Introduction: Respiratory failure merupakan situasi dimana sistem pernapasan tidak dapat melaksanakan tugas pertukaran gas, yang meliputi penyerapan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Ketidakberhasilan pembersihan jalan napas merupakan ketidakmampuan untuk menghilangkan lendir atau hambatan pada jalan napas demi menjaga agar jalan napas tetap terbuka. Active Assisted Exercise berfungsi untuk menghindari atrofi dan kontraktur pada otot – otot ektremitas dan Chest Therapy merupakan salah satu tindakan terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi bersihan jalan nafas.Case Presentation: Pasien berusia 68 tahun sudah 3 hari terakhir kedua kaki bengkak, batuk, berdahak. Keluhan utama pasien yaitu sehabis pemasangan alat bantu napas melalui mulut, pasien menjadi memiliki retensi mucus. Heart Rate 94 kali per menit, frekuensi pernapasan tinggi mencapai 45 kali per menit, dan kadar oksigen tercatat sebesar 58%. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, dan mMRC dengan skor 4.Management and Outcome: Setelah menjalani terapi Active Assisted Exercise dan Chest Therapy sebanyak tiga kali, tampak adanya penurunan tingkat kesulitan bernapas dari 5 yang mengindikasikan sesak napas yang sangat parah. Namun, setelah terapi, angka tersebut berkurang menjadi 3, yang menunjukkan adanya sedikit sesak napas tingkat sedang, serta peningkatan dalam kemampuan fungsional dengan mMRC dari 4 turun menjadi 2.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk kasus gagal napas menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, memperbaiki kapasitas dada, serta meningkatkan fungsi paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien mengalami perbaikan dari keadaan sebelumnya.