Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tatalaksana Fisioterapi dan Penggunaan Metode Pursed Lip Breathing pada Pasien PPOK Tipe D Nay, Agriastari Dwiputri Harun Umbu; Widodo, Agus; Sulistyowati, Fatonah
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) atau COPD (chronic obstructive pulmonary disease) adalah penyakit kronis dan progresif pada saluran napas dan paru yang ditandai dengan obstruksi bronkus yang tidak dapat di sembuhkan. Pada Kondisi PPOK dinding paru mengalami gangguan pengembangan paru ditandai dengan perubahan remodeling vaslukalar utama karena melibatkan pengingkatan penebalan pada intima arteru paru karena proliferasi sel otot polos yang berorintasi longitudinal tanpa adanya perbedaan yang signifkan dalam komponen matriks seluler dan ektaseller serta penebalan yang menyebabkan penurunan diameter lumen arteri. Salah satu intervensi pada kondisi PPOK adalah dengan menggunakan metode Pursed Lip Breathing yang dapat membantu meringkankan gelaja sesak napasCase Presentation: Pasien atas nama Tn. S usia 54 tahun mengeluhkan sesak napas berat dan dan batuk berdahak berdasarkan diagnosis medis pasien menderita PPOK type D. Pasien mengeluhkan sesak napas karena melakukan aktivitas berlebih sepert menjahit, lalu merasakan batuk berdahak yang sering muncul saat pagi hari.Management and Outcome: Diberikan nebulizer terlebih dahulu dengan bantuan bronkodilator berupa Meprovent dan Budesma 0,5 selama 15 menit dan diberikan Pursed lips breathing dan breathing control. Untuk outcome pada pasien PPOK menggunakan The modified MRC (Medical Research Council) dyspnea Scale. Alat ukur ini berupa kuisioer yang terdiri dari lima pernyataan tentang sesak napas didapati skore MRC dyspnea scale yaitu 3.Discussion: Metode Pursed lip breathing dengan prinsip membuat inspirasi lebih Panjang dari pada ekspirasi pada kondisi PPOK adalah bertujuan untuk membantu pasien mengendalikan frekuensi pernapasan yang abnormal pada pasien dengan PPOK, yaitu dari pernapasan yang dangkal dan cepat berubah menjadai pernapasan yang dalam dan lambat. Teknik pursed lips breathing merupakan salah satu teknik pernapasan yang mudah digunakan dan tidak membutuhkan alat bantu apapun dalam proses pelaksanaannya serta memiliki pengaruh besar terhadap proses bernapas dan oksigenisasi pasien PPOKConclusion: Hasil dari kasus diatas setelah diberikannya bronkodilator dan juga teknik pursed lip breathing exercise serta breathing control terjadi penurunan sesak napas.
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Respiratory Failure di RSUP Surakarta: Case Report Priambodo, Hafid Dito; Wijianto, W; Sulistyowati, Fatonah
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Respiratory failure merupakan situasi dimana sistem pernapasan tidak dapat melaksanakan tugas pertukaran gas, yang meliputi penyerapan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Ketidakberhasilan pembersihan jalan napas merupakan ketidakmampuan untuk menghilangkan lendir atau hambatan pada jalan napas demi menjaga agar jalan napas tetap terbuka. Active Assisted Exercise berfungsi untuk menghindari atrofi dan kontraktur pada otot – otot ektremitas dan Chest Therapy merupakan salah satu tindakan terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi bersihan jalan nafas.Case Presentation: Pasien berusia 68 tahun sudah 3 hari terakhir kedua kaki bengkak, batuk, berdahak. Keluhan utama pasien yaitu sehabis pemasangan alat bantu napas melalui mulut, pasien menjadi memiliki retensi mucus. Heart Rate 94 kali per menit, frekuensi pernapasan tinggi mencapai 45 kali per menit, dan kadar oksigen tercatat sebesar 58%. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, dan mMRC dengan skor 4.Management and Outcome: Setelah menjalani terapi Active Assisted Exercise dan Chest Therapy sebanyak tiga kali, tampak adanya penurunan tingkat kesulitan bernapas dari 5 yang mengindikasikan sesak napas yang sangat parah. Namun, setelah terapi, angka tersebut berkurang menjadi 3, yang menunjukkan adanya sedikit sesak napas tingkat sedang, serta peningkatan dalam kemampuan fungsional dengan mMRC dari 4 turun menjadi 2.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk kasus gagal napas menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, memperbaiki kapasitas dada, serta meningkatkan fungsi paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien mengalami perbaikan dari keadaan sebelumnya.