Pallawagau La Puppung
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Kapok Seed Oil As Viscosity Index Improved Pallawagau La Puppung
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 10 No 3 (1987)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.10.3.897

Abstract

Production, supply and development of hubricating oils for domestic use are carried out in Indonesia using domestie bate ofls and imported additives. Research on the use of kapok seed oill as a viscosity index improver for lubricating oll is as an effort for supply and development of lubricating oll additive which is produced in the country. Resuls of physical and chemical properties analysis indicate that kapok seed oil can be used Ea viscosity index improver.
BIODIESEL AS A LUBRICITY ADDITIVE FOR DIESEL FUEL Pallawagau La Puppung
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 30 No 2 (2007)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.30.2.984

Abstract

Sulfur in diesel fuel will influence particulate matter emission either in exhaust gasflow or in atmosphere. The other effect of sulfur it can cause corrosion and engine wear.Further, sulfur also can influence on catalytic system in exhaust pipe. Due to this reasonsulfur level in diesel fuel should be set as lower as possible. The process can be used toreduce sulfur level is desulfurization process (hydrotreatment). At the hydrotreatment todesulfurize diesel fuel, lubricity can decrease, it is cause by reduction of fuel componentswhich have good natural lubricity.Lubricity, is very relevant to the satisfactory operation of diesel fuel engines whichrelay on the fuel to lubricate many of the moving and rubbing metal parts of the fuelinjection equipment. Some injection equipment may be at risk if operated on fuels of lowlubricity.Biodiesel as results of transesterification has a good lubricity, the test results of addingbiodiesel into a lower lubricity of diesel fuel indicate that biodiesel can be used to increasediesel fuel lubricity.
Penelitian Sensitivitas Angka Oktana Bensin yang Beredar di Indonesia Djainuddin Semar; Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 42 No 1 (2008)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.42.1.84

Abstract

Sensitivitas adalah selisih antara angka oktana riset dan angka oktana motor dari bensin. Sensitivitas bahan bakar bensin merupakan ukuran seviritas operasi dari mesin Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sensitivitas tiga jenis bensin yaitu bensin 88 bertimbal dan tanpa timbal, bensin 91 (Pertamax) dan bensin 95 (Pertamax Plus) yang dipasarkan di Indonesia. Penelitian ini memakai 16 percontoh bensin dari Pertamina (Depot dan SPBU) dari 5 propinsi di Indonesia. Hasil analisis sensitivitas (S) percontoh bensin Indonesia adalah sebagai berikut: bensin 88 bertimbal S = 3,2 – 5,1; bensin 88 tanpa timbal S = 10,6 – 11,4; bensin 91 (Pertamax) S = 10,5 – 12,6; bensin (Pertamax Plus) S = 12,5 – 13,0.
ANALISA KONSUMSI BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BENSIN DIATAS CHASSIS DYNAMOMETER Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 1 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.1.654

Abstract

Dalam perjalanan setiap pemakai kendaraan selalu menginginkan agar ia dapat berjalan dengan lancar di jalan raya. Kendaraannnya dapat melaju dengan kecepatan tinggi sehingga dapat sampai ketujuan dalam waktu yang singkat. Namun kenyataan berbeda dengan harapan, terutama dikota-kota besar kendaraan merayap pada jam-jam sibuk. Kondisi operasi mesin stop dan jalan terjadi kendaraan berjalan dengan sangat lambatpada kecepatan antara 0 sampai dengan 20 km per jam dengan posisi gigi persneling 1 sampai 2.
Studi Pengembangan Spesifikasi Marine Fuel Indonesia Rasdinal Ibrahim; Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.738

Abstract

Sebagai negara kepulauan, sampai saat ini Indo- nesia belum mempunyai spesifikasi khusus untuk bahan bakar perkapalan (marine fuel). Kapal-kapal niaga, kargo dan tanker yang berlayar di perairan In- donesia umumnya menggunakan bahan bakar minyak diesel (IDO), minyak bakar (FO), dan minyak solar (HSD), sedangkan kapal-kapal kecil, ferry dan nelayan menggunakan minyak solar sebagai bahan bakar. Kebutuhan BBM untuk mesin diesel nasional pada tahun 2004 masing-masing diperkirakan sebagai berikut: HSD 24,6 juta KL, IDO 1,2 juta KL, dan FO sebesar 6,8 juta KL. Penggunaan minyak diesel di Indonesia sangat beragam, baik untuk mesin diesel industri, pembakaran langsung melalui burner di dapur industri, pembangkit listrik, maupun mesin diesel perkapalan. Sedangkan dalam spesifikasi BBM nasional hanya ada satu grade minyak diesel, sehingga konsumen harus menyesuaikan kebutuhan bahan bakarnya dengan bahan bakar yang tersedia di pasaran, walaupun mungkin terdapat kekurangan dalam efisiensi dan kinerja mesinnya. Dalam memasuki era globalisasi, dan diberlakukannya UU Migas No. 22 Tahun 2001 serta terbukanya sektor hilir migas, di mana selain PERTAMINA pihak swasta nasional dan asing dapat memasarkan BBM di dalam negeri, maka kebutuhan bahan bakar diesel perkapalan (marine fuel) akan dipasok pihak swasta melalui impor dari luar negeri. Mengingat makin banyaknya permintaan marine fuel dari kapal-kapal nasional maupun asing yang singgah dan mengisi bahan bakarnya di pelabuhan Indone- sia, maka di pandang perlu menyediakan bahan bakar perkapalan yang memenuhi persyaratan spesifikasi marine fuel internasional Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah perlu meninjau kembali spesifikasi minyak diesel In- donesia, kemungkinan pengembangannya sesuai spesifikasi di dunia internasional, termasuk penyediaan spesifikasi khusus untuk marine fuel, dengan tetap memperhatikan kemampuan kilang dalam negeri untuk penyediaannya serta memenuhi persyaratan lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi "LEMIGAS" sebagai pusat litbang, berfungsi memberi masukan bagi kebijakan Pemerintah di bidang migas termasuk dalam penetapan spesifikasi BBM nasional, sehingga spesifikasi yang ditetapkan telah melalui pengkajian teknologi sebelum diterapkan secara nasional. Makalah ini merupakan suatu kajian awal pengembangan spesifikasi marine fuel Indonesia, yang membahas beberapa spesifikasi marine fuel internasional sebagai acuan, kemampuan kilang dalam negeri untuk penyediaannya, dan memenuhi persyaratan lingkungan, sebagai masukan bagi kebijakan pemerintah dalam menetapkan spesifikasi BBM nasional khususnya spesifikasi marine fuel Indonesia.
Efek Pemakaian Aditif Deterjen EF terhadap Kebersihan Nosel Injektor Motor Diesel Injeksi Langsung Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.739

