Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

BIODIESEL AS A LUBRICITY ADDITIVE FOR DIESEL FUEL Pallawagau La Puppung
Scientific Contributions Oil and Gas Vol. 30 No. 2 (2007): SCOG
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sulfur in diesel fuel will influence particulate matter emission either in exhaust gasflow or in atmosphere. The other effect of sulfur it can cause corrosion and engine wear.Further, sulfur also can influence on catalytic system in exhaust pipe. Due to this reasonsulfur level in diesel fuel should be set as lower as possible. The process can be used toreduce sulfur level is desulfurization process (hydrotreatment). At the hydrotreatment todesulfurize diesel fuel, lubricity can decrease, it is cause by reduction of fuel componentswhich have good natural lubricity.Lubricity, is very relevant to the satisfactory operation of diesel fuel engines whichrelay on the fuel to lubricate many of the moving and rubbing metal parts of the fuelinjection equipment. Some injection equipment may be at risk if operated on fuels of lowlubricity.
Penelitian Sensitivitas Angka Oktana Bensin yang Beredar di Indonesia Djainuddin Semar; Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sensitivitas adalah selisih antara angka oktana riset dan angka oktana motor dari bensin. Sensitivitas bahan bakar bensin merupakan ukuran seviritas operasi dari mesin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sensitivitas tiga jenis bensin yaitu bensin 88 bertimbal dan tanpa timbal, bensin 91 (Pertamax) dan bensin 95 (Pertamax Plus) yang dipasarkan di Indonesia. Penelitian ini memakai 16 percontoh bensin dari Pertamina (Depot dan SPBU) dari 5 propinsi di Indonesia. Hasil analisis sensitivitas (S) percontoh bensin Indonesia adalah sebagai berikut: bensin 88 bertimbal S = 3,2 – 5,1; bensin 88 tanpa timbal S = 10,6 – 11,4; bensin 91 (Pertamax) S = 10,5 – 12,6; bensin (Pertamax Plus) S = 12,5 – 13,0.
Uji Ketahanan Biodiesel Selama 60 Jam pada Mesin Diesel Stasioner Injeksi Langsung Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak nabati dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel baik sebagai minyak nabati yang murni atau sebagai metil ester asam lemak dari minyak nabati. Metil ester asam lemak dari minyak nabati adalah suatu hasil dari transesterifikasi minyak nabati, yang disebut biodiesel. Dan 100% biodiesel disebut B100, 100% minyak solar disebut B00 dan campuran B100 dengan B00 disebut Bxx (di mana xx adalah persentase B100 dalam campuran). Pada pengujian ini digunakan B30. Secara umum, uji coba minyak nabati sebagai bahan bakar diesel telah dilaksanakan dengan menggunakan mesin diesel injeksi tidak langsung sesuai dengan populasi mesin diesel untuk otomotif pada waktu itu. Sedangkan pada saat ini penggunaan mesin diesel untuk otomotif telah berkembang ke arah pemakaian mesin diesel injeksi langsung. Mesin diesel injeksi tidak langsung dapat dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar bermutu lebih rendah dibandingkan dengan mesin diesel injeksi langsung. Ini memerlukan perhatian sebab biodiesel bermutu lebih rendah dari minyak solar. Hasil-hasil uji kinerja dan ketahanan B30 dibandingkan dengan B00 pada mesin diesel injeksi langsung menunjukkan torsi dan daya mesin lebih rendah, sedangkan konsumsi bahan bakar spesifik lebih tinggi. Emisi CO, HC dan opasitas gas buang lebih rendah, tetapi emisi NOx lebih tinggi. Deposit injektor, piston, katup-katup dan kepala silinder lebih tinggi.
ANALISA KONSUMSI BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BENSIN DIATAS CHASSIS DYNAMOMETER Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perjalanan setiap pemakai kendaraan selalu menginginkan agar ia dapat berjalan dengan lancar di jalan raya. Kendaraannnya dapat melaju dengan kecepatan tinggi sehingga dapat sampai ketujuan dalam waktu yang singkat. Namun kenyataan berbeda dengan harapan, terutama dikota-kota besar kendaraan merayap pada jam-jam sibuk. Kondisi operasi mesin stop dan jalan terjadi kendaraan berjalan dengan sangat lambatpada kecepatan antara 0 sampai dengan 20 km per jam dengan posisi gigi persneling 1 sampai 2.
