusat data dengan data di DRC
OPTIMALISASI STORAGE SERVER UNTUK PENGELOLAAN DATA BESAR DALAM INDUSTRI FILM ANIMASI LAYAR LEBAR Sa`di, Ahmad; Andriani, Ria; Lukman, Lukman
JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) Vol. 9 No. 2 (2025): JATI Vol. 9 No. 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/jati.v9i2.12857

Abstract

Produksi film animasi layar lebar menghasilkan volume data yang sangat besar dan bervariasi, mulai dari terabyte hingga petabyte, yang mencakup berbagai format data seperti file render, model 3D, dan efek visual. Penyimpanan data yang besar ini tidak hanya memerlukan kapasitas yang sangat besar, tetapi juga mengharuskan akses yang cepat dan pengelolaan yang fleksibel untuk mendukung alur kerja yang intensif dalam produksi, terutama pada saar proses render. Penyimpanan tradisional seperti NAS memberikan kecepatan akses tinggi namun memiliki keterbatasan dalam kapasitas, skalabilitas, dan biaya pemeliharaan yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih efisien, yaitu penyimpanan berbasis hierarki yang dapat mengoptimalkan pengelolaan data sesuai dengan frekuensi akses dan jenis data. Penelitian ini melibatkan pengujian pada dua jenis penyimpanan, yaitu penyimpanan lokal (Network Attached Storage/NAS) dan penyimpanan cloud Tier 1, Tier 2, dan Tier 3. Analisis dilakukan berdasarkan kecepatan transfer data, kepuasan pengguna dan keputusan berjenjang/hierarki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan storage on-premis (NAS) yang diyakini memiliki kecepatan stabil dalam proses tranfer file dan render, dan mengesampingkan storage cloud namun faktanya kecepatan storage cloud lebih baik dalam mengoptimalkan penyimpananan data produksi. Dibuktikan dengan pengujian di dua lingkungan storage (on-premise dan cloud storage) kedua sama-sama diberikan bandwidth 100 Mbps. Saat transfer data, cloud tier 1 mampu dikecepatan Up / Down rata-rata di 106 / 11 Mbps, sedangkan on-premise Up / Down rata-rata di 46 / 3 Mbps. Namun keduanya masih dapat digunakan untuk proses render walaupun selisihnya setengah sepertiga waktu. NAS memiliki keunggulan dalam latensi rendah dan efisiensi akses data, tetapi throughput-nya kurang stabil. Tier 1 cloud storage memberikan performa tinggi untuk data aktif, sedangkan Tier 3 sangat ekonomis untuk data arsip dengan biaya rendah tetapi latensi lebih tinggi. Pendekatan hierarki memungkinkan setiap kategori data dialokasikan pada jenis penyimpanan yang paling sesuai.
Model Manajemen Penyimpanan Data Berbasis Pipeline Produksi Film Animasi 3D: Pipeline-Based Data Storage Management Model for 3D Animation Film Production Yuniawan, Aryanto; Sa`di, Ahmad; Anggono, Eko Tri
Jurnal Pendidikan Sains dan Komputer Vol. 6 No. 01 (2026): Artikel Riset, February 2026
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jpsk.v6i01.7952

Abstract

The 3D animated feature film industry generates a large and diverse volume of digital data due to the complexity of its production pipeline, which spans multiple stages and departments. Each stage of the production pipeline, from pre-production to post-production, generates data with distinct characteristics, access patterns, and importance levels. However, in practice, data storage management is often carried out uniformly, without consideration of its relationship to the production flow. This study aims to develop a data storage managementmodel grounded in the production pipeline of the 3D animated feature film industry. The study uses a descriptive approach, supported by applied modeling, and draws on observations, interviews, and documentation from the 3D animation production environment. The model is developed by identifying production pipeline stages, classifying data types (production, non-production [organizational operations], backup, and archive), and analyzing access characteristics and data storage needs. The results show that the proposed model can map the relationships among production pipeline stages, data types, and appropriate storage strategies, thereby forming a more systematic and contextual data management framework. The implementation of the model in a 3D animation production case study shows that adjusting storage strategies based on the production pipeline and data characteristics is realistic and applicable. This model is expected to serve as a reference for managing data storage in the production environments of 3D widescreen animated films.