Savitri Setyo Utami, Lusia
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Kiwari

Brand Ambassador Internasional dan Citra Produk Lokal Selvia, Della; Savitri Setyo Utami, Lusia
Kiwari Vol. 3 No. 3 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i3.31965

Abstract

The development of the Korean Wave has had a big impact, one of which is the use of Korean actors as brand ambassadors to represent companies in the eyes of the public. One company that uses Korean actors as brand ambassadors is Azarine Cosmetic. Azarine Cosmetic officially announced that Lee Min-Ho will become its brand ambassador in April 2022. The purpose of this research is to describe the views of Azarine Cosmetic users regarding the use of Lee Min Ho as a brand ambassador. The research was conducted using several theoretical concepts that were considered important to assist research, namely communication concepts and theories, sources or communicators, brand ambassador characteristics, and image. This research carried out a qualitative approach. Meanwhile, the research methodology used is a case study. To obtain the required data and information, interviews were conducted with sources who met the requirements, documentation and literature study. The results of the research that has been carried out show that in selecting a brand ambassador, companies must consider the type and characteristics of the brand ambassador they will use. The beauty product company Azarine Cosmetic uses a spokesperson. In the process of selecting a brand ambassador, it is explained that there are several factors that need to be considered, such as relevance to the product, attractiveness and charisma, credibility, commitment, good communication, flexibility and social influence. Through the results of this research, it can also be seen that Lee Min-Ho meets the characteristics needed as a brand ambassador to form a positive company image in the eyes of the public. Perkembangan Korean Wave memberikan dampak besar salah satunya adalah penggunaan aktor Korea sebagai brand ambassador untuk mewakili perusahaan di mata publik. Salah satu perusahaan yang menggunakan aktor Korea sebagai brand ambassador adalah Azarine Cosmetic. Azarine Cosmetic secara resmi mengumumkan bahwa Lee Min-Ho menjadi brand ambassador pada April 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pandangan dari pengguna Azarine Cosmetic atas penggunaan Lee Min Ho sebagai brand ambassador. Penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa konsep teoritis yang dipandang penting untuk membantu penelitian yaitu konsep dan teori komunikasi, sumber atau komunikator, karakteristik brand ambassador, dan citra. Penelitian ini dilakukan pendekatan kualitatif. Sedangkan dan metodologi penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan dilakukan wawancara dengan narasumber yang memenuhi persyaratan, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa dalam pemilihan brand ambassador, perusahaan harus mempertimbangkan jenis dan kerakteristikl brand ambassador yang akan digunakan. Perusahaan produk kecantikan Azarine Cosmetic menggunakan spokesperson. Dalam proses pemilihan brand ambassador digambarkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti relevansi dengan produk, daya tarik dan kharisma, kredibilitas, komitmen, komunikasi yang baik, flexibility serta pengaruh sosial. Melalui hasil penelitian ini juga dapat diketahui bahwa Lee Min-Ho memenuhi karakteristik yang dibutuhkan sebagai seorang brand ambassador untuk membentuk citra perusahaan secara positif di mata publik.
Komunikasi Virtual Antaranggota Kelompok Gamers Mobile Legend Poseidon Yuditha Emmanuel, Ronald; Savitri Setyo Utami, Lusia
Kiwari Vol. 3 No. 3 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i3.32017