Pengaruh Perubahan Gravitasi Spesifik Bensin Premium terhadap Sifat-Sifat Fisika Kimianya Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1. Perubahan gravitasi spesifik mempunyai korelasi yang kuat terhadap perubahan angka oktana, distilasi dan RVP, terutama pada pencampuran bensin Premium dengan minyak tanah. Sedangkan perubahan gravitasi spesifik pada penguapan, pengaruhnya lebih rendah dibandingkan dengan pencampuran bensin dengan minyak tanah. Pengaruhnya lebih menonjol pada perubahan angka oktana dan RVP, karena fraksi ringan mempunyai angka oktana dan RVP yang tinggi.2. Dengan hasil-hasil ini, maka pengujian gravitasi spesifik dapat digunakan untuk menilai bensin Premium pada saat pemeriksaan di Depot atau SPBU.3. Selanjutnya untuk batasan perubahan gravitasi spesifik yang masih dapat diterima adalah sebagai berikut:a. Percontoh bensin Premium Kilang K1, angka oktana 88.0 RON, gravitasi spesifik 0.7237 dicampur dengan minyak tanah yang mempunyai gravitasi spesifik 0.8153, dengan konsentrasi minyak tanah lebih dari 2.9%, memberikan perubahan gravitasi spesifik sebesar 0.0021, dan akan menyebabkan RON serta distilasi melampaui batas-batas spesifikasi bensin Premium.b. Percontoh bensin Premium Kilang K2 , dengan angka oktana 88.0 RON, gravitasi spesifik 0.7499 dicampur dengan minyak tanah yang mempunyai gravitasi spesifik 0.8166, dengan konsentrasi minyak tanah lebih dari 4.7% memberikan perubahan gravitasi spesifik sebesar 0.0027, dan akan menyebabkan RON dan distilasi melampaui batas-batas spesifikasi bensin Premium.c. Percontoh bensin Premium TT Kilang K3 , dengan angka oktana 89.0 RON, dan gravitasi spesifik 0.7373, dicampur dengan minyak tanah yang mempunyai gravitasi spesifik 0.8186, dengan konsentrasi minyak tanah lebih dari 2.7% memberikan perubahan gravitasi spesifik sebesar 0.0030, dan akan menyebabkan RON serta distilasi melampaui batas-batas spesifikasi bensin Premium TT.
Studi Pengembangan Spesifikasi Marine Fuel Indonesia Rasdinal Ibrahim; Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai negara kepulauan, sampai saat ini Indo- nesia belum mempunyai spesifikasi khusus untuk bahan bakar perkapalan (marine fuel). Kapal-kapal niaga, kargo dan tanker yang berlayar di perairan In- donesia umumnya menggunakan bahan bakar minyak diesel (IDO), minyak bakar (FO), dan minyak solar (HSD), sedangkan kapal-kapal kecil, ferry dan nelayan menggunakan minyak solar sebagai bahan bakar. Kebutuhan BBM untuk mesin diesel nasional pada tahun 2004 masing-masing diperkirakan sebagai berikut: HSD 24,6 juta KL, IDO 1,2 juta KL, dan FO sebesar 6,8 juta KL. Penggunaan minyak diesel di Indonesia sangat beragam, baik untuk mesin diesel industri, pembakaran langsung melalui burner di dapur industri, pembangkit listrik, maupun mesin diesel perkapalan. Sedangkan dalam spesifikasi BBM nasional hanya ada satu grade minyak diesel, sehingga konsumen harus menyesuaikan kebutuhan bahan bakarnya dengan bahan bakar yang tersedia di pasaran, walaupun mungkin terdapat kekurangan dalam efisiensi dan kinerja mesinnya. Dalam memasuki era globalisasi, dan diberlakukannya UU Migas No. 22 Tahun 2001 serta terbukanya sektor hilir migas, di mana selain PERTAMINA pihak swasta nasional dan asing dapat memasarkan BBM di dalam negeri, maka kebutuhan bahan bakar diesel perkapalan (marine fuel) akan dipasok pihak swasta melalui impor dari luar negeri. Mengingat makin banyaknya permintaan marine fuel dari kapal-kapal nasional maupun asing yang singgah dan mengisi bahan bakarnya di pelabuhan Indone- sia, maka di pandang perlu menyediakan bahan bakar perkapalan yang memenuhi persyaratan spesifikasi marine fuel internasional Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah perlu meninjau