Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Keterlambatan Berbahasa dalam Aspek Fonologi pada Anak Usia 5 Tahun Risky Nur Amalia; Farida Maesaroh
Khirani: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 2 No. 3 (2024): September: KHIRANI: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/khirani.v2i3.1193

Abstract

The purpose of this study was to find out the causes of language delays in phonological aspects of five-year-old subjects. The problem that underlies this research is related to language disorders. Language disorder in children's speech development is one type of communication disorder which is indicated for children who experience disturbances in the process of using any symbols in language. In this study, it discusses speech sound pronunciation disorders experienced by 5 year old children, especially in the phonological aspect. The method used is qualitative with note-taking techniques and collecting data sources through interviews, subjects are given light questions so they are easy to understand.
Konstruksi Kecantikan dalam Novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka Farida Maesaroh
JALADRI : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 2 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i2.4201

Abstract

Cantik Itu Luka dan Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka merupakan novel yang mengambil perempuan sebagai tokoh utamanya. Novel Midah Si Manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer dan Novel Cantik Luka karya Eka Kurniawan merupakan dua karya besar yang mendapatkan berbagai penghargaan. Bertema pada perjuangan perempuan, kedua novel ini memaknai cantik yang dikonstruksikan melalui tokoh-tokoh perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi kecantikan dalam novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan novel Cantik Itu Luka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sastra bandingan, khususnya untuk mendapatkan persamaan atau perbedaan dalam kedua novel tersebut. Teori konstruksi kecantikan dengan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud digunakan untuk memperoleh pemaknaan kecantikan dari kepribadian tokoh perempuan. Hasil analisis dari kedua novel mengkonstruksikan kecantikan bukan hanya soal cantik dari dalam ataupun luar, juga sebagai pandangan bahwa cantik itu bisa membawa kemalangan dan malapetaka. Perbandingan tentang kecantikan yang muncul dari novel Midah Si Manis Bergigi Emas memfokuskan kecantikan pada satu kepribadian tokoh yang menjadi pusat dari alur ceritanya, yaitu Midah. Novel Cantik Itu Luka direkonstruksi oleh beberapa tokoh perempuan seperti Dewi Ayu, Cantik, Alamanda, dan Aneu dengan beragam stigma yang didapatkannya.
Konstruksi Kecantikan dalam Novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka Farida Maesaroh
JALADRI : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 2 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i2.4201

Abstract

Cantik Itu Luka dan Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka merupakan novel yang mengambil perempuan sebagai tokoh utamanya. Novel Midah Si Manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer dan Novel Cantik Luka karya Eka Kurniawan merupakan dua karya besar yang mendapatkan berbagai penghargaan. Bertema pada perjuangan perempuan, kedua novel ini memaknai cantik yang dikonstruksikan melalui tokoh-tokoh perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi kecantikan dalam novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan novel Cantik Itu Luka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sastra bandingan, khususnya untuk mendapatkan persamaan atau perbedaan dalam kedua novel tersebut. Teori konstruksi kecantikan dengan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud digunakan untuk memperoleh pemaknaan kecantikan dari kepribadian tokoh perempuan. Hasil analisis dari kedua novel mengkonstruksikan kecantikan bukan hanya soal cantik dari dalam ataupun luar, juga sebagai pandangan bahwa cantik itu bisa membawa kemalangan dan malapetaka. Perbandingan tentang kecantikan yang muncul dari novel Midah Si Manis Bergigi Emas memfokuskan kecantikan pada satu kepribadian tokoh yang menjadi pusat dari alur ceritanya, yaitu Midah. Novel Cantik Itu Luka direkonstruksi oleh beberapa tokoh perempuan seperti Dewi Ayu, Cantik, Alamanda, dan Aneu dengan beragam stigma yang didapatkannya.
Konstruksi Kecantikan dalam Novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka Farida Maesaroh; Dora Hatika Pertiwi
DIAJAR: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 4 (2024): Oktober 2024
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/diajar.v3i4.3249

Abstract

Beauty is a Wound and Midah the Sweet Gold-Toothed and Beauty is a Wound are novels that take women as their main characters. The novel Midah the Sweet Gold-Toothed by Pramoedya Ananta Toer and the novel Beauty is a Wound by Eka Kurniawan are two great works that have received various awards. With the theme of women's struggle, these two novels interpret beauty that is constructed through female characters. This study aims to describe the construction of beauty in the novel Midah the Sweet Gold-Toothed and the novel Beauty is a Wound with a qualitative descriptive approach. The method used in this study is comparative literature, especially to find similarities or differences in the two novels. The theory of beauty construction with the approach of Sigmund Freud's literary psychology is used to obtain the meaning of beauty from the personality of the female character. The results of the analysis of the two novels construct beauty not only about beauty from the inside or outside, but also as a view that beauty can bring misfortune and disaster. The comparison of beauty that emerges from the novel Midah the Sweet Gold-Toothed focuses beauty on one character's personality that is the center of the storyline, namely Midah. The novel Cantik Itu Luka is reconstructed by several female characters such as Dewi Ayu, Cantik, Alamanda, and Aneu with the various stigmas they receive..
Konstruksi Kecantikan dalam Novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka Farida Maesaroh
Jaladri : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 2 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i2.4201

Abstract

Cantik Itu Luka dan Midah Si Manis Bergigi Emas dan Cantik Itu Luka merupakan novel yang mengambil perempuan sebagai tokoh utamanya. Novel Midah Si Manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer dan Novel Cantik Luka karya Eka Kurniawan merupakan dua karya besar yang mendapatkan berbagai penghargaan. Bertema pada perjuangan perempuan, kedua novel ini memaknai cantik yang dikonstruksikan melalui tokoh-tokoh perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi kecantikan dalam novel Midah Si Manis Bergigi Emas dan novel Cantik Itu Luka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sastra bandingan, khususnya untuk mendapatkan persamaan atau perbedaan dalam kedua novel tersebut. Teori konstruksi kecantikan dengan pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud digunakan untuk memperoleh pemaknaan kecantikan dari kepribadian tokoh perempuan. Hasil analisis dari kedua novel mengkonstruksikan kecantikan bukan hanya soal cantik dari dalam ataupun luar, juga sebagai pandangan bahwa cantik itu bisa membawa kemalangan dan malapetaka. Perbandingan tentang kecantikan yang muncul dari novel Midah Si Manis Bergigi Emas memfokuskan kecantikan pada satu kepribadian tokoh yang menjadi pusat dari alur ceritanya, yaitu Midah. Novel Cantik Itu Luka direkonstruksi oleh beberapa tokoh perempuan seperti Dewi Ayu, Cantik, Alamanda, dan Aneu dengan beragam stigma yang didapatkannya.