Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prevalensi Diabetes Melitus di Puskesmas Palmerah Tahun 2024 Lestari, Sri; Theresia, Tiarma Talenta; Hutagaol, Mula Batiswa; Santoso, James Hartono; Maharani, Febby Putri; Valeri, Clarissa; Yunizar, Vania Rizky; Aprilita, Aweni Tria; Muqodariah, Ratu Hobibah; Indira NP, Puri; Fitriantika, Gizella
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 8 No. 3 (2025): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v8i3.3691

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat. DKI Jakarta menjadi wilayah dengan prevalensi DM tertinggi. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi DM di Jakarta yaitu 3,9%. Puskesmas Palmerah berperan aktif dalam memberikan perawatan bagi penderita diabetes, dengan harapan dapat mengurangi peningkatan kasus serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tujuan: Mengetahui gambaran penyakit diabetes melitus di Puskesmas Palmerah. Metode Penelitian: Observasional deskriptif, menggunakan data dari Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Palmerah. Hasil: Pasien yang terdiagnosa positif diabetes melitus di Puskesmas Palmerah pada tahun 2024 sebanyak 597 kasus dengan peningkatan tertinggi pada bulan juni sebanyak 89 pasien, sedangkan pasien dengan diabetes melitus terkendali sebanyak 294 kasus dengan peningkatan tertinggi pada bulan mei sebanyak 70 pasien. Kesimpulan: Kasus diabetes melitus di Puskesmas Palmerah terus mengalami peningkatan setiap bulan pada tahun 2024, baik yang terdeteksi maupun terkendali. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) di Puskesmas Palmerah menunjukkan adanya dukungan yang baik dari berbagai sektor, namun masih menghadapi kendala terkait kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dan pencegahan diabetes melitus.
Efek antibakteri dan antibiofilm minyak atsiri cendana india (santalum album l.) Terdahap fusobacterium nucleatum dan treponema denticola (in vitro) Valeri, Clarissa; Tri Oka Binartha, Ciptadhi
Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jkgt.v6i1.20915

Abstract

Background: Periodontitis caused by pathogenic bacteria such as Fusobacterium nucleatum and Treponema denticola. Periodontitis prevented by chemical plaque control using chlorhexidine, but excessive chlorhexidine causes discoloration of the teeth. Indian sandalwood essential oil extract is a natural ingredient can be used as an alternative and have function inhibiting bacterial growth. Purpose: To determine the effect of Indian sandalwood essential oil in inhibiting the growth and biofilm of Fusobacterium nucleatum and Treponema denticola. Method: Fusobacterium nucleatum and Treponema denticola bacteria cultured at 37C for 24 hours. The 100% essential oil dissolved into concentrations 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%. Antimicrobial tests using microdilution method by calculating average colonies. Biofilm test using biofilm assay method with incubation period 1, 3, and 24 hours. Biofilm assay results viewed with a microplate reader with a wavelength 490 nm. Results: Microdilution of F. nucleatum and T. denticola obtained minimal inhibition at 50% concentration. Fusobacterium nucleatum biofilm test obtained inhibition at 50% concentration for 1 hour incubation period, while it can be killed at 50% concentration for 3 hours incubation and at 50%, 25%, 12,5%, 6,25% concentration for 24 hours incubation. Treponema denticola biofilm test obtained inhibition at 50% concentration for 1 and 3 hours incubation, while it can be killed at 50%, 25%, 12,5%, 6,25% concentration for 24 hours incubation. Conclusion: Indian sandalwood essential oil extract proved effective in inhibiting the growth and biofilm of F. nucleatum and T. denticola.