kembali spesifikasi minyak diesel In- donesia, kemungkinan pengembangannya sesuai spesifikasi di dunia internasional, termasuk penyediaan spesifikasi khusus untuk marine fuel, dengan tetap memperhatikan kemampuan kilang dalam negeri untuk penyediaannya serta memenuhi persyaratan lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi "LEMIGAS" sebagai pusat litbang, berfungsi memberi masukan bagi kebijakan Pemerintah di bidang migas termasuk dalam penetapan spesifikasi BBM nasional, sehingga spesifikasi yang ditetapkan telah melalui pengkajian teknologi sebelum diterapkan secara nasional. Makalah ini merupakan suatu kajian awal pengembangan spesifikasi marine fuel Indonesia, yang membahas beberapa spesifikasi marine fuel internasional sebagai acuan, kemampuan kilang dalam negeri untuk penyediaannya, dan memenuhi persyaratan lingkungan, sebagai masukan bagi kebijakan pemerintah dalam menetapkan spesifikasi BBM nasional khususnya spesifikasi marine fuel Indonesia.
Efek Pemakaian Aditif Deterjen EF terhadap Kebersihan Nosel Injektor Motor Diesel Injeksi Langsung Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seperti telah diketahui bahwa bahan bakar dapat terbakar hanya dalam bentuk uap, pada motor diesel perubahan bahan bakar dari cair menjadi uap terjadi pada saat bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang bakar motor diesel. Selama injeksi, bahan bakar harus diatomisasikan dengan baik dan tercampur dengan udara yang panas sehingga terjadi penyalaan sendiri secara merata dalam waktu yang singkat. Untuk mendapatkan kinerja optimum bahan bakar, maka atomisasi bahan bakar harus berlangsung sempurna dan membentuk pola injeksi yang normal seperti kerucut yang utuh. Injeksi bahan bakar ke dalam ruang bakar motor diesel dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu injeksi tidak langsung (indirect injection, IDI) dan injeksi langsung (direct injection, DI). Untuk mendapatkan turbulensi dan campuran udara bahan bakar yang baik, maka kedua sistem injeksi bahan bakar ini menggu- nakan ruang bakar dan nosel injektor yang berbeda. Pada injeksi tidak langsung, bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang muka atau pusaran (swirl chamber) dengan nosel injektor berlubang satu atau nosel pasak (pintle nozzle), selanjutnya dari ruang pusaran tersebut gas pembakaran dialirkan ke ruang bakar utama. Sedangkan motor diesel injeksi langsung menggunakan ruang bakar terbuka dengan nosel injektor berlubang banyak (multi holes nozzle), bahan bakar diinjeksikan langsung ke dalam ruang bakar utama. Setelah motor diesel dioperasikan dalam waktu yang lama akan terbentuk deposit karbon pada nosel injektor, ruang bakar dan katup-katup motor diesel. Deposit karbon pada nosel injektor akan mempengaruhi debit aliran bahan bakar, pola semprotan bahan bakar, efisiensi mesin dan emisi gas buang. Untuk membersihkan deposit yang sudah terbentuk (clean up) pada bagian-bagian tertentu mesin kendaraan yang sudah lama beroperasi atau menjaga kebersihan (keep clean) bagian-bagian tersebut seperti pada nosel injektor kendaraan baru. Dalam studi ini dipergunakan aditif deterjen EF untuk keep clean pada kendaraan baru. Dalam pelaksana- an penelitian ini digunakan dua buah kendaraan baru bermotor diesel injeksi langsung yang dioperasikan secara berpasangan. Satu kendaraan menggunakan minyak solar tanpa aditif (STA) dan pasangannya menggunakan minyak solar ditambah aditif deterjen EF (SEF). Kedua kendaraan tersebut dioperasikan secara normal melalui trayek tertentu hingga mencapai akumulasi jarak tempuh 15.000 km. Dari hasil-hasil pengukuran kebersihan nosel injektor yang dilakukan pada awal dan akhir uji jalan, ternyata nosel injektor SEF lebih bersih dari pada STA.
