Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Human Traficking dalam Al-Qur'an: (Studi Analisis QS. Yusuf (12): 20, QS. Al-Baqarah (2):102, QS. An-Nur (24): 33 dalam Kitab Tafsir Fathul Qadir Karya Asy-Syaukani) Fadilah; Lizamah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 4 No. 01 (2024): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v4i01.898

Abstract

Abstrak: Trafficking manusia adalah suatu perbudakan zaman modern atau sebuah penerimaan atau penampungan seseorang dengan ancaman yang menggunakan kekerasan, perekrutan, prostitusi, pengiriman, dan wewenang seseorang atas tujuan eksploitasi. Fenomena tentang trafficking manusia atau perdagangan khususnya terhadap perempuan dan anak bukanlah suatu hal yang yang baru berkembang, akan tetapi perdagangan manusia sudah terjadi sejak sebelum masuknya Islam. Dalam Al-Qur`an trafficking manusia tidak disebutkan secara khusus melainkan ada beberapa ayat yang secara tidak langsung atau secara konseptual menggambarkan praktik trafficking manusia. Adapun ayat Al-Qur`an yang menggambarkan hal tersebut yaitu Qs. Yusuf (12):20, Qs. Al-Baqarah (2):102, Qs An-Nur (24):33, untuk dapat mejelaskan ayat tersebut dan mendalami tentang trafficking manusia dalam Al-Qur`an, penelitian ini menggunakan kitab Tafsir Fathul Qadir karya asy-Syaukani. Berdasarkan hal tersebut dapat ditemukan pokok permasalahan dalam penulisan: 1) Term atau ayat apa saja yang digunakan Al-Qur`an dalam menyebut human trafficking? 2) Bagaimana penafsiran As-Syaukani mengenai Qs. Yusuf (12):20, Qs. Al-Baqarah (2):120, Qs. An-Nur (24):33 yang membahas masalah human trafficking?. Dalam penelitian ini penulis membahas tentang trafficking manusia dalam Kitab Tafsir Fathul Qadir karya asy-Syaukani. Penelitian yang penulis tulis merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan metode penelitian Tafsir Maudhu’i Konseptual yang di dasarkan kepada Tafsir Fathul Qadir sebagai sumber data primer dan buku-buku serta jurnal-jurnal lainnya sebagai sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik analisis data yaitu deskriptif-analisis. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) Al-Qur’an menyebutkan beberapa istilah atau term tentang praktik human trafficking, yaitu. Raqabah/Riqab, Syir?, big?. 2) As-Syaukani menjelaskan ayat-ayat tersebut dengan apa yang terjadi di masa modern dan menjelaskan dengan peristiwa yang terjadi terhadap Nabi Yusuf, menjual keimanan dengan kesesatan dan prostitusi. Kata Kunci: Trafficking Manusia, Maudhu’i, As-Syaukani.
MAQᾹṢID AL-QUR’ᾹN AYAT NAFKAH KEPADA ISTRI PERSPEKTIF ṢIDDĪQ HASAN KHAN DALAM KITAB FATḤ AL-BAYᾹN FĪ MAQᾹṢID AL-QUR’ᾹN Rosi, Abdullah Fahrur; Ubaidillah, Mohammad Farah; Lizamah
Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 8 No. 2 (2025): Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Jawa Timur: Prodi. Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAI Tarbiyatut Tholabah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/alfurqan.v8i2.4187

Abstract

The issue of spousal maintenance (nafqa) remains a persistent source of domestic conflict within Muslim families, frequently contributing to marital breakdown and divorce. This study critically examines Ṣiddīq Ḥasan Khān’s conception of the husband’s obligation of maintenance as articulated in Fatḥ al-Bayān fī Maqāṣid al-Qur’ān, situating his exegetical position within a maqāṣid al-Qur’ān framework as developed by Maḥmūd Shaltūt. Rather than approaching maintenance solely as a juristic obligation, this article seeks to uncover the ethical and socio-moral rationales underlying Qur’anic injunctions on financial responsibility within marriage. Employing a qualitative, library-based research design, the study conducts a thematic analysis of key Qur’anic passages on maintenance—Qur’ān 2:233, 2:241, 4:5, 4:34, and 65:6–7—drawing on primary sources including the Qur’ān, Fatḥ al-Bayān, and Shaltūt’s Ilā al-Qur’ān, supported by relevant secondary literature in Qur’anic exegesis and Islamic family law. The findings demonstrate that Ṣiddīq Ḥasan Khān conceptualizes maintenance as the husband’s fundamental and continuous responsibility, encompassing provision of food, clothing, and housing in accordance with the husband’s financial capacity and prevailing social norms. This obligation persists under specific circumstances, such as during the ‘iddah period and pregnancy, reflecting a protective orientation toward women’s rights. From a maqāṣid al-Qur’ān perspective, maintenance emerges not merely as a legal prescription but as a moral commitment aimed at upholding justice, sustaining marital harmony, and securing broader social welfare. This study contributes to contemporary Qur’anic family law scholarship by integrating classical exegetical insights with a maqāṣid-oriented reading, offering a more ethically grounded and context-sensitive understanding of spousal maintenance in the Qur’ān.