Abstract

Mobile Legend is an online game in the Moba genre or Multiplayer Online Battle Arena where each player has to work together to win the game. Roles are the roles of each hero in Mobile Legends which are grouped based on their duties and functions in a game. Communication is an important factor in this game because in the game you have to have a strategy that must be carried out together, therefore teamwork is needed. Usually in the Mobile Legend game virtual communication and group communication are the main choices for players so they can carry out the strategies that have been prepared. The purpose of this research is to determine and describe virtual communication between groups within the Poseidon team. This research was conducted using a qualitative approach using the case study method. Data was obtained from interviews with four informants, observation, documentation and literature study. The research results show that communication is the most important thing in playing the Mobile Legend game and choosing the communication media to be used also has a very important role for gamers so they can communicate comfortably virtually. A team must have a leader who is the main figure in directing the players and maintaining communication so that there is no miscommunication and differences of opinion between the team. Mobile Legend merupakan salah satu game online bergenre Moba atau Multiplayer Online Battle Arena di mana setiap pemain harus saling bekerja sama untuk memenangkan permainannya. Komunikasi menjadi faktor penting di dalam permainan ini karena dalam permainannya harus memiliki strategi yang harus dijalankan bersama, maka dari itu kerja sama tim diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komunikasi virtual antaranggota kelompok di dalam tim Poseidon. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh dari kegiatan wawancara dengan empat orang informan, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi menjadi hal terpenting dalam bermain game Mobile Legend dan pemilihan media komunikasi yang akan digunakan juga memiliki peran yang sangat penting bagi para gamersagar dapat berkomunikasi virtual dengan nyaman. Di dalam sebuah tim harus memiliki seorang leader yang menjadi sosok utama dalam mengarahkan pemain dan menjaga komunikasi supaya tidak terjadi miskomunikasi dan perbedaan pendapat antartim.
Konten Sarkasme, TikTok, dan Remaja Pradana, Johannes; Savitri Setyo Utami, Lusia
Kiwari Vol. 3 No. 2 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i2.30171

Abstract

In general, the language of sarcasm is used to ridicule and even beat the speech partner. Sarcasm language refers to harsh words and contains scathing jokes or satire that can hurt someone's heart. Sarcasm in social media is ridicule or ridicule that is expressed either in writing, photos, or videos. The social media that is widely used by Indonesian people from all walks of life is the TikTok application. One example of sarcasm on TikTok is in the TikTok content of a teenager @ramdani_eka who misused the word "chuaks" to become a sarcastic sentence ending. Examples of teenage sarcasm content are “Elite style, difficult economy chuaks”, and “It's useless to be pretty if you're fat chuaks”. The purpose of this study is to describe and describe the views of adolescents on sarcasm content on the @ramdhani_eka TikTok account. This study uses the theory of symbolic interaction, with three main concepts: Mind, Self, and Society which are the theoretical reviews and uses concepts related to social media. The research methodology used is a qualitative approach with the case study method. The results of the study describe the adolescent's view that sarcasm that does not touch sensitive matters tends to be considered ordinary joke material, but if it mentions sensitive matters, then the sarcasm is considered negative. Pada umumnya bahasa sarkasme dimanfaatkan untuk mengejek bahkan mengalahkan mitra tutur. Bahasa sarkasme mengacu pada perkataan yang kasar dan mengandung olokan atau sindiran pedas yang bisa menyakiti hati seseorang. Sarkasme dalam media sosial merupakan ejekan atau cemoohan yang dituangkan baik secara tulisan, foto ataupun video. Media sosial yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia dari segala kalangan adalah aplikasi TikTok. Contoh sarkasme di TikTok salah satunya adalah pada konten tiktok seorang remaja @ramdani_eka yang menyalahgunakan kata “chuaks” menjadi sebuah akhiran kalimat sarkasme. Contoh konten sarkasme remaja tersebut “Gaya elit, ekonomi sulit chuaks”, “Percuma cantik kalo gendut chuaks”. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menguraikan pandangan remaja pada konten sarkasme di akun TikTok @ramdhani_eka. Penelitian ini menggunakan teori interaksi simbolik, dengan tiga konsep utamanya: Mind, Self, dan Society yang menjadi tinjauan teoritisnya serta menggunakan konsep-konsep terkait media sosial. Metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian mendeskripsikan pandangan remaja bahwa sarkasme yang tidak menyentuh hal-hal sensitif cenderung dianggap sebagai bahan candaan biasa, tetapi jika sudah menyinggung hal-hal sensitif, maka sarkasme tersebut dianggap negatif.