Abstract

Seperti telah diketahui bahwa bahan bakar dapat terbakar hanya dalam bentuk uap, pada motor diesel perubahan bahan bakar dari cair menjadi uap terjadi pada saat bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang bakar motor diesel. Selama injeksi, bahan bakar harus diatomisasikan dengan baik dan tercampur dengan udara yang panas sehingga terjadi penyalaan sendiri secara merata dalam waktu yang singkat. Untuk mendapatkan kinerja optimum bahan bakar, maka atomisasi bahan bakar harus berlangsung sempurna dan membentuk pola injeksi yang normal seperti kerucut yang utuh. Injeksi bahan bakar ke dalam ruang bakar motor diesel dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu injeksi tidak langsung (indirect injection, IDI) dan injeksi langsung (direct injection, DI). Untuk mendapatkan turbulensi dan campuran udara bahan bakar yang baik, maka kedua sistem injeksi bahan bakar ini menggu- nakan ruang bakar dan nosel injektor yang berbeda. Pada injeksi tidak langsung, bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang muka atau pusaran (swirl chamber) dengan nosel injektor berlubang satu atau nosel pasak (pintle nozzle), selanjutnya dari ruang pusaran tersebut gas pembakaran dialirkan ke ruang bakar utama. Sedangkan motor diesel injeksi langsung menggunakan ruang bakar terbuka dengan nosel injektor berlubang banyak (multi holes nozzle), bahan bakar diinjeksikan langsung ke dalam ruang bakar utama. Setelah motor diesel dioperasikan dalam waktu yang lama akan terbentuk deposit karbon pada nosel injektor, ruang bakar dan katup-katup motor diesel. Deposit karbon pada nosel injektor akan mempengaruhi debit aliran bahan bakar, pola semprotan bahan bakar, efisiensi mesin dan emisi gas buang. Untuk membersihkan deposit yang sudah terbentuk (clean up) pada bagian-bagian tertentu mesin kendaraan yang sudah lama beroperasi atau menjaga kebersihan (keep clean) bagian-bagian tersebut seperti pada nosel injektor kendaraan baru. Dalam studi ini dipergunakan aditif deterjen EF untuk keep clean pada kendaraan baru. Dalam pelaksana- an penelitian ini digunakan dua buah kendaraan baru bermotor diesel injeksi langsung yang dioperasikan secara berpasangan. Satu kendaraan menggunakan minyak solar tanpa aditif (STA) dan pasangannya menggunakan minyak solar ditambah aditif deterjen EF (SEF). Kedua kendaraan tersebut dioperasikan secara normal melalui trayek tertentu hingga mencapai akumulasi jarak tempuh 15.000 km. Dari hasil-hasil pengukuran kebersihan nosel injektor yang dilakukan pada awal dan akhir uji jalan, ternyata nosel injektor SEF lebih bersih dari pada STA.
Penelitian Kebutuhan Angka Oktana kendaraan Bermotor Bensin Pallawagau La Puppung
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 38 No 2 (2004)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.38.2.749

Abstract

Angka oktana suatu bensin adalah salah satu karakter yang menunjukkan mutu bakar bensin tersebut, yang dalam prakteknya menunjukkan ketahanan terhadap ketukan (knocking). Suatu bensin harus mempunyai mutu bakar yang baik agar mesin dapat beroperasi dengan mulus, efisien dan bebas dari pembakaran tidak normal selama pemakaiannya. Setiap kendaraan mempunyai kebutuhan angka oktana tertentu. Kebutuhan angka oktana kendaraan bermotor bensin tidak sama antara satu merek dengan merek lainnya atau antara satu tipe dengan tipe lainnya untuk merek yang sama, tergantung pada perbandingan kompresi mesin dan faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap kebutuhan angka oktana. Pengujian kebutuhan angka oktana kendaraan bertujuan untuk mengetahui tingkat angka oktana suatu kendaraan. Dengan diketahuinya kebutuhan angka oktana suatu kendaraan, maka secara teknis dapat ditentukan level angka oktana bensin yang akan digunakan untuk kendaraan tersebut. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian kebutuhan angka oktana terhadap enam kendaraan yang terdiri dari tiga merek dan setiap merek digunakan dua kendaraan yang mempunyai tipe yang sama.