Rachman, Rizaldy Fathur
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Risk Assessment Dan Risk Control Kegiatan Pada Pekerja Di Unit Pelayanan Central Sterile Supply Department Rsd Gunung Jati Kota Cirebon Rachman, Rizaldy Fathur; Kunnati; adi supriadi
Jurnal Kesehatan Pertiwi Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan Pertiwi (Vol. 5 No.2 - Desember 2023)
Publisher : Poltekes Bhakti Pertiwi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Rumah sakit sebagai institusi penyedia pelayanan kesehatan berupaya untuk mencegah risiko terjadinya infeksi bagi pasien dan petugas rumah sakit. Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan rumah sakit adalah rendahnya angka infeksi nosokomial di rumah sakit. Tujuan untuk menganalisa dan mengetahui risk assessment dan risk control di Unit Pelayanan Instalasi CSSD. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif. Pada penelitian ini populasi Pekerja CSSD di Rumah sakit gunung Jati 30 orang di bagi 2 shift. Hasil : penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat risiko di bagian CSSD ada di tingkat sedang dan rendah, berikut adalah resiko bahaya pada tingkat sedang terdiri dari Infeksi dan tertular penyakit, Iritasi mata, luka bakar, dan cedera punggung. Berikut adalah risiko bahaya dari tingkat resiko rendah yaitu Kaki Pegal, Iritasi kulit, Iritasi saluran nafas dan pencernaan, tertular bakteri melalui air bone, terpeleset dan juga dehidrasi Kesimpulan: penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variable dari dimensi (bukti fisik, keandalan, ketanggapan, jaminan dan empati secara bersama – sama memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien rawat jalan. Upaya untuk memperbaiki prosedur rawat jalan dengan melakukan pelayanan rawat jalan sesuai prosedur pendaftaran, untuk itu disarankan agar RS Permata Kuningan dapat melakukan perbaikan, peningkatan, dan pengembangan sarana fisik seperti membersihkan ruang perawatan dan lingkungan disekitarnya agar tertata lebih rapi dan bersih.
Hubungan Antara Faktor Penghambat Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dengan Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3): The Relationship Between Inhibiting Factors of the Occupational Safety and Health Management System (SMK3) and Its Implementation Rachman, Rizaldy Fathur; Kunnati; Roni Iryadi
Journal of Public Health Education Vol. 4 No. 1 (2024): Journal of Public Health Education
Publisher : MPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/jphe.v4i1.382

Abstract

Introduction: The Occupational Safety and Health Management System (SMK3) is a factor that plays an important role in hospital services. With the SMK3, it is hoped that the hospital will carry out health and safety efforts that can control and minimize potential hazards that may arise and threaten the lives and lives of hospital employees, patients and visitors in the hospital environment. However, until now the implementation of SMK3 in hospitals has often not been implemented properly. This is because there are various inhibiting factors that interfere with the smooth implementation of the RS SMK3 program Objectives: This research was conducted to determine the relationship between inhibiting factors and the implementation of SMK3 at the Gunung Jati Regional General Hospital, Cirebon City, by looking at the significant value Method: This research was conducted with a cross sectional design. Respondents in this study were 70 employees taken by stratified random sampling technique. More in-depth information about the variables studied was obtained through a questionnaire Result: The independent variable of this research is the inhibiting factor while the dependent variable of this research is the implementation of SMK3. The Somers' D correlation test shows that there is a relationship between the inhibiting factors and the implementation of SMK3 (p = 0.0001). Conclution: The conclusion that can be drawn is that there is a relationship between the inhibiting factors and the implementation of SMK3 at Gunung Jati Hospital, Cirebon Regency.
Hubungan Motivasi Belajar dengan Tingkat Kecemasan Mahasiswa Kebidanan dalam Menghadapi OSCE (Objective Structured Clinical Examination): The Association Between Learning Motivation and Anxiety Levels Among Midwifery Students Facing the Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Rachman, Rizaldy Fathur; Kunnati, Kunnati; Listyaningsih, Listyaningsih
Indonesia Journal of Midwifery Sciences Vol. 5 No. 1 (2026): Indonesia Journal of Midwifery Sciences (IJMS)
Publisher : SCIPRO Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/ijms.v5i1.264

Abstract

Latar Belakang: Ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan metode evaluasi penting di bidang kesehatan, termasuk di Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Politeknik Bhakti Pertiwi Husada Namun, ujian ini sering menjadi sumber kecemasan bagi mahasiswa yang mempengaruhi performa akademik. Tujuan: Menganalisis hubungan antara motivasi belajar dan tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi ujian OSCE.Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan cross-sectional dengan populasi 122 mahasiswa yang mempersiapkan ujian OSCE periode III tahun 2025. Data diperoleh melalui kuesioner Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42), kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: menunjukkan seluruh responden berjenis kelamin perempuan (100%) dengan  rentang usia 20–23 tahun. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan signifikan antara motivasi belajar dan tingkat kecemasan (p-value < 0,05). Sebanyak 80,77% mahasiswa dengan motivasi belajar rendah mengalami kecemasan berat, sedangkan 71,43% mahasiswa dengan motivasi belajar tinggi hanya mengalami kecemasan ringan. Analisis menunjukkan hubungan signifikan antara motivasi belajar dan kecemasan (p < 0,05).Kesimpulan: motivasi belajar yang tinggi memiliki asosiasi dengan tingkat kecemasan mahasiswa.