Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendampingan/Revitalisasi Posyandu Cempaka 1 Banjar Taked Desa Selulung Kecamatan Kintamani Putu Ayunda Trisnia; Ni Wayan Sri Ekayanti
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is chronic malnutrition, especially experienced by toddlers, and has unfavorable short-term and long-term outcomes. There are so many impacts caused by stunting that require serious treatment, both in Indonesia and throughout the world. Stunting can have an impact on cognitive decline, impaired immunity, and the risk of suffering from degenerative diseases in the future. The main causes of stunting include family factors/parenting patterns, breast milk, inadequate provision of MPASI, and infection. This community service activity involves families of stunted and potentially stunted toddlers in Banjar Taked, Selulung Village, Kintamani, and Bangli as partners. The main focus of the problems is increasing family knowledge regarding making and providing adequate, healthy, and nutritious MPASI from local food ingredients, as well as increasing the ability of posyandu cadres to carry out anthropometric measurements. The proposed solution to the problem of insufficient nutritional intake in children under five is increasing the knowledge of mothers of toddlers about parenting patterns and healthy food for children under five and the skills in making PMT from local food ingredients as well as increasing the ability of posyandu cadres in carrying out anthropometric measurements. The methods used in this activity are counseling, discussion, and training. The results of this activity are an increase in the knowledge of posyandu cadres in carrying out anthropometric measurements as well as an increase in the knowledge of mothers of toddlers regarding providing MPASI that is adequate and has high nutritional value. After this service was carried out, partners began to be moved to provide nutritious food to prevent stunting in toddlers.
PREVALENSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-24 BULAN YANG BERKUNJUNG KE POLI ANAK RSU BALI JIMBARAN Putu Ayunda Trisnia; Ni Putu Indah Kusumadewi Riandra; Ni Wayan Sri Ekayanti
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.177

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi ideal untuk bayi. ASI banyak memberikan manfaat bagi bayi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan laporan Riskesdas tahun 2021 adalah sebesar 52,5%. Ini menunjukkan masih terdapat sekitar dua juta bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif sehingga tidak memperoleh manfaat ASI dengan maksimal. Rumah Sakit Bali Jimbaran adalah salah satu rumah sakit yang berada di Kabupaten Badung, melayani persalinan ibu hamil dengan kisaran 300 persalinan per tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi serta faktor determinan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia di bawah 6 bulan. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian potong lintang yang dilakukan pada 50 balita usia 6 sampai 24 bulan yang berkunjung ke poli anak RSU Bali Jimbaran pada periode bulan September 2023-Maret 2024. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling berdasarkan urutan kedatangan, menggunakan pedoman wawancara terstruktur. Prevalensi pemberian ASI eksklusif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan jumlah subjek 50 orang, subjek yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berjumlah 22 orang (44%). Riwayat penghentian pemberian ASI eksklusif di bawah usia satu bulan adalah sebanyak 16 subjek (72,7%). Jumlah subjek sejak lahir tidak mendapatkan ASI adalah 4 orang (18,2%). Alasan penghentian ASI eksklusif diantaranya produksi ASI sedikit, sulit perlekatan, bayi sakit, ibu sakit, dan ibu bekerja. Kesimpulan prevalensi pemberian ASI eksklusif pada penelitian ini sebesar 56%. Alasan menghentikan ASI eksklusif terbanyak adalah produksi ASI sedikit. Penghentian ASI terbanyak didapatkan pada usia di bawah 1 bulan.