Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Influence Of Gasoline’s Aromatic Content On Engine Combustion Chamber Deposit Forming Djainuddin Semar; Nur Ahadiat
Scientific Contributions Oil and Gas Vol. 30 No. 1 (2007): SCOG
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aromatic content in gasoline fuels should be limited due to its influencies to the cleanessof engine combustion chamber and emission of carbon monoxide, carbon dioxide andhidrocarbon. Ussually the highest aromatic content mean more higher its benzene contentand it will couse increase of air pullotion. According to specification of gasoline 91 (SKNo. 3674 k/24/DJM/2006), maximum aromatic content is 50 % volume. Those specificationconform to catagory 1 of World Wide Fuel Charter (WWFC). However, aromatic and ben-:ene content test on domestic gasoline in Indonesia obviously fulfil maximum limit for gaso-line catagory 2 of WWCF. Effect of several volume variaties of aromatic content in gaso-line 91 againts deposit development and cleaness (rating) of engine combution chamber■will be discuss in this paper.
THE EFFECT ADDITION OF LSWR INTO FUEL OILS AGAINST ALTERATION ITS PHYSICALS AND CHEMICALS PROPERTIES Djainuddin Semar; Nur Ahadiat
Scientific Contributions Oil and Gas Vol. 30 No. 3 (2007): SCOG
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

To fulfill yearly increase National demand for fuel oils (FO), therefor this paperconducted to researched the posibility added loiv sulfur -wax residue (LSWR) into Nationalfuel oil comersial to some percentage volume againts its characteristic changes. Base on its pour point, the fuel oils modification formula, named FO-90 that has pourpoint 90pF, this formula content 6% volume LSWR. The laboratory test result, shown that nearly all characteristic fuel oils modification isconform with current domestic fuel oils specification 2, issued by Directorate GeneralOils and Gas on behalf of Indonesian goverment in their SK No. 03/P/DM/MIGAS/1986dated April 14, 1986. This paper proposes fuel oils specification, as input for government policy in reformu-lation of Indonesian fuel oils specification which confirm with International fuel oil speci-fication. Key words: Pour point, viscosity, LSWR.
Meramu Bensin Ramah Lingkungan dengan Pemanfaatan Butanol Djainuddin Semar; Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Butanol adalah suatu alkohol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin bensin padapembakaran internal tanpa modifikasi mesin.Keuntungan dari butanol adalah angka oktana dan kandungan energinya tinggi, hanya sekitar10% lebih rendah daripada bensin. Butanol adalah hidrokarbon rantai panjang bersifat non-polar,tidak larut dalam air dan titik nyalanya tinggi, serta mempunyai tekanan uap rendah (0,3 psi).Kelemahan utama butanol adalah bersifat toksisitas, dan kenyataan pada proses fermentasibutanol (dapat dibuat dari ganggang, mahkota dewa, buah naga) memancarkan bau busuk.Membuat butanol dari minyak tidak menghasilkan bau tersebut, namun pasokan terbatas.Pengujian kinerja sepeda motor di atas dinamometer sasis. Hasil uji daya rata-rata terhadapwaktu akselerasi rata-rata mesin sepeda motor yang berbahan bakar bensin yang mengandung10% volume butanol (Bu10 ) lebih rendah 3,4% dibandingkan ketika memakai bensin yang tidakmengandung butanol (Bu0 ). Hasil uji konsumsi bahan bakar Bu10 dibandingkan dengan bensinBu 0 adalah meningkat 2,13%, sedangkan emisi gas buang nitrogen oksida, karbon monoksida,hidrokarbon dan karbon dioksida masing-masing lebih rendah.
Penelitian Sensitivitas Angka Oktana Bensin yang Beredar di Indonesia Djainuddin Semar; Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sensitivitas adalah selisih antara angka oktana riset dan angka oktana motor dari bensin. Sensitivitas bahan bakar bensin merupakan ukuran seviritas operasi dari mesin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sensitivitas tiga jenis bensin yaitu bensin 88 bertimbal dan tanpa timbal, bensin 91 (Pertamax) dan bensin 95 (Pertamax Plus) yang dipasarkan di Indonesia. Penelitian ini memakai 16 percontoh bensin dari Pertamina (Depot dan SPBU) dari 5 propinsi di Indonesia. Hasil analisis sensitivitas (S) percontoh bensin Indonesia adalah sebagai berikut: bensin 88 bertimbal S = 3,2 – 5,1; bensin 88 tanpa timbal S = 10,6 – 11,4; bensin 91 (Pertamax) S = 10,5 – 12,6; bensin (Pertamax Plus) S = 12,5 – 13,0.
