Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kadar Makronutrien Pada Asi Dari Ibu Yang Menyusui Bayi Berusia 4-6 Bulan Pramaningtyas, Miranti Dewi; Sukarno, Rizky Triutami; Widyaningsih, Niken; Firdaus, Hana Afifah; Putri, Fara Amalia; Kiasati, Aghnia; Safitri, Amalia Adityas Dyah; Wahdiyati, Siti; Rahmawati, Isna Arifah
Jurnal Medika Malahayati Vol 8, No 3 (2024): Volume 8 Nomor 3
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v8i3.11542

Abstract

Menyusui merupakan salah satu upaya penting untuk menjaga kesehatan anak sejak awal kehidupan. Pemberian air susu ibu (ASI) dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan imun bagi bayi. Kandungan gizi dalam ASI bersifat unik dan berbeda pada setiap bagiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar nutrisi pada foremilk, ASI tengah, dan hindmilk. Sebanyak 9 sampel ASI dari ibu yang menyusui bayi berusia 4-6 bulan diperiksa melalui uji proksimat cairan di Laboratorium Kimia Pusat Antar Universitas (PAU) Universitas Gajah Mada pada bulan Januari-Juni 2020. Sampel ASI diperoleh dari ASI perah dengan foremilk diambil sebanyak 10 ml, ASI tengah sebanyak 30 ml, dan hindmilk sebanyak 10 ml. Hasil penelitian ini menunjukkan kadar nutrisi (%) dalam foremilk, ASI tengah, dan hindmilk secara berturut-turut: karbohidrat; 7,35 ± 0,76, 7,28 ± 0,08, dan 7,38 ± 0,27, protein; 1,38 ± 0,38, 1,34 ± 0,11, dan 1,36 ± 0,17, lemak; 0,59 ± 0,53, 0,91 ± 0,37, dan 1,66 ± 0,41. Hasil analisis dengan metode one way ANOVA atau Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa  terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar lemak (p=0,016), namun tidak terdapat perbedaan signifikan pada kadar air (p=0,113), abu (p=0,700), protein (p=0,974) dan karbohidrat (p=0,670) yang terkandung dalam foremilk, ASI tengah dan hindmilk. Ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada kadar lemak ASI awal, tengah, dan akhir, meskipun tidak bersamaan dengan kadar makronutrien lain.
Tingkat Kejadian Dan Faktor Yang Berhubungan Dengan Infeksi Luka Operasi Pasca Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari Rohmah, Anita; Rahmawati, Isna Arifah
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss2.art4

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Luka Operasi (ILO) merupakan salah satu bentuk infeksi yang paling sering ditemukan pasca section caesarea (SC). Dengan semakin meningkatnya tren SC di seluruh dunia, kejadian ILO diperkirakan ikut meningkat. Hal ini perlu perhatian khusus karena ILO dapat meningkatkan risiko mortalitas dan morbiditas pasien serta meningkatkan beban biaya layanan kesehatan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi tingkat kejadian ILO dan menganalisis faktor yang berkaitan dengan kejadian ILO pasca SC di RSUD Wonosari. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analisis dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah seluruh ibu hamil yang menjalani prosedur SC di RSUD Wonosari pada bulan November 2021-Februari 2022. Hasil: Penelitian ini melibatkan 55 wanita yang melahirkan secara cesar di RSUD Wonosari dengan berbagai indikasi. Angka kejadian ILO pasca SC didapatkan sebesar 5,5%. Analisis yang dilakukan terhadap usia, tingkat pendidikan, indeks masa tubuh (IMT), riwayat penyakit kronis berupa diabetes mellitus dan hipertensi, usia kehamilan (UK), paritas, riwayat SC sebelumnya, status membran, komplikasi kehamilan berupa anemia dan preeklamsia/preeklamsia berat, tipe SC serta profilaksis sebelum prosedur pembedahan dengan kejadian ILO pasca SC, seluruhnya memberikan hasil nilai p> 0.005. Simpulan: Dari penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara berbagai faktor risiko yang diteliti dengan kejadian ILO pasca SC di RSUD Wonosari. Studi lanjutan perlu dilakukan dengan jangka waktu yang lebih lama dan jumlah subjek yang lebih besar sehingga dapat memberikan gambaran faktor risiko dengan lebih baik.   KATA KUNCI: surgical site infection, faktor risiko, section caesarea  
Maternal Risk Factors Associated with Neonatal Stunting: A Case–Control Study Rohhmah, Anita; Fitriyati, Yasmini; Zahra, Afifah Az; Rahmawati, Isna Arifah
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 14. No. 1 January 2026
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v14i1.2465

Abstract

AbstractObjective: To identify maternal risk factors associated with neonatal stunting at Wonosari Hospital. Methods: A case–control study was conducted involving mothers who gave birth at Wonosari Hospital in 2023. Maternal sociodemographic characteristics (age, education, and occupation), nutritional status (body mass index and mid-upper arm circumference), and pregnancy-related factors (gestational age, gestational status, hemoglobin levels, blood pressure, pregnancy complications, and mode of delivery), as well as newborn length at birth, were obtained from medical records. Neonatal stunting was defined as a length-for-age z-score < ?2 SD according to World Health Organization (WHO) standards. Statistical analysis was performed using chi-square tests and multiple logistic regression. Results: A total of 154 participants were included, equally divided into case (stunted newborns) and control (non-stunted newborns) groups. Mothers with a lower educational level had significantly higher odds of delivering a stunted newborn (p= 0.010; aOR = 2.845; 95% CI = 1.286–6.293). Preterm birth was also associated with an increased risk of neonatal stunting (p= 0.033; aOR = 9.847; 95% CI = 1.210–80.152). In addition, pregnancy complications were significantly associated with higher odds of neonatal stunting (p = 0.020; aOR = 2.728; 95% CI = 1.171–6.352). Conclusion: Maternal factors, including low educational level, preterm birth, and pregnancy complications, were significantly associated with neonatal stunting at Wonosari Hospital. These findings underscore the importance of maternal education in neonatal health outcomes. Furthermore, close monitoring of fetal growth and nutritional status, along with appropriate management of pregnancy complications, may help reduce the risk of neonatal stunting. However, larger-scale studies are needed to assess the population-level impact of these factors. Keywords: neonatal, pregnancy complication, stunting.