Tradisi pembacaan Doa Asyuro pada bulan Muharram merupakan salah satu bentuk resepsi masyarakat Muslim terhadap teks-teks keagamaan yang hidup dan berkembang dalam ruang sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik pembacaan Doa Asyuro melalui pendekatan living hadis, yakni kajian hadis yang tidak hanya berhenti pada teks tertulis, melainkan diperluas pada fenomena hadis yang hidup dan dipraktikkan dalam perilaku sehari-hari masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologi agama, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap komunitas Muslim yang melanggengkan tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Doa Asyuro tidak hanya dimaknai sebagai ritual teologis untuk mencari berkah dan perlindungan, tetapi juga berfungsi sebagai perekat sosial (social bonding) yang memperkuat solidaritas kelompok dan kohesi komunal. Melalui perspektif living hadis, tradisi ini membuktikan bahwa teks hadis tidak sekadar menjadi teks yang statis di dalam kitab-kitab klasik, melainkan bertransformasi menjadi tindakan budaya yang dinamis dan sarat makna di tengah masyarakat. Penelitian ini juga menegaskan bahwa persoalan kesahihan sanad menjadi aspek sekunder di hadapan pengalaman spiritual dan fungsi sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat awam.