Penelitian Kebutuhan Angka Oktana kendaraan Bermotor Bensin Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka oktana suatu bensin adalah salah satu karakter yang menunjukkan mutu bakar bensin tersebut, yang dalam prakteknya menunjukkan ketahanan terhadap ketukan (knocking). Suatu bensin harus mempunyai mutu bakar yang baik agar mesin dapat beroperasi dengan mulus, efisien dan bebas dari pembakaran tidak normal selama pemakaiannya. Setiap kendaraan mempunyai kebutuhan angka oktana tertentu. Kebutuhan angka oktana kendaraan bermotor bensin tidak sama antara satu merek dengan merek lainnya atau antara satu tipe dengan tipe lainnya untuk merek yang sama, tergantung pada perbandingan kompresi mesin dan faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap kebutuhan angka oktana. Pengujian kebutuhan angka oktana kendaraan bertujuan untuk mengetahui tingkat angka oktana suatu kendaraan. Dengan diketahuinya kebutuhan angka oktana suatu kendaraan, maka secara teknis dapat ditentukan level angka oktana bensin yang akan digunakan untuk kendaraan tersebut. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian kebutuhan angka oktana terhadap enam kendaraan yang terdiri dari tiga merek dan setiap merek digunakan dua kendaraan yang mempunyai tipe yang sama.
Pengaruh Angka Setana Minyak Solar terhadap Kinerja Mesin Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada motor diesel, temperatur uadar tekan di dalam silinder yang tinggi menvebabkan bahan bakar menvala. Dengan piston udara diisap masuk ke dalam silinder mesin pada langkah isap, kemudian dimampatkan hingga mencapai tekanan yang tinggi pada temperatur yang di atas titik nvala bahan bakar pada langkah kompresi. Pada akhir langkah kompresi, beberapa derajat sebelum titik mati atas bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara tekan tersebut. Selama injeksi, minvak solar harus diatomisasikan dengan baik dan tercampur dengan udara yang panas sehingga teriadi penvalaan merata secepatnva di dalam ruang bakar. Tetapi berbeda dengan apa yang terjadi, setelah partikel bahan bakar kontak dengan udara, bahan bakar tidak segera menvala. Ada penundaan penvalaan, jika penundaan penyalaan ini terlalu lama, terlalu banvak bahan bakar dapat terakumulasi yang menvebabkan tingkat kenaikan tekanan terjadi secara tiba-tiha, terjadi detonasi dekat pada awal pembakaran. Agar supava tendensi ketukan berkurang. perlu menurunkan penundaan penvalaan dan sekaligus mengurangi jumlah bahan bakar yang ada ketika pembakaran aktual tetesan pertama dimulai. Periode penundaan penvalaan ini sangat tergantung kepada kualitas penvalaan bahan bakar: yaitu angka setana. Bahan bakar yang mempunvai angka setana yang tinggi memiliki penundaan penyalaan yang lehih pendek, dengan demikian mempunvai tendensi teriadinva ketukan yang rendah. Hasil-hasil penguiian kinerja mesin dengan menggunakan empat percontoh bahan bakar yang mempunvai angka setana rang herbeda-beda menunjukkan pada saat digunakan minyak solar yang mempunvai angka setana lebih rendah bunvi mesin lebih kasar, torsi dan dava lebih rendah sedangkan konsumsi bahan bakar lebih tinggi.
Pemanfaatan Gas dari Gasifikasi Biomassa sebagai suatu Sumber Energi Alternatif Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gasifikasi biomassa merupakan suatu proses konversi bahan selulosik padat yang kering di salam suatu gasifier menjadi gas yang dapat dibakar. Proses ini terjadi secara bertahap di dalam gasifier yang sama dan selam aproses bahan baku mengalami empat macam proses, yaitu : pengeringan, pirolisis, oksidasi atau pembakaran organik basah sebagai bahan baku dan bekerjadengan menggunakan aksi mikrobiologi.