Peningkatan belanja pemerintah di sektor kesehatan di Indonesia belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan indikator kesehatan utama, seperti Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan prevalensi stunting. Ketimpangan antara besarnya input fiskal dan capaian output kesehatan semakin nyata pada periode 2020–2022, ketika pandemi COVID-19 menimbulkan policy shock yang menekan sistem kesehatan nasional. Kondisi ini mengindikasikan pentingnya evaluasi efisiensi pengelolaan anggaran kesehatan, khususnya dalam situasi krisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat efisiensi pengeluaran pemerintah bidang kesehatan antarprovinsi di Indonesia serta menganalisis pengaruh efisiensi tersebut terhadap Angka Harapan Hidup (AHH) sebagai outcome kesehatan jangka panjang. Metode yang digunakan adalah Data Envelopment Analysis (DEA) non-parametrik dengan model BCC berorientasi output, menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Subtotal Kesehatan sebagai input dan indikator kesehatan dasar (stunting, AKI, dan AKB) sebagai output. Selanjutnya, analisis regresi data panel diterapkan pada 34 provinsi selama periode 2020–2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi belum mencapai tingkat efisiensi optimal, ditandai dengan variasi skor efisiensi dan gap output yang besar. Analisis regresi mengindikasikan bahwa efisiensi pengeluaran kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap AHH, yang mencerminkan bahwa perbaikan outcome kesehatan jangka panjang tidak dapat dicapai semata-mata melalui efisiensi teknis belanja kesehatan dalam jangka pendek. Increased government spending in the health sector in Indonesia has not been fully accompanied by improvements in key health indicators, such as the Maternal Mortality Rate (MMR), Infant Mortality Rate (IMR), and prevalence of stunting. The gap between the size of fiscal inputs and health output achievements became even more apparent in the 2020–2022 period, when the COVID-19 pandemic caused a policy shock that put pressure on the national health system. This condition indicates the importance of evaluating the efficiency of health budget management, especially in crisis situations. This study aims to measure the level of efficiency of government spending on health between provinces in Indonesia and analyze the effect of this efficiency on life expectancy as a long-term health outcome. The method used is non-parametric Data Envelopment Analysis (DEA) with an output-oriented BCC model, using the Health Subtotal Special Allocation Fund (DAK) as input and basic health indicators (stunting, MMR, and IMR) as output. Furthermore, panel data regression analysis was applied to 34 provinces during the 2020–2022 period. The results of the study show that most provinces have not yet achieved optimal efficiency levels, as indicated by variations in efficiency scores and large output gaps. Regression analysis indicates that health expenditure efficiency does not have a significant effect on AHH, reflecting that improvements in long-term health outcomes do not necessarily translate into improvements in health outcomes.