Pengaruh Viskositas dan Kandungan Sulfur dalam Minyak Solar terhadap Sifat Lubrisitas Minyak Solar Indonesia Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan sulfur dalam minyak solar memberikan pengaruh negatif pada emisi gas buang dan memberikan pengaruh positif pada pelumasan injeksi mesin diesel. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kandungan sulfur dan viskositas terhadapsifat lubrisitas minyak solar. Hasil-hasil analisis kandungan sulfur, viskositas menunjukkan bahwa perubahan kandungan sulfur dan viskositas mempunyai korelasi terhadap sifat lubrisitas minyak solar. Sifat lubrisitas tidak berhubungan langsung terhadap kandungan sulfur tetapi beberapa komponen organik sulfur dalam minyak solar dapat mencegah keausan pada permukaan logam yang bergesakan. Komponen sulfur yang memberikan perlindungan terhadap permukaan logam tersebut adalah polycyclic aromatic yang mengikat oksigen, sulfur dan nitrogen. Studi ini memakai 17 sampel yang diambil dari Depot dan SPBU Pertamina di 17 propinsi di Indonesia. Hasil-hasil dari studi ini diuraikan secara lengkap pada tulisan ini.
PERKEMBANGAN BAHAN BAKAR SOLAR DAN SPESIFIKASI WWFC SERTA PENGARUHNYA BAGI INDONESIA Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain motor diesel saat ini cenderung memakai prinsip pembakaran miskin, motor multikatup, turbo/supercharging, injeksi bahan bakar multiport, kenaikan perbandingan kompresi, knock limiting control dan multi bahan bakar. Disamping itu pembuat mesin berusaha meningkatkan kinerja (performance) mesin, hemat bahan bakar dan mengurangi kadar emisi gas buangnya.
Efek Minyak Tanah dalam Minyak Solar 48 terhadap Sifat-Sifat Fisika/Kimia dan Kinerja Mesin Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengamati perubahan sifat-sifat fisika/kimia dan kinerja mesin yang memakai dua jenis bahan bakar yaitu minyak solar tanpa dicampur dengan minyak tanah dan minyak solar yang dicampur dengan minyak tanah. Minyak solar dan minyak tanah yang dipakai dalam studi ini berasal dari Pertamina. Hasil analisis minyak solar yang dicampur dengan minyak tanah menunjukkan bahwa sifat sifat fisika/kimia dan kinerja mesin lebih rendah daripada minyak solar tanpa dicampur minyaktanah. Hasil studi ini sebagai masukan ke Pemerintah dalam menentukan mutu minyak solar dan penempatan spesifikasi minyak solar mendatang.
Penelitian Pengaruh Pemanfatan LCO dalam Minyak Solar terhadap Sifat Fisika/Kimia dan Kinerja Mesin Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil pengujian percontoh minyak Solar yang mengandung 3,5% volume LCO akan menurunkan angka setana minyak Solar sebesar 0.74. Perubahan sifat-sifat fisika/kimia percontoh yang mengandung LCO tetap memenuhi spesifikasi minyak Solar yang berlaku di Indonesia. Pengujian kinerja mesin di bangku uji multisilinder Isuzu C-223 dilakukan dengan menggunakan empat jenis minyak Solar yaitu minyak Solar (MS-b) dan minvak Solar yang dicampur dengan LCO (MS-bl, MS-b2, MS-b3). Kinerja minyak Solar yang mengandung LCO turun dibanding dengan minyak solar yang tidak mengandung LCO.
Perkembangan Spesifikasi Bensin Indonesia dan Spesifikasi WWFC serta Pengaruhnya Bagi Industri Migas Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi bahan bakar fosil terutama minyak bumi untuk kebutuhan sektor transportasi dan bahan petrokimia belum mampu tergantikan oleh sumber energi lainnya, sehingga diperlukan usaha konservasi. Spesifikasi bahan bakar minyak jenis bensin yang dipasarkan dalam negeri menurut surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 3674 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006 adalah salah satu bahan bakar minyak konservasi energi dengan penambahan ether atau etanol ke dalam bahan bakar bensin. Spesifikasi bensin Indonesia harus dikaji ulang secara berkala untuk disesuaikan dengan perkembangan teknologi mesin, lingkungan hidup, konservasi energi dan beberapa karakteristik dan metode uji harus disesuaikan pula dengan spesifikasi bensin internasional EURO dan dari organisasi pembuat bensin dan mesin otomotif yang dikenal dengan World Wide Fuel Charter (WWFC). WWFC memberikan arah global harmonisasi bensin di seluruh dunia.
Pengaruh MTBE dan TEL Terhadap Sifat Fisika - Kimia Bensin Dasar Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bensin dasar yang dipakai pada percobaan ini dibuat dari campuran 65% volume reformat, 13% volume SRN, dan 22% volume nafta ringan. Untuk menaikan angka oktana riset dari 78,0 menjadi 87,0 diperlukan penambahan 1,80 ml/USG TEL atau 21,6% volume MTBE. Ada dua keuntungan yang didapat pada penggunaan MTBE dan TEL di dalam bensin dasar di Indonesia, yaitu meningkatkan kualitas angka oktana dan mengurangi penambahan TEL di dalam Bensin.